Carabiner

Setiap pemanjat pasti tidak asing lagi dengan yang namanya carabiner. Carabiner adalah alat yang digunakan untuk mengaitkan tali ke hanger, tali ke tali atau tali ke harness. Intinya, dalam pemanjatan carabiner sangat berperan untuk sistem keamanan pemanjat. Pada tulisan kali ini, saya akan membahas berbagai semua hal tentang carabiner.

Secara definisi, carabiner adalah lingkaran tertutup yang dibuat dari bahan aluminium alloy yang terhubung dengan pin atau screw gate. Sebelum masuk kepada jenis-jenis carabiner, terlebih dahulu harus dipahami tentang bagian-bgian dari carabiner itu sendiri. Berikut adalah gambar carabiner utuh:



Bagian-bagian Carabiner
Secara umum, bagian-bagian carabiner bisa dibedakan menjadi:
Gate
  1. Frame Ujung Atas
  2. Frame Ujung Bawah
  3. Spine Frame
Jika dilihat dari bentuknya, carabiner bisa dibedakan menjadi:
Carabiner Oval
Carabiner Oval adalah bentuk asli dari carabiner, serba guna walaupun tidak sekuat carabiner bentuk lain. Carabiner oval memiliki lekukan bagian atas dan lekukan bagian bawah yang sama, sehingga beban yang diberikan pada carabiner ini akan terpusat pada bagian tengah carabiner dan pergeseran beban juga akan terbatas pada bagian lekukan ini.


Carabiner “D”
Carabiner berbentuk D dirancang untuk menggeser beban yang diberikan kepada carabiner ke arah spine frame, sisi carabiner yang lurus dan jauh dari gerbang carabiner. Untuk carabiner, sisi ini merupakan bagian terkuat untuk menahan beban dan sisi yang terdapat gerbang (gate) merupakan bagian terlemah. Carabiner D, lebih kuat jika dibandingkan carabiner jenis oval dengan bahan dan ukuran yang sama.




Carabiner Asymmetrical “D”
Prinsip kerjanya sama dengan carabiner D biasa, tetapi carabiner ini memiliki bentuk salah satu ujung yang lebih kecil dibandingkan ujung yang lainnya untuk mengurangi berat dari carabiner itu sendiri. Carabiner jenis ini biasanya memiliki gerbang (gate) yang lebih besar jika dibandingkan dengan carabiner jenis D biasa sehingga lebih mudah untuk meng-klik-nya. Tetapi carabiner bentuk ini tidak memiliki luas lingkaran dalam yang lebih besar jika dibandingkan dengan carabiner D biasa atau carabiner oval dengan ukuran yang sama.




Carabiner Pear
Carabiner bentuk ini biasanya digunakan untuk belay, dilengkapi dengan srew gate supaya lebih aman. Carabiner ini memiliki salah satu ujung yang sangat sempit dan ujung yang lain sangat luas. Tujuannya, untuk ujung yang kecil adalah bagian yang akan dikaitkan ke harness belay dan bagian yang luas adalah bagian yang akan berhubungan dengan tali pemanjat. Bagian yang luas ini memberikan keleluasaan pada tali yang terhubung dengan pemanjat, sehingga memudahkan pada saat mengulur tali.



Berdasarkan pilihan bentuk gerbang (gate), carabiner dapat dibedakan menjadi:

Carabiner Dengan Gerbang (Gate) Lurus
Sejauh ini, carabiner dengan bentuk gerbang lurus adalah yang paling umum digunakan. Bentuk gerbang carabiner jenis ini benar-benar lurus dari titik poros sampai ke ujung gerbang. Seperti jenis lainnya, carabiner ini memiliki pegas pada poros gerbangnya yang mudah didorong saat dibuka dan kembali menutup secara otomatis saat dilepas.




Carabiner Bent Gate
Carabiner bent gate memiliki bentuk gate (gerbang) yang melengkung sehingga lebih memudahkan pada saat akan dikaitkan dengan pengaman. Rancangan gate yang melengkung tidak terlalu berpengaruh kepada kekuatan ataupun berat carabiner. Jika tidak digunakan dengan benar, kaitan carabiner bent gate bisa saja terlepas dari tali. Seperti jenis peralatan climbing yang lain, tata cara penggunaan bent gate carabiner harus benar-benar dipelajari untuk keamanan pada saat digunakan.



Catatan: Bent gate carabiner hanya boleh digunakan untuk tambatan dengan tali, tidak boleh digunakan untuk tambatan dengan pengaman langsung (ex:hanger)

Locking Carabiner
Locking carabiner mempunyai gerbang yang bisa dikunci pada kondisi tertutup sehingga memberikan pengamanan yang lebih dan mengantisipasi kecelakaan yang timbul akibat terbukanya gate carabiner. Carabiner jenis ini harus selalu digunakan pada saat pengaman kita hanya bergantung pada satu carabiner, seperti pada saat rapelling, belaying atau pada titik pengaman pertama (jika mempunyai beberapa titik pengaman pada saat berada di tebing). Locking carabiner bisa saja berbentuk oval, “D”, asymmetrical “D” atau pear.




Wire Gate Carabiner
Wire gate carabiner menggunakan lingkaran kawat dari bahan stainless steel untuk gate-nya. Lingkaran kawat ini mempunyai mekanisme tersendiri untuk putaran pada sumbunya, mengurangi berat carabiner secara keseluruhan dan mengurangi kebutuhan untuk komponen tambahan seperti yang ditemukan pada carabiner konvensional.




Kebanyakan carabiner wire gate ini tidak sekuat carabiner konvensional. Gerbang carabiner ini juga cenderung bergetar ketika mendapat beban kejut karena massa yang rendah dari kawat itu sendiri.

