4 Hal Pertolongan Pertama Pada Hipotermia

Pertolongan Pertama Pada Hipotermia. Hipotermia pasti sudah tidak asing di telinga para petualang khususnya pendaki gunung. Serangan Hipotermia selalu diwaspadai para pendaki karena bisa mengakibatkan kematian jika tidak segera ditangani. Hipotermia adalah kondisi dimana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan mengatasi tekanan suhu dingin sehingga tidak mampu mempertahankan panas tubuhnya. Hipotermia bida diartikan sebagai suhu bagian dalam tubuh dibawah 35 derajat Celcius.




Klasifikasi Hipotermia

Berdasarkan suhu tubuh, hipotermia dapat diklasifikasikan menjadi 3 :
Ringan (34-36 derajat C) : Korban akan menggigil secara hebat, jika suhu turun lagi kemungkinan akan mengalami amnesia.
Sedang (30-34 derajat C) : Terjadi penurunan oksigen yang mengakibatkan refleks melemah, kurang tarikan nafas dan penurunan aliran darah ke ginjal.
Berat (<30 derajat C) : Rentan mengalami kontraksi otot jantung pada bilik jantung dan tidak terkendali, bisa menyebabkan henti jantung. Selain itu juga rentan menjadi koma, denyut nadi sulit ditemukan, tidak ada refleks, henti nafas dan gangguan ginjal. Korban akan merasakan panas yang luar biasa padahal suhu tubuh terus menurun. Ini adalah fase kritis atau puncak dari gejala hipotermia yang selanjutnya suhu tubuh akan turun drastis lalu mengantuk, tertidur dan tewas.

Pertolongan Pertama Hipotermia

Perlu dipelajari sebelumnya dengan memperhatikan Prinsip Untuk Tetap Hangat Dalam Cuaca Dingin di Alam Liar untuk mengantisipasi hipotermia. Pertolongan pada Hipotermia harus dilakukan secara perlahan karena panas yang ekstrim dapat merusak kulit dan menyebabkan detak jantung tidak teratur begitu parah sehingga dapat menyebabkan jantung berhenti.

Berikut adalah 4 point penting yang harus dilakukan sebagai pertolongan pertama pada Hipotermia :
  • Mengganti pakaian basah : Pada hipotermia ringan, dapat dibantu dengan melepas semua pakaian basah dan diganti dengan yang kering, lalu dibungkus dengan selimut. Cara ini disebut Passive Rewarming. 
  • Hindarkan dari dingin : Hindarkan korban dari hembusan angin dan berikan alas yang hangat, jangan biarkan terbaring di tanah. 
  • Menghangatkan diri : Pada hipotermia sedang, hangatkan dengan api unggun, selimut thermal atau air hangat dalam botol yang ditempelkan di seluruh tubuh. Panas tubuh orang lain bisa digunakan dengan dibungkus bersama selimut thermal atau sleeping bag. Jagalah agar tubuh tetap hangat. Cara ini disebut Active Rewarming. 
  • Konsumsi makanan berkalori tinggi dan minuman hangat : Berikan makanan berkalori tinggi seperti keju dan coklat untuk membantu proses penghangatan tubuh. Minuman hangat yang diberikan juga harus perlahan karena penghangatan tubuh harus dilakukan secara perlahan. 



Thermal Blanket adalah alat pertolongan pertama yang bisa menyelamatkan dari hipotermia. Terbuat dari Polytilene (PE) yang dilapisi material mylar,mempunyai fungsi ganda yaitu dapat menahan 90% panas tubuh dan juga bisa dijadikan cermin sinyal.

Untuk mengatasi serangan hipotermia lebih baik mencegah dengan mengetahui Prinsip Untuk Tetap Hangat Dalam Cuaca Dingin. Contohnya yaitu menghindari pakaian basah, selalu membawa pakaian penahan dingin dan memperhatikan gejala yang mungkin terjadi pada diri sendiri maupun rekan seperjalanan.
Baca lebih lanjut »

4 Sinyal Bantuan yang Umum Digunakan Ketika Survival

4 Sinyal Bantuan Darurat. Seperti semua teknik survival lainnya, sinyal pertolongan merupakan ketrampilan yang harus dilatih sebelum digunakan. Ketika anda tersesat di alam liar, sinyal pertolongan adalah salah satu pilihan tepat yang harus dipertimbangkan. Jika anda tidak membawa radio komunikasi, telepon selular atau peluit, maka anda harus menggunakan sinyal visual. Sinyal visual bisa dibuat tergantung pada situasi yang anda miliki. Anda bisa menggunakan api dan asap, cermin sinyal, flare, senter atau lampu strobo untuk membuat sinyal darurat visual anda.

Untuk mengantisipasi kemungkinan buruk ketika berada di alam bebas, anda perlu Survival Item yang Harus Dibawa Penggiat Alam. Sebagian dari anda mungkin tidak berfikiran membawa radio komunikasi, bukan?. Berikut adalah beberapa sinyal pertolongan yang umum digunakan dan bisa dengan mudah dilakukan dalam kondisi survival :

1. Sinyal Visual

Sinyal visual adalah menampatkan diri di tempat yang mudah dilihat, sehingga mudah ditemukan. Untuk hasil terbaik menggunakan sinyal visual untuk bantuan, pilihlah situs atau tempat dengan visibilitas yang baik seperti puncak bukit, padang savana maupun tepi danau. Tempatkan diri di tempat pencari. Apakah mereka akan mencari anda?, mereka akan mencari anda dari udara atau darat?. Sebuah pencarian mungkin dimulai dari lokasi terakhir yang diketahui dan menyapu rute anda.




2. Sinyal SOS

SOS (Save Our Soul) adalah sinyal bahaya internasional yang sangat terkenal. Setiap orang harus akrab dengan SOS. Sinyal SOS dapat ditularkan dengan metode apapun, visual atau audio. Kode untuk SOS adalah 3 pendek, 3 panjang dan 3 sinyal pendek. Berhenti sebentar, kemudian ulangi sinyal.



Sinyal SOS bisa dibuat di udara maupun tanah menggunakan batu, kayu atau bahan apapun yang anda miliki. Pada malam hari, anda bisa menggunakan lampu senter atau lampu strobo untuk mengirim SOS ke udara untuk diketahui pesawat atau helicopter pencari. Sedangkan pada siang hari, anda bisa menggunakan cermin sinyal. Jika sulit menghasilkan sinyal panjang pendek, anda harus tau bahwa setiap sinyal yang diulang setiap tiga kali akan berfungsi sebagai sinyal bahaya. Jadi, gunakan imajinasi anda.