Kekuatan Carabiner
Sebelum membahas kekuatan carabiner, harus dipahami terlebih dahulu tipe carabiner secara umum (Europe Standard):







Untuk meliahat kekuatan setiap carabiner (biasanya ada sedikit perbedaan nilai untuk carabiner yang berbeda), dapat dilihat pada label yang ada pada setiap carabiner tersebut. Untuk lebih jelas, bisa dilihat Label Nilai Kekuatan Carabiner pada gambar di bawah ini:


 xx pada gambar diatas adalah nilai kekuatan maksimal carabiner pada saat diberi beban pada arah utama (beban diberikan dari frame ujung atas dan frame ujung bawah), yy adalah beban maksimal yang bisa ditahan carabiner jika diberikan beban pada spine frame dan gate sedangkan zz adalah beban yang bisa ditahan carabiner ketika kondisi gate terbuka. Untuk lebih jelas, coba perhatikan ilustrasi dibawah ini:

Kondisi Beban Diberikan Pada Frame Atas dan Frame Bawah




Kondisi Beban Diberikan Pada Saat Gate Terbuka




Kondisi Beban Diberikan Pada Gate dan Spine Frame



Dari ilustrasi di atas, dapat dianalisa bahwa terjadi pengurangan drastis kekuatan carabiner ketika diberi beban pada saat gate carabiner terbuka. Dari sini dapat disimpulkan kenapa carabiner akan sangat berbahaya jika dalam kindisi gate yang terbuka pada saat digunakan sebagai pengaman.
Tips Untuk Keamanan : 
  1. Periksa Kondisi Carabiner Sebelum Digunakan
  2. Selalu jaga kondisi carabiner dari keretakan, penajaman bagian tepi carabiner, goresan, korosi atau penggunaan yang terlalu berlebihan. Karena retak dengan ukuran sehelai rambut pun akan mengurangi kekuatan carabiner hingga 50%.
  3. Periksa setiap gate carabiner, pastikan gate carabiner bisa membuka dengan mudah dan menutup dengan cepat.
  4. Pastikan pin yang berperan sebagai as pada gate tidak ada yang bengkok atau copot.
Jika ada salah satu karabiner yang tidak lulus dari pengujian di atas, jangan digunakan sebagai pengaman. Jangan gunakan carabiner yang sudah pernah jatuh dari jarak yang cukup tinggi, apalagi jika mengakibatkan bagian gate carabiner tidak berfungsi dengan baik. Carabiner yang pernah jatuh, bisa mengakibatkan kerusakan yang cukup signifikan namun masih terlihat dalam kondisi baik. Jika tidak yakin dengan kondisi carabiner yang telah pernah jatuh, jangan digunakan.

Tips Untuk Perawatan Carabiner :
  1. Supaya carabiner selalu berfungsi dengan baik, selalu jaga kebersihan carabiner, terutama dari pasir.
  2. Jika gerrbang carabiner macet, cuci dalam air hangat dengan menggunakan sabun. Bilas secara menyeluruh dan minyaki area disekitar engsel, lubang pin dan screw dengan pelumas. Bersihkan semua pelumas yang berlebih pada carabiner.
  3. Jangan simpan carabiner pada udara yang mengandung garam dan udara yang lembab, dengan peralatan yang lembab atau pakaian lembab, atau bahan kimia yang bisa menyebabkan korosi.
  4. Jangan gosok carabiner dengan benda apapun, karena akan menimbulkan kerusakan pada carabiner.
Mudah-mudahan bermanfaat
Baca lebih lanjut »

Das Brantas

Berdasarkan Pola Pengelolaan Sumberdaya Air WS Brantas merupakan Wilayah Sungai terbesar kedua di Pulau Jawa, terletak di Propinsi Jawa Timur pada 110°30′ BT sampai 112°55′ BT dan 7°01′ LS samp ai 8°15′ LS. Sungai Brantas mempunyai panjang ± 320 km dan memiliki luas wilayah sungai ± 14.103 km2 yang mencakup ± 25% luas Propinsi Jawa Timur atau ± 9% luas Pulau Jawa. WS Brantas terdiri dari 4 (empat) Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu DAS Brantas, DAS Tengah dan DAS Ringin Bandulan serta DAS Kondang Merak. 
Dalam pembahasan mengenai potensi sumberdaya air ini menggunakan satuan DAS. DAS Brantas berada di dalam wilayah administrasi 9 Kabupaten dan 6 Kota, yaitu: Kab. Nganjuk, Kab. Tulungagung, Kab. Malang, Kab. Blitar, Kab. Sidoarjo, Kab. Mojokerto, Kab. Jombang, Kab. Probolinggo, Kab. Lumajang, Kota Surabaya, Kota Sidoarjo, Kota Malang, Kota Blitar, Kota Kediri, dan Kota Pasuruan. DAS brantas sendiri memiliki luas lebih kurang 11.988 km2, yang terdiri dari 6 Sub DAS dan 32 basin block.

A. Karakteristik Lingkungan Fisik  
Untuk membekali informasi mengenai potensi sumberdaya air DAS Brantas, beberapa informasi mengenai karakteristik lingkungan fisik akan sangat membantu. Karakteristik lingkungan fisik yang cukup penting untuk disajikan antara lain:

Geologi 
Informasi mengenai geologi DAS Brantas memberikan penjelasan bahwa kawasan DAS brantas terbentuk oleh formasi geologi yang terdiri dari:
  1. Alluvium, berada di daratan yang meliputi Kota Surabaya, Kab. Sidoarjo, Kab. Mojokerto, Kab. Jombang, Kota Kediri, dan Kota Tulungagung.
  2. Andesit, banyak ditemukan di utara DAS Brantas terutama di sekitar Sub DAS Bluwek.
  3. Hasil Gunung Api Kwarter Muda, tersebar di sekitar Gunung Kelud, Gunung Kawi, Gunung Butak, dan Gunung Penanggungan.
  4. Hasil Gunung Api Kwarter Tua, tersebar di sisi timur DAS secara lokal antara lain di daerah Gunung Arjuno, Jabung, Poncokusumo dan di lereng timur Gunung Penanggungan.
  5. Hasil Gunung Api Tak Terurai, merupakan hasil erupsi Gunung Api Wilis yang berada di sisi Barat DAS.
  6. Miosen Fasies Batu Gamping, batuan gamping berumur miosen terdapat di sisi selatan DAS dan tersebar di sebagian Kab. Tulungagung, Kab. Blitar, dan Kab. Malang.
  7. Miosen Fasies Batu Sedimen, sedikit berada di Kab. Boyolali
  8. Pliosen Fasies Batu Gamping, tersebar secara lokal di antara geologi pleistosen fasies Gunung Api yang berada di Sub DAS Bluwek.
  9. Pliosen Fasies Batu Sedimen, sedimen hasil pengendapan berumur pliosen banyak terdapat di daerah dataran Trenggalek.
  10. Pleistosen Fasies Gunung Api, berada di sekitar Sub DAS Bluwek.
  11. Pleistosen Fasies Batu Sedimen, batuan hasil pengendapan berumur pleistosen banyak terdapat di lereng-lereng di Sub DAS Bluwek.
 
Geomorfologi 
Gunung-gunung yang ada mempengaruhi pembentukan lahan di DAS Brantas antara lain : Gunung Kawi, Gunung Butak, Gunung Kelud, Gunung Wilis, Gunung Anjasmoro, Gunung Arjuno, Gunung Welirang, Gunung Penanggungan, Gunung Semeru, dan sedikit bagian dari Gunung Bromo. Hasil erupsi gunung tersebut kemudian mengalami proses erosi dan sedimentasi sehingga menghasilkan bentuklahan asal proses vulkanik yang berupa perbukitan, pegunungan, dataran, maupun lembah.

Selain proses geomorfologi, kondisi permukaan DAS Brantas juga dipengaruhi oleh kondisi relief, topografi, dan kemiringan lahan. Secara umum kemiringan lahan DAS Brantas sangat kompleks dan terbagi dalam lima (5) kelas. (1) Kemiringan lereng 0 – 8 % (datar) yang terdapat di dataran aluvial gunungapi. (2) Kemiringan lereng 8 – 15 % (landai) yang membentuk lereng kaki dan lereng bawah gunungapi. (3) Kemiringan Lereng 15 – 25 % (agak curam) yang dijumpai pada lereng tengah gunungapi. (4) Kemiringan lereng 25 – 40 % (curam) dan (5) kemiringan lereng > 40 % yang membentuk lereng atas gunungapi.
Daerah-daerah dengan kemiringan tingga (>40%) terutama di sub DAS Borek Glidik, sedangkan daerah yang berada di kemiringan rendah/datar (<8%) banyak terdapat di sub DAS Widas dan Lahar.

• Jenis Tanah 
Kondisi tanah di DAS Brantas sangat kompleks. Hal ini dipengaruhi oleh kompleksnya batuan penyusun DAS Brantas sebagai bahan induk tanah yang berasal dari sumber yang berbeda dan adanya pengaruh iklim dan waktu pembentukan yang berbeda. Tipe tanah yang terdapat di DAS Brantas secara umum antara lain :
  1. Alluvial. Tanah alluvial termasuk tanah muda, belum mengalami diferensiasi horison. Sifat tanah ini dipengaruhi langsung oleh bahan asalnya yaitu aluvium. Material aluvium ini menampakkan morfologi berlapis-lapis karena adanya periodisasi pengendapan. Keterdapatan tanah jenis ini berada pada topografi dataran dengan solum tanah yang dalam. Tanah ini berpotensi untuk pengembangan pertanian dan perikanan.   
  2. Litosol. Tanah berbatu-batu. Bahan pembentuknya berasal dari batuan keras yang belum mengalami pelapukan secara sempurna. Jenis tanah ini juga disebut tanah azonal. Tanaman yang dapat tumbuh di tanah litosol adalah rumput ternak, palawija, dan tanaman keras
  3. Latosol. Merupakan jenis tanah yang telah mengalami perkembangan lanjut, sehingga telah terjadi pencucian unsur basa, bahan organik dan silika dengan meninggalkan sekuioksida sebagai sisa berwarna merah. Tekstur geluh lempung berpasir, struktur remah sampai gumpal lemah, konsistensi gembur, Terdapat selubang lempung pada agregat tanah bawah. Kesuburan tanah rendah – sedang dan tidak mudah tererosi maupun longsor.
  4. Grumusol. Tanah Grumusol atau disebut juga tanah margalith adalah tanah yang terbentuk dari material halus berlempung. Jenis tanah ini berwarna kelabu hitam dan bersifat subur. Tanaman yang tumbuh di tanah grumusol adalah padi, jagung, kedelai, tebu, kapas, tembakau, dan jati.
  5. Regosol. Jenis tanah ini belum mengalami diferensiasi horison meskipun pada tanah regosol tua horison sudah mulai terbentuk dengan horison Al lemah berwarna kelabu. Tekstur kasar, struktur kersai atau remah, konsistensi lepas-lepas sampai gembur. Pada jenis tanah ini belum terbentuk agregat sehingga mudah tererosi, dalam hal ini erosi oleh angin. Tanah regosol dapat dijumpai di daerah pesisir dengan bahan induk batuan vulkanik. Daya simpan air pada jenis tanah ini kecil.
  6. Andosol. Tanah andosol berasal dari abu gunungapi. Tanah andosol di DAS Brantas berasosiasi dengan tanah regosol hasil erupsi gunungapi yang belum mengalami pelapukan.
  7. Mediteran. Merupakan hasil pelapukan batuan kapur keras dan batuan sedimen. Warna tanah kemerahan hingga coklat. Jenis tanah ini kurang subur tetapi cocok untuk tanaman palawija, jati, tembakau, dan jambu mete. 
 
Hidrologi
Neraca air DAS Brantas menunjukkan bahwa dengan catchment area 11.800 Km2 DAS Brantas memiliki potensi air permukaan dan airtanah sebesar 16.472,46 (106 m3). Kebutuhan air (pasisiva) domestik sebesar 2.308,56 (106 m3), pertanian 2.770,39 (106 m3), dan industri 50,26 (106 m3). Total kebutuhan air di berbagai sektor tersebut sebesar 31,14% dari potensi air yang dimiliki DAS Brantas.