3. Sinyal api
Membuat api adalah salah satu dari Ketrampilan Dasar yang Paling Penting Dalam Kondisi Survival. Sinyal api adalah sinyal paling nyata dalam kondisi survival, karena hal ini mudah dilihat di malam hari. Sedangkan pada siang hari, asap dari api bisa dilihat dari jarak beberapa mil. Membangun 3 sinyal api menjadi bentuk segitiga atau dalam garis lurus yang diberi jarak 30 meter (100 kaki). Tiga sinyal api marabahaya sudah diakui secara internasional. Dalam situasi survival, anda bisa menggunakan Teknik Membuat Api Tanpa Korek Api menggunakan beberapa metode.




4. Sinyal Cahaya

Pada hari yang cerah, cermin bisa menjadi perangkat sinyal yang baik. Bukan hanya cermin, setiap objek yang mengkilap seperti cangkir, kacamata, ikat pinggang, cermin kompas dan apapun yaang mengkilap bisa mencerminkan sinar matahari.



Sebuah flash dapat dilihat pada jarak yang besar dan menyapu cakrawala siang hari. Jika pesawat atau helikopter mendekati, jangan arahkan sinar di kokpit selama beberapa detik karena bisa membutakan pilot. Gunakan sinyal cermin dari jauh, kemudian gunakan kode SOS. Gunakan sinyal cahaya dengan benar untuk meminta bantuan. Tentukan sinyal mana yang akan anda gunakan tangan untuk garis pandang agar menjadi lebih efektif.

Pada umumnya, komunikasi adalah memberi dan menerima informasi. Sebagai korban, anda harus mendapatkan perhatian penyelamat dan mengirim pesan yang dimengerti oleh penyelamat. Jenis sinyal yang digunakan tergantung pada situasi lingkungan anda. Dengan memahami beberapa sinyal umum yang bisa dibuat dengan mudah, berkeliaran di alam bebas tidak akan selalu membuat anda ragu.
Baca lebih lanjut »

10 Jenis Awan yang Bisa untuk Memprediksi Cuaca

Cara Memprediksi Cuaca Dengan Awan. Beberapa dari kita pasti pernah berniat melakukan kegiatan di alam bebas namun cukup ragu karena cuaca. Apapun musimnya, cuaca setiap hari tidak bisa diprediksi dengan pasti. Selain persiapan yang matang untuk mengkondisikan dengan kemungkinan cuaca yang tak menentu, memprediksi cuaca bisa menjadi alternatif yang sangat bermanfaat. Awan merupakan salah satu indikator yang paling dapat diandalkan untuk memprediksi cuaca ketika ada di alam bebas. Indikator lain seperti kelembaban, langit merah, angin, dan tingkah laku binatang mungkin tidak semudah bagaimana memprediksi cuaca dengan awan.

Memprediksi cuaca dengan melihat awan tidak sulit jika bisa mengenal 10 jenis awan. Namun jika bingung, ingatlah satu hal bahwa semakin tinggi awan, cuaca akan semakin baik.

Berikut 10 jenis awan yang bisa untuk memprediksi cuaca:


1. Cirrocumulus Clouds

Awan Cirrocumulus terbentuk pada ketinggian sekitar 5 kilometer dan memiliki karakter halus berupa awan-awan kecil dan tersebar menyerupai riak air. Awan ini terbentuk dari kristal es dan tetesan air di awan yang membeku. Karena kejadian ini, umunya awan cirrocumulus tidak bertahan cukup lama.


Jika pada awan cirrocumulus ada beberapa kumpulan awan Cirrus itu berarti masih dalam cuaca yang baik atau berarti hujan dalam kurun waktu 8 - 10 jam (tergantung dari pergerakan awan).


2. Altocumulus Clouds

Awan Altocumulus terbentuk di ketinggian 2 - 6 kilometer di atas permukaan tanah dan memiliiki karakter masa bulat atau gulungan dan bergelombang. Awan ini kadang berwarna putih atau abu-abu yang umumnya gelap.


Awan ini merupakan salah satu dari tiga jenis awan peringatan. Semakin gelap awan, semakin banyak air yang terkandung di dalamnya dan semakin besar kemungkinan akan turun hujan dalam waktu dekat. Awan ini menunjukkan akan terjadi badai sore jika diamati pada pagi hari. Kadang juga awan ini tampak setelah badai.


3. Cumulonimbus Clouds

Awan Cumulonimbus terbentuk di ketinggian sekitar 200 - 4.000 meter. Awan cumulonimbus sebenarnya dimulai dari awan Altocumulus. Karakternya datar dan luas seperti landasan, berwarna putih atau gelap di bagian bawahnya. Kadang berupa tonjolan dan gelembung-gelembung tergantung di bawah awan yang bisa berkembang menjadi awan corong (tornado) Awan Cumulonimbus adalah awan yang membawa hujan es, angin kencang, petir dan kilat.




4. Cumulus Clouds

Awan Cumulus terbentuk di ketinggian sekitar kurang dari 1 kilometer. Awan Cumulus berkarakter besar, seperti kapas dan memiliki basis datar. KAdang awan ini muncul sendiri, dalam garis, maupun berkelompok. Awan Cumulus terbentuk dari uap air dan es kristal tergantung dari suhu lingkungan. Awan ini biasanya menandakan sedikit atau tidak adanya curah hujan, tapi awan cumulus bisa tumbuh menjadi cumulonimbus.



5. Cirrus Clouds

Awan Cirrus terbentuk di ketinggian sekitar 5 - 13 kilometer di daerah beriklim sedang dan tropis.Awan cirrus umumnya putih dan abu-abu. Awan ini bisa menyebar dan menebal menjadi lembaran padat. Jika awan ini muncul, itu menunjukkan bahwa cuaca akan segera memburuk dalam kurun waktu 24 sampai 36 jam lagi. Namun awan ini juga berarti cuaca baik jika kemunculannya tidak merata, tidak teratur dan perlahan-lahan akan bergeser. Pergeseran ini menunjukkan peningkatan tekanan dan cuaca yang kering.



6. Cirrostratus Clouds

Awan Cirrostratus terbentuk di ketinggian 5,5 km dengan karakter sangat tipis. Awan ini mampu membentuk lingkaran cahaya ketika awan ini sangat tipis. Awan Cirrostratus tidak menghasilkan hujan. Jika awan ini menunjukkan peningkatan ketebalan yang menyebabkan awan semakin rendah, itu adalah tanda cuaca akan hujan dalam kurun waktu 8 - 24 jam kedepan.



7. Altostratus Clouds

Awan Altostratus termasuk awan dengan ketinggian menengah dengan warna abu-abu dan berbentuk lembaran. Awan ini biasanya menutupi seluruh langit di tempat yang masih relatif tinggi. Matahari bisa dilihat dari awan Altostratus yang tipis, namun akan buram jika lapisan awan ini cukup tebal. Awan Altostratus sering terbentuk menjelang hujan badai.



8. Nimbostratus Clouds

Awan Nimbrostratus terbantuk pada ketinggian 3 kilometer. Seluruh awan ini terdiri dari tetesan awan, hujan dan kristal es. Nimbrostratus cenderung menebal dan biasanya gelap pada dasarnya. Awan ini adalah tanda untuk akan datangnya hujan yang lebat yang bisa terjadi dalam waktu lama, tergantung dari seberapa banyak awan ini menutup bumi.



9. Stratocumulus Clouds

Awan Stratocumulus terbentuk di ketinggian dibawah 2,4 kilometer. KArakter awan ini bulat masa, gelap dan besar, biasanya berkelompok, garis, atau bergelombang. Munculnya awan ini menunjukkan suaca yang stabil, tidak hujan atau hanya curah hujan ringan.



10. Stratus Clouds

Awan Stratus terbentuk pada ketinggian sekitar 2 kilometer. Karakter awan ini tebal, besar dan menyerupai kabut. Awan ini bisa menghasilkan gerimis ringan denagn curah hujan yang tidak tinggi. Namun curah hujan biasanya tidak terjadi dengan munculnya awan ini.



Itu adalah 10 tipe awan yang bisa diamati untuk memprediksi cuaca ketika berada di alam bebas. 
Baca lebih lanjut »

Kiat Untuk Tetap Hangat dalam Cuaca Dingin Alam Liar

Berurusan dengan cuaca dingin merupakan masalah yang harus dihadapi oleh para pecinta alam khususnya pendaki gunung ketika berapa di ketinggian tertetu. Dalam kondisi survival, menangani cuaca dingin merupakan kunci untuk menjaga kelangsungan hidup.



Cuaca Dingin
Sedikit pengetahuan, perencanaan dan peralatan yang baik akan memungkinkan untuk bertahan pada cuaca dingin. Selama kondisi cuaca basah dan dingin, anda akan menghadapi ancaman ganda yaitu melindungi diri dari tanah basah dan dari pembekuan aliran darah pada tubuh.

Angin dingin ditambah dengan angin kencang akan lebih cepat menguras panas dalam tubuh. Beberapa hal dasar yang harus dilakukan dalam cuaca dingin adalah selalu menjaga kepala tetap tertutup.

Banyak panas yang bisa hilang melalui kepala terutama jika anda dalam kondisi tanpa rambut atau gundul. Kepala adalah radiator yang memiliki banyak aliran darah tapi memiliki sedikit lemak untuk isolasi. Alangkah lebih baik jika lindungi bagian leher, pergelangan tangan dan pergelangan kaki. Duduk di samping orang lain dan makan makanan berlemak juga akan menjaga panas dalam tubuh.

Berikut adalah kiat untuk tetap hangat dalam cuaca dingin:
  • Menjaga Pakaian Tetap Bersih, pakaian adalah tempat isolasi. Mencemari pakaian bisa mengurangi nilai isolasi mereka. 
  • Hindari Berkeringat, jika terlalu panas dan lelah, anda akan berkeringat. Ketika air menguap, molekul panas akan hilang dan meninggalkan molekul dingin. Ini seperti sebuah AC. Membuat tubuh anda seperti AC dapat membunuh dalam situasi survival.
  • Kenakan Pakaian Longgar dan Berlapis, selain untuk tubuh, ini berlaku untuk kaki. Menggunakan pakaian ketat akan membatasi sirkulasi darah. Tubuh manusia perlu sirkulasi yang baik untuk menjaga tetap hangat. Kaki dan tangan tidak menghasilkan banyak panas karena sebagian panas berasal dari otot-otot besar dan pakaian ketat menghalangi jumlah udara yang bertindak sebagai isolasi.
  • Jaga Pakaian Tetap Kering, di suhu dingin, pakaian bisa menjadi basah karena keringat dan cuaca luar. Jika pakaian tidak anti air maka bisa menjadi basah karena hujan maupun embun. Menggantung pakaian basah di bawah sinar matahari adalah metode pengeringan yang sangat baik. Matahari dan angin bisa membuat pakaian lekas kering. Anda juga bisa menggantung pakaian di dekat api karena pengeringan akan lebih cepat.
Selain pakaian, jagalah kantong tidur agar tetap kering dan bersih. Jangan menempatkan kantong tidur langsung di tanah yang lembab karena tidur nyenyak akan berubah menjadi perjuangan untuk bertahan hidup. Gunakan alas, luangkan waktu untuk mempersiapkan alas daun untuk menjaga kantong tidur dari tanah yang dingin dan basah.

Setelah mengetahui beberapa kiat diatas, anda bisa menjaga tubuh tetap hangat ketika tidur dengan tips berikut :
  • Lindungi kepala dengan topi hangat. 
  • Gunakan mantel sebagai lapisan di atas kantong tidur (sleeping bag). 
  • Gunakan kaus kaki yang bersih dan kering. 
  • Tambahkan lapisan pakaian kering dan bersih 
  • Minum sesuatu yang hangat. 
  • Makanlah sesuatu seperti cemilan. 
  • Buang air kecil - Tubuh menggunakan energi untuk menjaga cairan hangat dalam tubuh. 
  • Rilekskan otot-otot. 
  • Pastikan tidak ada angin yang masuk. 
Kondisi di alam bebas yang tidak menentu akan menjadi tantangan bagi para pecinta alam. Kondisi cuaca dingin alah kondisi dimana yang paling perlu diperhatikan untuk mencegah timbulnya hypotermia yang bisa mengakibatkan kematian.

Selamat Berpetualang !
Baca lebih lanjut »

4 Metode Menghentikan Pendarahan dalam Kondisi Survival

Metode Mengehentikan Pendarahan. Ketika hidup di alam bebas, perlengkapan pribadi, logistik dan juga P3K memang sangat diperlukan. Alam liar tidak menjamin tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Kegiatan di alam bebas adalah kegiatan dimana kita bisa terluka. Kehilangan darah adalah salah satu hal yang mengancam jiwa yang diikuti dengan hilangnya nyawa. Lalu bagaimana cara untuk menghentikan pendarahan dalam situasi survival?

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menghentikan tingkat pendarahan:

1. Angkat Bagian Tubuh

Bersihkan luka dari material yang ada. Jika mungkin, angkat bagian tubuh yang luka di atas jantung. Gravitasi akan menghentikan aliran darah dan membuatnya lebih mudah untuk berhenti.






2. Tekanan Langsung

Berikan tekanan pada luka karena darah tidak akan menggumpal sampai berhenti mengalir. Gunakan kain kasa atau kain yang tebal. Jika darah membasahi kainnya, tambahkan lapisan kain yang lain. Jangan menghapus lapisan karena akan merobek sistem pembekuan darah sehingga harus dimulai dari awal. Berikan tekanan sekitar 15 menit meski kadang juga memakan waktu lebih lama sekitar 1 jam.




Jangan khawatir untuk mencari kain yang steril. Infeksi mungkin membutuhkan waktu seminggu untuk membunuh tapi kehilangan darah bisa menjadi pembunuh utama dalam hitungan menit.