Kondisi hidrologi permukaan DAS Brantas dapat dilihat dari sungai-sungai yang mengalir di wilayah Sungai Brantas, baik pada orde 1,2,3 dari sungai utama. Terdapat 40 sungai yang bermuara di Sungai Brantas. Sungai-sungai besar seperti K. Lesti, K. Metro, K. Dawir, K. Parit Agung, K. Ngasinan, K. Konto, K.Widas, dan K.Kuncir berpotensi membawa air dari hulu dalam jumlah yang besar sehingga mempengaruhi debit sungai utama (K.Brantas). Sungai-sungai tersebut membentuk pola aliran dendritik. Hal tersebut menunjukkan bahwa aliran pada sungai-sungai di DAS Brantas berpotensi untuk mengerosi lahan di sekitarnya.
 
Pemanfaatan Lahan
Penggunaan lahan di DAS Brantas per Kabupaten/Kota tersaji dalam tabel. Tabel tersebut menunjukkan bahwa secara umum pemanfaatan lahan di wilayah-wilayah kabupaten lebih dominan dimanfaatkan sebagai sawah, lahan kering, dan hutan. Sedangkan di daerah perkotaan (Kota Kediri, Blitar, Malang, dan Mojokerto) pemanfaatan yang dominan adalah sawah, lahan kering, dan non pertanian. Hampir tidak terdapat hutan di kota-kota tersebut. Penggunaan lahan non pertanian, pada umumnya berupa permukiman, sarana perkotaan dan kawasan industri.

Penggunaan lahan DAS Brantas secara spasial dapat dilihat pada gambar 6.55. Penggunaan lahan sebagai hutan dapat dijumpai pada lereng atas Gunungapi Kawi, Gunungapi Butak, Gunungapi Kelud, Gunungapi Wilis, Gunungapi Arjuno, Gunungapi Anjasmoro, Gunungapi Wilerang, Gunungapi Bromo, Gunungapi Semeru, dan lereng atas perbukitan-perbukitan yang tersebar di DAS Brantas. Pada puncak gunung atau perbukitan terdapat rumput dan semak belukar. Di bawah lereng atas gunungapi yang memiliki topografi curam, lahan di manfaatkan sebagai lahan kebun. Sedangkan lereng bawah dengan topografi landai hingga agak curam dimanfaatkan sebagai lahan tegalan. Topografi datar pada dataran aluvial banyak dimanfaatkan sebagai pusat pemukiman, sawah irigasi, sawah tadah hujan, dan empang.

B. Potensi Sumberdaya Air

Berdasarkan data SLHD Provinsi Jawa Timur tahun 2011, Perkiraan kepadatan penduduk Jatim Th. 2010-2011 adalah 781 jiwa/km2. Dengan luas DAS sebesar 11.988 km2, maka perkiraan jumlah penduduk yang tinggal di wilayah DAS Brantas adalah: 9.362.628 jiwa. Berdasarkan laporan BMKG setempat, secara menyeluruh kawasan ini memiliki curah hujan rata-rata sekitar 2.000 mm/th. Sementara itu pada sumber data lainnya menyebutkan bahwa total potensi debit air permukaan sebesar 373,64 m3/detik atau 11.783,2 juta m3/th. 
Pada umumnya fluktuasi debit air tahunan di semua DAS di Indonesia cukup tinggi. Saat terjadi musim hujan, sungai utama mengalami kelebihan air dan berakibat banjir pada kawasan dengan elevasi rendah. Sementara itu, saat terjadi musim kemarau, terjadi kekeringan di sebagian wilayah catchment areanya. Untuk mengurangi tingginya fluktuasi debit, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membangun waduk atau bendungan. Jika dilihat dari luasnya daerah tangkapan air (catchment area) masing-masing kabupaten dan kota yang terdapat di dalam wilayah DAS Brantas, dapat diketahui besarnya pengisian air (potensi air) yang masuk ke dalam DAS. 
Potensi sumberdaya air yang besar secara kumulatif dalam satu tahun sebagaimana tergambar pada tabel di atas, pada dasarnya tidak seluruhnya termanfaatkan secara efektif. Yang terpenting adalah ketersediaan air pada suatu waktu tertentu, sesuai dengan kebutuhan. Walaupun dalam hitungan terlihat bahwa sumberdaya air dalam kurun satu tahun itu melimpah, namun pada kenyataannya tidak semua termanfaatkan. Buktinya, ketika musim hujan air begitu melimpah hingga terbuang percuma dan bahkan menjadi perusak. Sementara ketika musim kemarau, pada daerah tertentu, air begitu sulit di dapatkan. Air dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik (rumah tangga dan perkotaan) juga digunakan untuk pertanian dan industri.  
Potensi sumberdaya air yang besar secara kumulatif dalam satu tahun sebagaimana tergambar pada tabel di atas, pada dasarnya tidak seluruhnya termanfaatkan secara efektif. Yang terpenting adalah ketersediaan air pada suatu waktu tertentu, sesuai dengan kebutuhan. Walaupun dalam hitungan terlihat bahwa sumberdaya air dalam kurun satu tahun itu melimpah, namun pada kenyataannya tidak semua termanfaatkan. Buktinya, ketika musim hujan air begitu melimpah hingga terbuang percuma dan bahkan menjadi perusak. Sementara ketika musim kemarau, pada daerah tertentu, air begitu sulit di dapatkan. Air dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik (rumah tangga dan perkotaan) juga digunakan untuk pertanian dan industri.  
Selain air permukaan, DAS Brantas juga menyimpan potensi air tanah yang sangat besar. DAS Brantas merupakan cekungan yang tersusun dari litologi batuan yang berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lain. Batuan penyusun tersebut berpotensi menyimpan dan melewatkan air dalam jumlah tertentu. Formasi batuan ini disebut dengan sistem akuifer. Berdasarkan peta hidrogeologi DAS Brantas, akuifer yang terdapat di DAS Brantas memiliki potensi yang rendah, sedang, tinggi, dan air tanah langka.

a. Potensi air tanah rendah.  
Terdapat pada daerah dengan akuifer produksi kecil setempat (aliran celah) dan akuifer yang menutupi akuifer produksi tinggi dengan penyebaran aliran setempat (aliran ruang). Penyebaran potensi airtanah rendah terdapat di lereng atas dan puncak (puncak Gunungapi Kawi, Gunungapi Butak, Gunungapi Kelud, Gunungapi Wilis, Gunungapi Arjuno, Gunungapi Anjasmoro, Gunungapi Wilerang, Gunungapi Penanggungan, Gunungapi Bromo, dan Gunungapi Semeru).