3. Tekanan Pada Arteri

Teknik ini membutuhkan pengetahuan tentang tekanan arteri utama. Jika darah tidak juga berhenti, gunakan titik-titik tekanan. Ini adalah daerah dimana pembuluh darah dekat dengan permukaan kulit. Menekan dibagian ini akan memperlambat aliran darah.





Tekan kuat antara arteri yaitu antara luka dan jantung. Titik tekanan yang umum adalah antara bahu dan siku, belakang lutut, daerah selangkangan. Ada beberapa titik arteri yang digunakan dalam pendarahan parah dan yang paling umum adalah arteri femoral dan arteri brakealis.

Arteri femoralis adalah titik tekanan untuk kaki. Ada satu di setiap paha atas, di dekat pangkal paha. Karena lokasi arteri yang dalam, membutuhkan tekanan yang lebih besar.

Arteri Brakialis adalah titik tekanan untuk tangan atau lengan. Titik ini ada di bagian lengan atas antara bisep dan trisep tepi, beberapa inci di bawah ketiak. Rasakan denyut nadi di titik tersebut dan tekanlah dengan jari atau jempol.


4. Tourniquet

Jika cedera terlalu parah sehingga ketiga metode diatas tidak bisa membendung aliran darah, tourniquet merupakan pilihan terakhir karena agak berbahaya. Anggota tubuh bisa rusak atau bahkan hilang. Jika harus melakukannya, gunakan kain dilipat atau sabuk lebar. Jangan menggunakan tali atau kawat.




Ikat tourniquet antara luka dan jantung, beberapa inci di atas luka. Gunakan simpul persegi sederhana seperti mengikat sepatu tanpa busur. Dorong tongkar melalui simpul dan putar untuk mengencangkan. Kendurkan tourniquet setiap setengah jam atau lebih untuk melihat apakah masih diperlukan untuk menghentikan pendarahan. Ketika pendarahan telah berhenti, ikat luka dengan perban ketat.

Teknik Menghentikan darah yang tidak benar dan tepat bisa menyebabkan keadaan semakin buruk hingga berakibat fatal. Untuk itulah beberapa metode tersebut perlu dipahami sebagai bekal petualangan anda. Selamat Berpetualang !
Baca lebih lanjut »

Cara Primitif Membuat Api di Alam Liar

Cara membuat api di alam liar memang cukup penting. Di alam liar, setiap orang harus mengerti ketrampilan membuat api khususnya untuk bertahan hidup sekaligus untuk membuat sinyal darurat. Anda tidak pernah tau kapan anda ada di dalam kondisi dimana api sangat dibutuhkan, namun tidak ada korek api. Dalam situasi survival ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membuat api.

Membuat api yang paling utama adalah sumbu. Yang dimaksud disini adalah rumput dan daun kering yang bisa memicu api. Berikut metode yang bisa digunakan untuk membuat api di alam liar:

1. Hand Drill

Metode ini tergolong primitif karena hanya menggunakan kayu poros yang diputar dengan tangan kosong. Yang dibutuhkan adalah kayu kering yang panjang sebagai poros, papan kayu sebagai alas dan sumbu.
Buat titik yang besarnya sama dengan kayu poros dan potong tepinya seperti huruf V agar serbuk api jatuh ke sumbu. Letakkan sumbu di bawah papan alas, kemudian putarlah kayu poros dengan tangan hingga terbentuk api.




2. Bow Drill

Sesuai namanya, busur memang dibutuhkan untuk membuat api dengan teknik bow drill. Anda perlu membuat alat semacam busur untuk memutar kayu poros. Gunakan kayu yang segar agar kulitnya bisa dugunakan sebagai tali busur. Caranya sama dengan metode Hand Drill. Pasang kayu poros di busur dan putarlah di atas alas.





3. Fire Plough

Berbeda dengan drill, keyu poros pada metode ini tidak diputar namun digesekkan kedepan dan belakang hingga ada serbuk kayu yang terbakar. Buat lekukan panjang pada alas kayu sebagai tempat gesekan serbuk kayu.






4. Metode Gesekan

Teknik ini sudah cukup modern. Yang diperlukan adalah baja, batu api dan char cloth (arang kain). Arang kain bisa dibuat dengan memasukkan kain perca di dalam kaleng besi yang sudah dilubangi, kemudian dibakar.

Cara membuat api adalah letakkan arang kain di atas batu api dan gesekkan dengan baja. Percikan api akan membakar arang kain, kemudian letakkan pada sumbu agar api menyala.





Itu adalah beberapa metode untuk membuat api dalam kondisi survival. Selain pengetahuan tentang alat dan bahan tersebut, diperlukan juga kreatifitas untuk bisa menciptakan api lebih cepat. Selamat Berpetualang!.
Baca lebih lanjut »

Sensasi Menginap Unik di Rumah Kayu dan Asiknya Paralayang di Gunung Banyak kota Batu

Liburan dan menginap di hotel tentu sudah biasa, namun bagaimana jika menginap di hotel yang didirikan di atas pohon? Ya, Kota Wisata Batu Malang menawarkan wisata unik yakni menginap di rumah pohon yang berada di atas ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Wisata ini dikenal dengan nama Omah Kayu. Penasaran?

Wisata Rumah Pohon atau Omah Kayu berada di Gunung Banyak tepatnya di lokasi Paralayang Kota Wisata Batu. Lokasinya sekitar 25 km dari kota Malang, dan cukup dekat dari destinasi wisata lainnya di kota Batu. Pohon yang digunakan sebagai hotel berada di atas Gunung Banyak (1.340 mdpl), sehingga bila menginap di rumah pohon tersebut, kita bisa melihat kota Batu seperti sebuah hamparan permadani. Di Omah Kayu ini menghadirkan suasana yang sangat alami, sejuk, dan dingin khas Batu. Tak hanya itu, pada siang hari terdengar suara kicauan berbagai burung. Pesona yang luar biasa ini membuat banyak orang tertarik untuk menginap dan memesan kamar hotel tersebut jauh hari.

Hotel yang didirikan oleh Perhutani pada bulan Februari 2014 lalu ini memiliki jumlah kamar yang masih terbatas yakni 6 unit saja. Setiap kamar per unit berkapasitas 2 orang atau maksimal 3 orang saja. Ruangan Omah Kayu berukuran sekitar 3 m X 2 m dan seluruhnya terbuat dari kayu yang menempel di atas pohon dan dilengkapi dengan balkon. Bahan papan kayu yang menjadi dinding disusun rapat sehingga penghuninya tetap hangat terutama saat malam hari dan menjelang pagi. Di dalamnya telah disediakan satu kasur kecil, 2 bantal, sebuah selimut dan beberapa peralatan makan. Oya, di dalam rumah pohon tidak disediakan kamar mandi karena ruangannya terbatas. Tetapi Anda tidak perlu khawatir karena pengelola telah menyediakan 2 kamar mandi yang dilengkapi dengan air hangat di sekitar Omah Kayu tersebut.

Rumah-rumah pohon berada di batang pohon dengan ketinggian sekitar 10 meter dari akar. Anak tangga mendekati rumah kayu disusun rapi meski hanya terbuat dari tanah dan kayu. Semua Omah Kayu itu menghadap ke bagian tenggara, sehingga pengunjung yang datang bisa menikmati pemandangan berupa suasana kota, landing paralayang, deretan villa Songgoriti hingga puncak Gunung Panderman.


Saat menginap di tempat ini, Anda bisa menyaksikan keindahan pemandangan kota Batu. Terutama saat malam hari, suasananya sangat indah, kelap kelip lampunya seperti hamparan permata. Apalagi jika tepat pada bulan purnama, pemandangannya luar biasa indah. Saat pagi kicauan burung yang hidup bebas di antara pepohonan pinus akan membangunkan tidur Anda. Kita bisa bersantai-santai di teras Omah Kayu, atau sekedar duduk-duduk di kursi kayu yang sengaja dibuat menghadap tebing oleh pengelola. Selain kursi kayu, ada pula tempat perapian dan ‘hammock‘ yang semakin mengesankan tempat ini sebagai tempat peristirahatan yang tenang dan damai. Jika beruntung, dari atas rumah pohon kita bisa melihat orang-orang yang sedang melakukan paralayang.

Biaya untuk menginap di rumah pohon ini tidak terlalu mahal. Cukup mengeluarkan uang Rp 300.000 untukweekday dan Rp 450.000 untuk weekend sudah bisa menikmati sensasi bermalam di Omah Kayu yang suasananya sangat hening tersebut. Wisatawan akan mendapatkan breakfast dan fasilitas mandi air hangat. Selain itu, setiap tamu yang menginap akan mendapat 2 bibit pohon yang wajib ditanam untuk menjaga kelestarian alam. Begitu checkout, kita tidak boleh langsung pulang tetapi harus menanam bibit pohon tersebut. Pengunjung boleh memberi nama pohon itu dan akan abadi hingga 5 atau 10 tahun ke depan.

Menariknya, pengelola juga memberikan kesempatan pada wisatawan yang hanya ingin berfoto di areal hotel. Jika tertarik memasuki area Omah Kayu ini, pengunjung akan dikenakan tiket masuk sebesar Rp 5.000. Retribusi ini berbeda dengan retribusi masuk taman wisata Gunung Banyak yang harganya juga Rp 5.000.
Gunung Banyak atau yang lebih dikenal banyak orang sebagi wisata paralayang atau paragliding yang terletak di kota Batu Malang merupakan tempat tujuan wisata yang sangat menakjubkan, perpaduan antara keindahan alam pegunungan, hutan di samping kanan dan kiri dari gunung banyak di tambah tatanan kota dan perkampungan dari kota batu yang terlihat dibawahnya. Gunung banyak ini sendiri memiliki ketinggian kurang lebih 1315 mdpl dan merupakan tempat dimana olahraga yang dalam bahasa inggrisnya paragliding ini di adakan yaitu pada saat PON.Ketika menyebut nama gunungnya mungkin tidak akan banyak orang yang tahu akan keindahannya, namun kalau dengan menyebut paralayang pasti semua orang langsung tahu, paralayang sendiri merupakan olahraga dirgantara dimana kebanyakan dari kita tidak bisa melihat apalagi merasakannya secara langsung, selain harganya mahal juga tidak sembarang tempat ada. Disinilah kita akan bisa melihatnya secara langsung dari dekat jika beruntung.

Akses untuk mencapai lokasi Omah Kayu cukup mudah. Dari Alun-alun Kota Batu, Jatim Park I, dan Agro Kusuma hanya sekitar 15 menit. Atau hanya sekitar 6 menit perjalanan dari Taman Wisata Songgoriti. Anda bisa mengikuti rute menuju Taman Wisata Songgorti. Sempatkan pula untuk mencoba wisata Paralayang.



Wisata paralayang ini sendiri berbatasan langsung dengan Kecamatan Pujon, dan pastinya dekat dengan air terjun coban rondo yang sangat indah itu. Dalam setiap harinya banyak sekali pengunjung yang datang kesini baik dari dalam negeri maupun luar negeri, kebanyakan dari mereka semua kesini hanya untuk berfoto ria alias foto selfie karena pemandangan yang sangat benar-benar bagus.
Baca lebih lanjut »

Uji Nyali di Tebing Citatah

Bagi anda penikmat wisata olahraga yang memacu adrenalin, tak lengkap rasanya jika anda belum mencoba olah raga panjat tebing di Citatah, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Tebing yang memiliki karakteristik batuan kapur ini bisa menjadi alternatif wisata untuk mengisi liburan panjang.

Tebing Citatah yang berlokasi 5 kilometer dari gerbang tol Padalarang ini memiliki karakteristik batuan kapur yang aman untuk dipanjat. Ada tiga tebing utama yang biasa digunakan untuk pemanjatan, yaitu Citatah 48, CItatah 90, Citatah 125. Tebing tersebut diberi nama sesuai dengan ukuran ketinggiannya.

Tebing Citatah 48, yang biasa disebut warga sekitar sebagai Gunung Tebing Manik, memiliki 25 jalur pemanjatan. Tebing ini juga kerap disebut Tebing Komando karena berada di bawah pengawasan Kopassus. Di puncak tebing ini terdapat tugu pisau yang menjadi ciri khas dari tebing ini. Jika ingin memanjat tebing ini, anda harus mengurus izin pemanjatan ke Pusat Pendidikan Latihan Khusus (Pusdipassus) yang berlokasi di Batujajar, Bandung.

Kemudian, untuk Tebing Citatah 90 letaknya berdekatan dengan Tebing Citatah 48. Untuk Tebing Citatah 90 kurang direkomendasikan untuk melakukan pemanjatan karena medan tebing yang lebat oleh pepohonan dan hanya terdapat dua hanger (gantungan pengaman) di tebing tersebut. Di tebing ini juga terdapat aktivitas penambangan kapur dan batuan marmer yang membuat kegiatan pemanjatan menjadi kurang kondusif.

Terakhir adalah Tebing Citatah 125 yang lokasinya 500 meter dari Tebing Citatah 90. Tebing ini merupakan tebing yang paling populer di kalangan pemanjat karena tebing ini memiliki ketinggian ideal untuk pemanjatan dan jalur pemanjatan yang cukup variatif. Di ketinggian 30 meter dari tebing terdapat goa alami yang biasa digunakan untuk melakukan kepentingan pemanjatan dan tempat beristirahat bagi para pemanjat.

Untuk bisa menggunakan Tebing Citatah 125 ini, anda hanya perlu meminta izin kepada ketua RT atau pengurus Karang Taruna Pabeasan. Tebing ini berada dalam pengawasan warga Pabeasan yang mengurus fasilitas umum seperti toilet dan saung-saung di sana.