b. Potensi airtanah sedang. 
Terdapat pada akuifer produksi sedang (aliran rekah, celah, saluran, ruang antar butir). Penyebaran akuifer ini terdapat pada lereng tengah gunungapi dengan kemiringan lereng yang curam dan airtanah dalam. Muncul mataair terutama pada daerah tekuk lereng.

c. Potensi airtanah tinggi. 
Akuifer produksi tinggi penyebaran luas, aliran ruang antar butir, celah, dan rekahan. Akuifer ini berada di lereng bawah pegunungan, lereng kaki pegunungan, serta dataran kaki pegunungan dengan kedalaman airtanah dangkal hingga sedang.

d. Daerah airtanah langka. 
Terdapat pada bentuklahan dengan material penyusun berupa batugamping. Produksi akuifer kecil, setempat, aliran celah, dan airtanah dalam. Daerah airtanah langka terdapat di lereng perbukitan sisi selatan DAS Brantas, tepatnya di Kab. Tulungagung dan Kab. Blitar.

C. Permasalahan Lingkungan

Hasil survei lapangan, kondisi lingkungan DAS Brantas secara keseluruhan masih dikatakan baik, hanya di beberapa lokasi tertentu sudah mengalami beberapa masalah baik masalah kerusakan lingkungan maupun pencemaran lingkungan.
 
Pencemaran Lingkungan  
Berkembangnya kota-kota besar yang dilalui aliran sungai Brantas, mengakibatkan meningkatnya kebutuhan akan air bersih dan air baku. Di samping itu, semakin tingginya konsentrasi penduduk dan industri di daerah perkotaan menimbulkan masalah antara lain timbulnya daerah kumuh di tepi sungai, menurunnya kualitas air sungai dan bencana banjir akibat terganggunya aliran air, baik karena banyaknya sampah, pendangkalan maupun berkurangnya lebar sungai. Sumber pencemar dominan yang mencemari sungai Brantas adalah sebagai berikut :
  1. Limbah industri. Di dalam Wilayah Sungai Brantas sedikitnya terdapat 483 industri yang berpotensi membuang limbahnya yang berpengaruh langsung pada kualitas air sungai. Berdasarkan data dari Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur pada tahun 1999 diperoleh hasil beban BOD netto dari sektor industri sebesar 37,48 ton BOD/tahun. Diperkirakan jumlah beban tersebut meningkat sebesar 10% hingga tahun 2012.
  2. Limbah hotel dan restoran. Limbah domestik hotel, restoran, dan lain-lain adalah sumber yang paling besar memberikan kontribusi limbah padat pada WS Brantas yaitu sebesar 7,26 m3/hari dan limbah cair sebesar 10,25 ton BOD/tahun (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, 2011).
  3. Limbah pertanian. Sumber pencemar dari sektor pertanian berasal dari sisa pestisida dan pupuk an-organik yang digunakan di lahan-lahan garapan dan yang mengalir ke sungai bersama dengan sisa air irigasi. Pencemaran ini umumnya terjadi pada saat musim hujan. Dampak yang terjadi akibat limbah pertanian tersebut adalah terjadinya eutrofikasi perairan di waduk (terutama di Waduk Sutami) juga di sepanjang sungai Brantas, terutama pada wilayah-wilayah hilir.

Permasalahan yang dihadapi dalam upaya pengendalian pencemaran di WS Brantas, antara lain :
  1. Sejak dilaksanakan Program Kali Bersih, pengendalian pada sumber pencemar hanya dilaksanakan pada limbah industri. Pengendalian limbah domestik belum dilaksanakan, padahal berdasarkan penelitian beban pencemaran limbah domestik mencapai 62% dari total beban yang masuk sungai.
  2. Penegakan hukum terhadap pencemar masih lemah, karena masih mempertimbangan aspek sosial, ekonomi, kesempatan kerja dan lain sebagainya.
  3. Banyak industri yang kapasitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)-nya lebih kecil dari limbah yang diproduksi, sehingga buangan limbahnya tidak memenuhi baku mutu yang ditetapkan.
  4. Pengendalian pencemaran air merupakan masalah yang kompleks, memerlukan dana besar dan waktu panjang serta memerlukan komitmen semua pihak yang berkepentingan.
  5. Banyaknya permukiman di daerah sempadan sungai mengakibatkan banyak sampah dan limbah domestik langsung dibuang ke sungai.
  6. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam memberikan kontrol sosial yang positif (aktif-konstruktif).
Kerusakan Lingkungan  
Hutan memiliki peran penting dalam sistem DAS. Berdasarkan fungsinya, hutan di DAS Brantas terbagi menjadi tiga yaitu hutan produksi yang dikelola Perum Perhutani, Hutan Lindung, dan kawasan hutan yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumberdaya Hutan (BKSDH) yang berupa Suaka Alam dan Hutan Wisata. Hutan Produksi terutama menghasilkan pohon jati dan sebagian pohon rimba. Berdasarkan peta penggunaan lahan DAS Brantas (2011) terdapat sekitar 11.020,59 Ha lahan berhutan. Tidak seluruh lahan berhutan adalah wilayah yang ditetapkan sebagai hutan (Hutan Negara), akan tetapi termasuk di dalamnya adalah hutan masyarakat. Beberapa permasalahan pokok terkait dengan kelestarian sumber daya hutan di WS Brantas adalah:
  1. Terus menurunnya luas dan kondisi hutan. Kerusakan hutan tersebut menimbulkan dampak yang luas, yaitu kerusakan ekosistem dalam tatanan DAS, demikian pula dipacu oleh pengelolaan DAS yang kurang terkoordinasi antara hulu dan hilir serta kelembagaan yang masih lemah. Di satu pihak luas areal berhutan semakin menurun, sementara di pihak lain luas kawasan permukiman semakin meningkat dengan percepatan yang sangat signifikan. Lemahnya penegakan hukum.
  2. Rendahnya kapasitas pengelola kehutanan, sumber daya manusia, pendanaan, sarana-prasarana, kelembagaan, serta insentif bagi pengelola kehutanan sangat terbatas.
  3. Belum berkembangnya pemanfaatan hasil hutan non-kayu dan jasa-jasa lingkungan.
  4. Belum harmonisnya peraturan perundangan lingkungan hidup dengan peraturan perundangan sektor lainnya.
  5. Masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam pemeliharaan lingkungan.
  6. Kondisi daerah tangkapan hujan di bagian DAS Brantas hulu memburuk akibat penebangan liar dan pengelolaan lahan yang tidak mengindahkan aspek konservasi tanah. Akibatnya, terjadi peningkatan erosi lahan yang berakibat pada peningkatan sedimentasi di waduk, berkurangnya volume efektif waduk, penurunan base-flow pada musim kemarau panjang, kekeringan pada musim kemarau dan terjadinya banjir bandang di musim penghujan, Pengalaman kejadian 3-4 Pebruari 2004, Kali Brantas Hulu mengalami banjir lumpur yang sangat parah karena hujan deras. Permasalahan lainnya adalah matinya mata air DAS Brantas, degradasi dasar sungai dan penurunan kualitas air akibat pencemaran.
  7. Rehabilitasi hutan, lahan dan air DAS Brantas Hulu secara terencana dan integratif sebagai basis pengelolaan DAS Brantas Hulu merupakan keputusan pemerintah setiap kabupaten/kota di wilayah pengelolaan DAS Brantas, untuk meningkatkan kemampuan dalam meningkatkan produksi dan pendapatan. Namun kenyataan menunjukkan bahwa lahan kritis DAS Brantas Hulu semakin luas, karena laju degradasi masih lebih besar dari laju penanganannya. Tabel berikut menunjukkan luas lahan kritis yang terdapat di DAS Brantas. Upaya forestasi atau penghijauan kembali juga dilaksanakan oleh Perum Perhutani Unit II Jawa Timur dan berdasarkan tabel berikut dapat dilihat bahwa realisasi penanaman pohon yang telah dilakukan dari total lahan seluas 7.292,60 Ha dapat direalisasikan penanaman penghijauan sesuai dengan target tahun berjalan sebanyak 8.102.078,60 pohon. Realisasi penanaman terbanyak dilakukan di KPH Kediri dengan total lahan seluas 2.956,80 Ha berhasil ditanami 3.285.005 batang pohon selama tahun 2011.
  8. Terjadi kerusakan hutan mangrove yang berakibat terganggunya ekosistem mangrove di DAS Brantas.