Bagi anda yang berminat melakukan pemanjatan, anda hanya perlu mempersiapkan peralatan panjat sesuai dengan prosedur dan mengajak rekan anda yang sudah cukup berpengalaman di bidangnya. Beberapa peralatan yang dibutuhkan seperti carabiner, harness, tali kernmantel, sepatu panjat, figure eight, dan lain sebagainya.

Ada baiknya, bagi pemula anda melakukan kegiatan free climbing dan harus dijaga oleh seorang belayer ketika memanjat. Hal yang perlu diingat dalam melakukan pemanjatan adalah tetap menjaga etika sopan santun antar pemanjat di sana dan menjaga kebersihan lokasi pemanjatan. Selamat mencoba!


Baca lebih lanjut »

Teknik Memancing di Laut Lepas

Kegiatan memancing di laut disamping sebagai sumber mata pencarian bagi nelayan dapat juga digunakan sebagai kegiatan wisata atau hiburan bagi orang-orang tertentu yang mempunyai hobi memancing. Bahkan, ada yang menggolongkan memancing sebagai kegiatan olah raga.

Beberapa tahun terakhir ini memancing di laut sebagai sarana wisata bahari terus digalakkan. Kegiatan ini ditujukan untuk menunjang pariwisata bahari di Indonesia. Bahkan, sering di lakukan lomba yang bersifat lokal atau nasional. Lomba internasional baru diselenggarakan pada tahun 1992 dan mengambil lokasi di perairan Menado dan Selat Sunda.

Dengan diadakannya lomba memancing di laut, diharapkan wisatawan dari mancanegara tertarik untuk berkunjung ke Indonesia. Mereka, disamping menikmati keindahan pantai dan dasar laut negeri ini, dapat juga menyalurkan hobi memancingnya.

SARANA
Beberapa sarana harus dilengkapi sebelum memancing di laut. Sarana yang diperlukan tergantung pada lokasi memancing. Di perairan dekat pantai misalnya, tentu tidak dibutuhkan kapal. Disini hanya perlu pancing dan perlengkapannya. Lain lagi dengan memancing di perairan yang jauh dengan pantai, sarana kapal mutlak diperlukan. Tanpa adanya kapal mustahil kita dapat memancing di laut lepas yang mempunyai kedalaman puluhan bahkan ratusan meter.

1. Kapal
Sebenarnya semua jenis kapal dapat di gunakan untuk memancing di laut asalkan laik laut. Meskipun demikian,ada kapal-kapal khusus yang memang didesain untuk keperluan rekreasi termasuk memancing. Jenis kapal ini umumnya lebih nyaman dibanding kapal nelayan,tetapi sudah barang tentu ongkos sewanya cukup mahal.

Kapal yang khusus disewakan untuk rekreasi atau memancing umumnya berukuran kecil,antara 10-20 groos tone (GT),dan terbuat dari bahan fiberglas. Kapal seperti ini di lengkapi peralatan navigasi seperti peta,kompas,alat pengukur kecepatan angin,dan sebagainya. Bahkan, ada yang mempunyai alat navigasi canggih seperti alat pengukur kedalaman yang otomatis (echosounder)dan alat penentuan posisi laut yang dikenal dengan sebutan GPS (Global positioning system).
GPS dapat digunakan untuk menentukan posisi kapal dilaut (beberapa derajat bujur dan lintang). Dengan alat ini, kemungkinan kapal tersesat di laut menjadi kecil. Di samping itu, pemancing juga dapat menandai lokasi dimana pernah tertangkap jenis ikan tertentu pada suatu perairan.

Demi kenyamanan dan keselamatan memancing di laut, alangkah baiknya jika kapal dilengkapi dengan atap atau tenda agar pemancing tidak kehujanan atau kepanasan. Atap ini dapat di pasang secara permanen atau sementara. Atap demikian biasanya dibutuhkan bagi kapal sewaan dari nelayan yang memang bukan didesain untuk kebutuhan rekreasi, sedangkan kapal untuk rekreasi umumnya sudah dilengkapi dengan atap.

Biaya untuk memiliki sebuah kapal memang cukup mahal apalagi jenis kapal rekreasi. Meskipun demikian, bagi yang mempunyai hobi rekreasi di laut, termasuk pemancing, tidak perlu berkecil hati. Kapal untuk keperluan memancing dapat di sewa di tempat penyewaan, terutama di tempat rekreasi, misalnya Ancol, Pelabuhan Ratu, Anyer dan Menado. Ongkos sewa kapal seperti ini mencapai ratusan sampai jutaan rupiah setiap harinya, tergantung ukuran dan kenyamanan kapal.

Apabila kita memancing di daerah yang bukan tempat rekreasi, kita dapat menyewa perahu atau kapal nelayan setempat. Ongkos sewa perahu nelayan tentunya lebih murah, juga tergantung pada besar kecilnya kapal. Sebagai contoh, di daerah Labuan, Jawa Barat, ongkos sewa kapal motor antara Rp 50.000,- s/d Rp 200.000,- per hari. Ongkos ini tidak termasuk bahan bakar dan upah nelayan yang bertindak sebagai pemandu.

2. Pancing
Semua jenis pancing dapat digunakan untuk memancing di laut. Untuk memancing di dekat pantai, dapat di gunakan pancing tegeg, golong, spining, maupun bait casting. Untuk memancing di laut dalam bisa di gunakan golong, spining, atau bait casting.

3. Sabuk tempat joran
Sabuk ini bisa terbuat dari plastik atau sejenis parasut. Pada bagian tengahnya dilengkapi lubang sebagai tempat untuk meletakkan pangkal joran (rod holder). Pemancing memakai alat ini pada saat menghajar ikan. Saat menarik ikan, pangkal joran dimasukkan kedalam lubang sabu, baru gulungan yang ada di joran diputar perlahan-lahan sehingga tali pancing akan menggulung dan ikan akan mendekat ada lambung kapal. Sabuk seperti ini diperlukan untuk memancing di laut lepas, terutama untuk pancing tonda yang menggunakan joran.

4. Ganco dan serok
Ganco diperlukan untuk memudahkan mengangkat ikan besar seperti marlin, tuna, atau layaran yang dipancing dari laut lepas. Jenis ikan ini sulit dinaikkan ke atas kapal dengan menggunakan tangan karena disamping berat, tenaga yang dimiliki juga kuat sehingga membahayakan pemancing.
Ganco berbentuk seperti alat pengait yang ujungnya dibuat tajam dan berbentuk melengkung. Tangkai ganco bisa dibuat dari kayu sepanjang maksimum 2,43 m. Demi keamanan, tangkai ganco bisa diikat dengan tali pengaman. Tali ini berfungsi sebagai pengaman. Apabila ikan tangkapan lepas bersama ganconya, tali pengaman masih berada di kapal sehingga mudah ditarik kembali. Panjang tali ini menurut aturan game fishing tidak melebihi 9,14 m.

Serok umumnya digunakan untuk mengangkat ikan kecil yang dipancing di perairan pantai yang dangkal. Serok dibuat dari jaring bermata kecil 2-2,5 cm dan dibentuk seperti kantong. Mulut serok diberi kerangka besi berbentuk bundar. Untuk memudahkan penggunaany, serok dilengkapi dengan tangkai kayu sepanjang 1-1,5 m.

5. Tempat menyimpan ikan
Agar ikan hasil pancingan tidak mudah busuk, perlu disediakan tempat penyimpanan khusus. Untuk pemancingan yang dilakukan kurang dari satu hariatau beberapa jam saja, ikan bisa disimpan/diletakkan pada kantong jaring atau anyaman bambu yang dinamakan kepis. Alat ini dilengkapi dengan tali dan dimasukkan ke dalam air sehingga ikan yang tertangkap bisa tetap segar. Peralatan ini sering digunakan untuk pemancingan diperairan dekat pantai seperti di dermaga.

Untuk memancing di perairan lepas pantai yang menggunakan kapal dan membutuhkan waktu lebih dari satu hari, perlu adanya tempat khusus untuk menyimpan ikan hasil tangkapan. Untuk kapal yang telah dilengkapi palka ikan (tempat untuk menyimpan ikan), ikan langsung dimasukkan ke tempat tersebut. Untuk kapal kecil yang tidak dilengkapi palka, bisa menggunakan kotak pendingin (cold box). Alat ini dapat digunakan untuk menyimpan es dalam waktu yang agak lama. Dengan demikian, ikan yang dimasukan ke dalam kotak ini tidak akan membusuk. Ada beberapa ukuran cold box di pasaran, yaitu 0,5 m3, 0,75 m3 dan 1 m3.

6. Umpan
Umpan berfungsi untuk memikat ikan agar terkait pada mata pancing. Terkaitnya ikan terhadap umpan disebabkan oleh rangsanganberupa bau, rasa, bentuk, gerakan dan warna. Umpan yang digunakan untuk memancingikan di laut berbeda dengan umpan yang digunakan untuk memancing ikan di air tawar.
Umpan yang sering digunakan untuk memancing ikan di laut ada beberapa macam, yaitu umpan palsu atau tiruan dan umpan sungguhan(baik yang hidup maupun yang mati).

a. Umpan palsu/tiruan
Umpan tiruan lebih dikenal dengan sebutan lure, dapat terbuat dari plastik atau bulu binatang. Untuk mengelabuhi ikan, ada berbagai macam bentuk umpan tiruan, antara lain berbentuk ikan kecil dan cumi-cumi. Umpan tiruan ini umumnya berwarna menarik sehingga mudah dilihat ikan karena daya penglihatannya di dalam air cukup tajam.

Kemampuan ikan untuk melihat suatu benda di dalam air tergantung pada aktivitas retina matanya. Pada retina mata ikan terdapat rod dan cone yang mampu menyerap cahayadengan baik. Oleh sebab itu, pemilihan warna umpan tiruan sangat menentukan keberhasilan memancing di laut. Umpan tiruan yang berwarna mencolok seperti merah, orange, jingga lebih baik digunakan pada saat perairan air keruh. Sedang umpan tiruan warna perak, hitam, biru atau hijau digunakan jiak air laut jernih. Disamping itu tergantung juga dari jenis ikan yang menjadi sasaran. Sebagai contoh, untuk menangkap ikan tuna dan cakalang dengan tonda, penggunaan umpan tiruan berwarna merah dan biru ternyata lebih baik daripada umpan berwarna kuning. Pemakaian umpan tiruan lebih banyak digunakan pada teknik menonda (trolling).

Pemasangan umpan tiruan harus menjadi satu dengan mata pancing. Pada satu umpan tiruan kadang-kadang dapat menggunakan lebih dari satu mata pancing. Untuk umpan tiruan yang berbentuk cumi-cumi, posisi mata pancing harus terletak di dalam rumbai-rumbainya. Pemasangan mata pancing tidak boleh terlalu menonjol ke luar. Dengan cara seperti ini, saat umpan dimakan ikan, mata pancingnya pun akan ikut termakan.
Untuk satu buah umpan yang menggunakan dua buah mata pancing, jarak pemasangan mata pancing pertama dan kedua tidak boleh terlalu rapat atau terlalu renggang. Jarak optimumnya kurang lebih sepanjang tinggi mata pancing.

b. Umpan hidup
Memancing di laut dapat juga menggunakan umpan hidup berupa ikan kembung atau banyar. Ikan umpan ini dapat dibeli pada nelayan yang melakukan penangkapan ikan dengan alat tangkap sero atau bagan. Ikan umpan yang masih hidup disimpan di tempat khusus yang di dalamnya dapat diisi air laut. Kalau sirkulasi airnya bagus, aikan umpan ini mampu bertahan agak lama, sampai beberapa jam. Ukuran ikan yang digunakan untuk umpan induk beratnya sekitar 200 gram.

Cara pemasangannya, mata pancing dikaitkan pada punggung ikan yang masih hidup. Ikan yang masih mampu bergerak ini kemudian dilepas ke laut. Ikan umpan akan berenang ke sana ke mari sehingga mampu menarik perhatian ikan-ikan besar untuk memakannya. Cara pemancingan dengan menggunakan umpan hidup sering digunakan pada pemancingan dengan cara “ngocer”.
c. Umpan mati
Pemakaian umpan sungguhan yang telah mati dapat berupa ikan, cumi-cumi, udang atau cacing laut. Umpan tersebut dapat digunakan dalam bentuk utuh ataupun dipotong-potong. Hal ini tergantung pada ukuran pancing yang digunakan dan jenis ikan yang menjadi sasaran. Untuk memancing ikan kecil di dekat pantai, digunakan umpan yang telah dipotong dalam ukuran kecil, sedangkan untuk memancing ikan besar di tengah laut, bisa digunakan umpan dalam bentuk utuh.

Tertariknya ikan pada umpan ini kemungkinan disebabkan adanya rangsangan berupa bau. Jenis umpan ini umumnya digunakan untuk pemancingan di dasar atau di dekat pantai. Umpan ini dapat dibeli di tempat pendaratan ikan atau pasar setempat. Untuk umpan yang masih utuh berupa cumi-cumi atau udang, mata pancingnya dapat langsung dikaitkan pada badannya. Khusus umpan berupa ikan, mata pancing lebih baik dikaitkan pada mata ikan tersebut. Sebelum ikan digunakan untuk umpan, isi perutnya bisa dikeluarkan dulu atau dibiarkan utuh.