Baca lebih lanjut »

Pantai Plengkung (G-Land)

Pantai Plengkung atau biasa disebut G-Land oleh turis mancanegara  adalah Surga Tersembunyi di Banyuwangi - Pernah dengar G-Land? Jika belum ya wajar saja, karena nama G-Land memang sangat jarang disebut di media maupun dibicarakan orang awam. Namun buat mereka yang hobi berselancar maka nama G-Land yang terletak di Banyuwangi ini bakal tidak asing di telinga. Ya, G-Land yang oleh masyarakat sekitar disebut juga Pantai Plengkung merupakan satu dari 7 tempat surfing terbaik di dunia. Para peselancar kelas dunia memang menganggap G-Land sebagai The Seven Giant Waves Wonder. Lokasi G-Land yang langsung menghadap samudra Hindia mendukung tercitanya gelombang yang ideal bagi para peselancar.

G-Land menawarkan ombak besar dan panjang yang selalu diimpikan para peselancar. Ketinggian ombak di pantai ini mencapai 6-8 meter, sementara panjangnya bisa mencapai 2 km. Wow, luar biasa! Tak herang jika G-Land ini sempat terpilih menjadi tempat diadakannya lomba selancar internasional Quicksilver Pro Surfing Championship pada tahun ’95, ’96, dan ’97.


Lokasi G-Land
Dimanakah tepatnya letak pantai Plengkung atau G-Land ini? G-Land ternyata berada di dalam kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Untuk mencapai lokasi ini mungkin sedikit lebih sulit dibanding kebanyakan tempat wisata lain yang sudah terkenal. Jika Anda menggunakan angkutan umum dari Banyuwangi, naiklah bus arah Kalipahit (sekitar 60 km), dan dilanjutkan naik Ojek ke arah Pasar Anyar (4 km). Dari situ Anda bisa menumpang mobil pick-up ke Pos Pancur yang jaraknya lumayan jauh (15 km). Dari pos Pancur ini G-Land hanya berjarak 8 km saja. Alternatif lainnya adalah menggunakan mobil pribadi, mobil sewaan atau menggunakan helikopter. Di G-land sudah ada Heli-pad untuk pendaratannya.


Walaupun perjalanan menuju G-Land butuh sedikit perjuangan, namun fasilitas yang ada di G-Land ternyata cukup lengkap. Anda bisa menemui Bar, restoran, bungalow, Jungle Camp, dan fasilitas kecil lain seperti penyewaan papan selancar. Tapi jangan heran kalo tarif yang dikenakan adalah dalam bentuk Dollar, karena mamang kebanyakan yang memanfaatkan fasilitas-fasilitas di atas adalah para turis asing.

Penamaan G-Land
Mungkin sebagian dari Anda bertanya-tanya, kanapa pantai Plengkung ini disebut juga dengan nama G-Land? Jawabannya ternyata ada 3. Pertama huruf G diambil dari nama teluk Grajagan. Kedua diambil dari kata Green karena letaknya di tepi hutan tropis yang hijau, dan ketiga diambil dari kata Great karena ombaknya yang begitu besar dan panjang. Penamaan G-Land juga terasa lebih praktis bagi turis asing yang kebetulan mendominasi kunjungan wisata ke tempat ini.

Bagi peselancar, waktu terbaik mengunjungi G-Land di Banyuwangi adalah bulan Juli hingga September. Pada bulan-bulan ini adalah musim kemarau dan tidak banyak hujan turun. Selain itu ombak di G-Land juga sedang bagus-bagusnya. Ombak di pantai ini dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu Kong Waves (tinggi ombak mencapai 6-8 meter), Speedis Waves (5-6 m), dan Many Track Waves (3-4 m). ombak tingkat terakhir (many track) biasanya digunakan para peselancar pemula untuk mengasah skill mereka.

Obyek Wisata G-Land
G-Land tidak hanya melulu tentang selancar. Masih banyak obyek wisata lain yang bisa dinikmati di sini. Masih banyak eksotisme pantai khas Indonesia yang bisa dinikmati. Anda bisa menikmati panorama alam Taman Nasional Alas Purwo yang menakjubkan, plus berbagai macam habitat yang menghuninya. Pemandangan panti G-Land juga tidak kalah menawan. Momen matahari terbenam alias Sunset di pantai ini tidak kalah menawan di banding pantai-pantai Bali. Momen ini pun menjadi salah satu momen yang paling ditunggu oleh para turis.

Berbagai kegiatan menarik juga bisa dilakukan di G-Land. Anda bisa taracking menyusuri taman nasional menggunakan sepeda, snorkling, diving, caving, atau sekedar mancing. Kamu juga bisa melihat penangkaran penyu di sana. G-Land juga merupakan tempat yang cocok bagi para penggemar fotografi karena alamnya yang sangat indah.




Buat para pecinta caving yang senang menelusuri gua-gua, TN Alas Purwo menyediakan banyak sekali gua-gua indah. Salah satu yang terkenal adalah Goa Istana yang penuh dengan stalaktit dan stalakmit indah.

Sayangnya saat ini G-Land hanya terkenal di kalangan pecinta surfing dan adventure dari mancanegara, terutama dari Amerika, Australia dan Brasil. Sedangkan turis lokal dari Indonesia yang tertarik ke tampat ini masih sangat sedikit.



FILE PDF
Baca lebih lanjut »

Taman Nasional Wakatobi

Taman Nasional Wakatobi memiliki potensi sumberdaya alam laut yang bernilai tinggi baik jenis dan keunikannya, dengan panorama bawah laut yang menakjubkan. Secara umum perairan lautnya mempunyai konfigurasi dari mulai datar sampai melandai kearah laut, dan beberapa daerah perairan terdapat yang bertubir curam. Kedalaman airnya bervariasi, bagian terdalam mencapai 1.044 meter dengan dasar perairan sebagian besar berpasir dan berkarang.

Taman nasional ini memiliki 25 buah gugusan terumbu karang dengan keliling pantai dari pulau-pulau karang sepanjang 600 km. Lebih dari 112 jenis karang dari 13 famili diantaranya Acropora formosa, A. hyacinthus, Psammocora profundasafla, Pavona cactus, Leptoseris yabei, Fungia molucensis, Lobophyllia robusta, Merulina ampliata, Platygyra versifora, Euphyllia glabrescens, Tubastraea frondes, Stylophora pistillata, Sarcophyton throchelliophorum, dan Sinularia spp.


Kekayaan jenis ikan yang dimiliki taman nasional ini sebanyak 93 jenis ikan konsumsi perdagangan dan ikan hias diantaranya argus bintik (Cephalopholus argus), takhasang (Naso unicornis), pogo-pogo (Balistoides viridescens), napoleon (Cheilinus undulatus), ikan merah (Lutjanus biguttatus), baronang (Siganus guttatus), Amphiprion melanopus, Chaetodon specullum, Chelmon rostratus, Heniochus acuminatus, Lutjanus monostigma, Caesio caerularea, dan lain-lain.


Selain terdapat beberapa jenis burung laut seperti angsa-batu coklat (Sula leucogaster plotus), cerek melayu (Charadrius peronii), raja udang erasia (Alcedo atthis); juga terdapat tiga jenis penyu yang sering mendarat di pulau-pulau yang ada di taman nasional yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu tempayan (Caretta caretta), dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea).

Masyarakat asli yang tinggal di sekitar taman nasional yaitu suku laut atau yang disebut suku Bajau. Menurut catatan Cina kuno dan para penjelajah Eropa, menyebutkan bahwa manusia berperahu adalah manusia yang mampu menjelajahi Kepulauan Merqui, Johor, Singapura, Sulawesi, dan Kepulauan Sulu. Dari keseluruhan manusia berperahu di Asia Tenggara yang masih mempunyai kebudayaan berperahu tradisional adalah suku Bajau. Melihat kehidupan mereka sehari-hari merupakan hal yang menarik dan unik, terutama penyelaman ke dasar laut tanpa peralatan untuk menombak ikan.


Pulau Hoga (Resort Kaledupa), Pulau Binongko (Resort Binongko) dan Resort Tamia merupakan lokasi yang menarik dikunjungi terutama untuk kegiatan menyelam, snorkeling, wisata bahari, berenang, berkemah, dan wisata budaya.

Musim kunjungan terbaik: bulan April s/d Juni dan Oktober s/d Desember setiap tahunnya.

Cara pencapaian lokasi: Kendari ke Bau-bau dengan kapal cepat regular setiap hari dua kali dengan lama perjalanan lima jam atau setiap hari dengan kapal kayu selama 12 jam. Dari Bau-bau ke Lasalimu naik kendaraan roda empat selama dua jam, lalu naik kapal cepat Lasalimu-Wanci selama satu jam atau kapal kayu Lasalimu-Wanci selama 2,5 jam. Wanci merupakan pintu gerbang pertama memasuki kawasan Taman Nasional Wakatobi.

sumber : Dephut
Baca lebih lanjut »

Pegunungan Alpen

Pegunungan Alpen (Inggris: Alps; Jerman: Alpen; Perancis: Alpes; Italia: Alpi; Slovenia: Alpe) adalah nama pegunungan besar di Eropa yang membentang dari Austria dan Slovenia di timur, melalui Italia, Swiss, Liechtenstein, dan Jerman, sampai ke Perancis di barat. Namanya mungkin berasal dari bahasa Latin albus (putih) atau altus (tinggi). Gunung tertinggi di Alpen adalah Mont Blanc dengan ketinggian 4.808 m di perbatasan Perancis-Italia.



Geografi
Pegunungan ini biasanya dibagi menjadi Alpen Barat dan Alpen Timur. Pembahagian ini adalah sepanjang garisan di antara Danau Constance dan Danau Como melalui Sungai Rhine, Liro dan Mera. Peguntngan Alpen Barat lebih tinggi, tetapi rangkaian pergunungannya lebih pendek dan berliku; terletak di Italia, Perancis, dan Swiss. Alpe Timur juga memiliki rangkaian pegunungan yang lebar dan memanjang, yang terletak di Austria, Jerman, Italia, Liechtenstein, Slovenia, dan Swiss. Puncak tertinggi di Alpen Barat adalah Gunung Blanc dengan ketinggian 4.808 m (15,774 kaki). Puncak tertinggi di Alpen Timur ialah Piz Bernina pada ketinggian 4.049 m (13,284 kaki). Dufourspitze, 4.634 m (15,203 kaki) dan Ortler, 3.905 m (12,812 kaki).
Alpen Timur biasanya dibagi berdasarkan pembentukan batuan (litologi) yang berbeda-beda yaitu:
Alpen Batu Kapur Utara (dari Wienerwald hingga ke Bregenzwald), termasuk Flyschzone; ketinggiannya mencapai 3.000 m (9,840 kaki).
Alpen Timur Bagian Tengah (Austria dan Switzerland); ketinggiannya mencapai 4.050 m.
Alpen Batu Kapur Selatan.
Semtara antara pergunungan Alpen tengah dan pergunungan Alpen Limestone selatan adalah Kelim Periadriatic. Pergunungan Alpen Limestone utara dipisahkan dari pergunungan Alpen timur tengah oleh Zon Graiwak.
Alpen Barat biasa dibagi menurut geografinya:
Alpen Liguria
Alpen Maritim
Alpen Cott
Alpen Dauphiné
Alpen Grées
Alpen Valais
Alpen Bern
Alpen Lepontin
Alpen Glarus
Alpen Appenzell
Pembagian dari sudut geologi berbeda dari segi geografi dan tidak membedakan bagian timur dan barat pegunungan ini. Secara umum, pakar geologi membagi Alpen menjadi tiga wilayah geologi yaitu Helveticum di utara, Penninicum dan pegunungan Austro-Alpen di bagian tengah apabila pegunungan Alpen Selatan di bagian selatan dan sebagian dari Alpen Dinari (yang membentang hingga ke Semenanjung Balkan). Pergunungan Jura dari sudut geologi tergolong di dalam pegunungan Alpen namun tidak dari sudut geografi.



source; wikipedia
Baca lebih lanjut »

Pegunungan Himalaya

Himalaya adalah sebuah barisan pegunungan di Asia, yang memisahkan anak benua India dari Dataran Tibet. Himalaya merupakan tempat di mana gunung-gunung tertinggi di dunia, misalnya Gunung Everest dan Kanchenjunga, berada. Secara etimologi, Himalaya berarti "tempat kediaman salju" dalam bahasa Sansekerta (dari hima "salju", dan aalaya "tempat kediaman").

Himalaya memanjang sepanjang lima negara; Pakistan, India, China, Bhutan dan Nepal. Ia adalah sumber dua sistem sungai besar dunia; Sungai Indus dan Sungai Ganga-Brahmaputra. Sekitar 750 juta orang tinggal di daerah sekitar aliran air dari Himalaya, yang termasuk Bangladesh. 

Pemandangan Himalaya dan Gunung Everest.


Letak Geografis
Barisan Himalaya mempunyai panjang sekitar 2400 km, dari Nanga Parbat di barat hingga Namche Barwa di timur. Lebarnya bervariasi antara 250-300 km. Himalaya terdiri dari tiga barisan paralel, diatur menurut ketinggian dan usia secara geologis.


Rute Untuk Menuju Pegunungan Himalaya
Gangtok di Sikkim ke Lhasa di Tibet melalui Celah Nathula dan Celah Jelepla (salah satu daerah Jalur Sutra).
Bhadgaon di Nepal ke Nyalam di Tibet.
Rohtang Pass di Himachal Pradesh, India
Jalan dari Srinagar di Kashmir melalui Leh ke Tibet sekarang jarang digunakan karena masalah di wilayah tersebut.

Puncak-puncak penting;
Everest 8.850
Dapsang 8.611
Kanchenjunga 8.586
Lhotse 8.501
Makalu 8.462
Cho Oyu 8.201
Dhaulagiri 8.167
Manaslu 8.163
Nanga Parbat 8.126
Annapurna 8.091
Gasherbrum I 8.068
Broad Peak 8.047
Gasherbrum II 8.035
Shishapangma 8.027
Gyachung Kang 7.922
Nanda Devi 7.817
Kabru 7.338
Pumori 7.161

source; wikipedia
Baca lebih lanjut »

Pendakian Puncak Mahameru

Puncak Mahameru dilihat dari Jalur Ayak ayak


Mbah Google, sing mbaurekso Gunung Semeru


Suasana Ranu gumbolo


Oro-oro ombo


Suasana di Kalimati


Pos Kalimati


Puncak Mahameru (3676m dpl)


Suasana puncak Mahameru


Anda Tertarik untuk mendaki Puncak Langit Pulau Jawa (Mahameru) 
silahkan intip 
Selamat Berpetualang...
Baca lebih lanjut »

Pendakian Gunung Rinjani

 Sunrise di Pantai Senggigi


 Pos ijin pendakian jalur Sembalun Lawang


 Mejeng di Batujajar


 Plawangan Sembalun


 Puncak Rinjani


 Puncak Rinjani


 Segoro anak dilihat dari Puncak Rinjani


 Segoro Anak dan Gunung Baru


 Segoro anak dilihat dari Senaru


 Suasana senja di Segoro Anak


 Mancing Mania di Segoro Anak


 Santai dalam perjalanan ke Plawangan Senaru, Background Segoro Anak


 Pantai Senggigi, Lombok


Sunset di pantai Senggigi

Anda tertarik mendaki Gunung Rinjani 
silahkan intip info pendakian Gunung rinjani 
Baca lebih lanjut »