7. Rumpon
Rumpon adalah suatu benda yang sengaja dipasang oleh manusia di suatu perairan atau di laut yang berfungsi untuk mengumpulkan ikan sebelum dilakukan penangkapan atau pemancingan. Pemakaian rumpon untuk usaha perikanan sudah lama dilakukan oleh nelayan kita, namun untuk kebutuhan pemancingan sebagai hobi atau sport masih jarang dilakukan. Dengan bantuan rumpon kita akan lebih pasti untuk mendapatkan lokasi pemancingan yang ada ikannya.

Satu unit rumpon dapat terdiri dari pelampung, tali-temali, alat pengumpul ikan, dan jangkar atau pemberat. Bahan pelampung dapat berupa rakit bambu, pelampung plastik, atau drum. Daun kelapa atau ban-ban bekas dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengumpulkan ikan. Tali-temali dapat dibuat dari tali ijuk tau tali polyetilen/ plastik. Sedangkan sebagai pemberat dapat menggunakan jangkar besi, batu, atau semen beton.
Dilihat dari posisi pemasangan alat pengumpul ikannya, rumpon dapat digolongkan menjadi tiga jenis: rumpon lapisan permukaan, rumpon lapisan tengah rumpon dasar. Ada beberapa alasan mengapa ikan tertarik pada rumpon, diantaranya rumpon dapat digunakan sebagai tempat berlindung ikan dan berkumpulnya makanan. Dengan adanya rumpon, banyak plankton yang menempel atau hidup disekitarnya sehingga dapat menarik ikan-ikan kecil. Pada akhirnya jenis ikan besar akan datang untuk memakan ikan kecil tersebut.

Pemancingan di sekitar rumpon memang belum banyak dilakukan terutama untuk pemancingan ikan yang hidup dekat permukaan. Meskipun demikian, untuk pemancingan ikan dasar, sudah banyak yang memanfaatkan rumpon seperti yang dilakukan pemancing-pemancing di perairan Kepulauan Seribu. Pemancing disana memanfaatkan becak-becak bekas yang dibuang ke laut sebagai rumpon.
Dengan adanya rumpon, kita tidak akan kesulitan mencari lokasi pemancingan. Disekitar rumpon kita dapat melakukan segala macam teknik pemancingan baik memancing di dasar, di lapisan tengah, maupun di permukaan.

LOKASI MEMANCING
Indonesia terdiri dari beribu-ribu pulau dan kurang dari 2/3 wilayahnya berupa lautan. Karena luasnya perairan laut di negeri ini, maka tidak terlalu susah rasanya untuk memilih lokasi pemancingan.
Memancing di laut dapat dilakukan di perairan dangkal yang dekat dari pantai atau di perairan dalam yang jauh dari pantai. Semuanya tergantung pada keinginan, dana, dan kelengkapan sarana. Memancing di sekitar pantai atau perairan dangkal dapat dilakukan di dermaga, anjungan pelabuhan, atau di perairan karang dekat pantai.

Penentuan lokasi pemancingan yang tepat di laut memang agak sulit, apalagi di perairan lepas. Dalam hal ini peran nelayan setempat sangat membantu. Mereka biasanya lebih mengetahui di mana perairan karang berada dan di mana terdapat lokasi ikan-ikan tertentu. Hal ini didasarkan pada pengalaman mereka selama bertahun-tahun di laut. Oleh sebab itu, bagi yang tidak mau mengambil resiko salah dalam memilih lokasi, bisa meminta bantuan nelayan setempat sebagai penunjuk jalan. Hal seperti ini sering dilakukan oleh sebagian besar pemancing di laut. Bahkan, kadang-kadang sekalian menyewa perahu mereka.
Jika memperhatikan posisi mata pancing di dalam air, memancing di laut dapat dilakukan di dekat permukaan , di lapisan tengah, atau di dasar perairan. Dengan adanya lokasi pemancingan yang berbeda ini tentunya diperlukan teknik pemancingan yang berbeda pula. Teknik memancing dekat permukaan akan berlainan dengan teknik memancing di dasar.
Cara memancing di laut memang dapat dikatakan lebih rumit dibandingkan cara memancing di air tawar. Namun, apabila menguasai tekniknya, memancing di laut akan terasa lebih mengasyikkan. Jenis ikan di laut umumnya lebih beragam dan ukurannya lebih besar dibandingkan ikan air tawar.

1. Memancing di dekat permukaan
a. Penentuan lokasi
Lokasi pemancingan di dekat permukaan agak sulit ditentukan. Untuk keperluan ini ada beberapa cara yang dapat di tempuh. Di samping meminta bantuan nelayan setempat, perlu juga di ketahui kejadian-kejadian dilaut sebagai pertanda adanya gerombolan ikan. Adanya gerombolan ikan di tandai dengan perubahan warna aair, bentuk air yang beriak atau berbuih,adanya ikan-ikan yang saling berlompatan ke atas, dan banyak burung camar yang menukik-nukik di permukaan laut. Dengan tanda-tanda seperti itu dapat dipastikan perairan tersebut banyak ikannya.

Lokasi pemancingan di dekat permukaan bisa juga terdapat di perairan dalam yang mempunyai dasar karang. Ada tidaknya karang bisa diketahui dengan melihat peta laut atau berdasarkan petunjuk nelayan setempat. Di perairan seperti ini biasanya terdapat berbagai macam organisme yang menjadi makanan ikan.
Jenis ikan pelagis (permukaan) seperti tuna, cakalang, lemadang, barakuda, kembung dan marlin mudah tertarik pada benda-benda yang terapung dilaut. Kejadian seperti ini sering kali di manfaatkan oleh nelayan dalam menentukan lokasi penangkapan. Mereka sering melakukan penangkapanikan disekitar benda-benda terapung tersebut. Dengan dasar seperti itu, di buatlah tipuan dengan memasang benda yang menetap di laut. Benda mengapung yang sengaja dipasang untuk mengumpulkan ikan ini dinamakan rumpon.

b. Kapal untuk pancing tonda
Kapal yang didesain untuk memancing ikan dengan tonda (trolling) biasanya berbentuk agak ramping. Dengan bentuk seperti ini gerakan kapal menjadi lebih lincah. Selain itu, kapal juga di lengkapi dengan mesin-mesin kecepatan tinggi, bahkan kadang-kadang ada yang menggunakan mesin ganda. Keberhasilan memancing dengan tonda memang sangat dipengaruhi oleh laju kapal yang di gunakan. Untuk keberhasilan menonda sebaiknya menggunakan kapal dengan kecepatan antara 10-12 knot.

Bagian belakang kapal (burutan) sebaiknya dibuat agak lebar agar pemancing lebih leluasa dan lebih mudah menaikan ikan ke atas kapal. Jika pemancing menggunakan lebih dari satu unit pancing, biasanya kapal di beri tambahan babarapa palng yang terbuat dari kayu atau fiberglas. Palang-palang ini dinamakan out rigger dan dipasang pada bagian kiri dan kanan lambung kapal yang menjorok keluar atau pada bagian belakang kapal. Pada ujung kapal diberi cincinpenyalur sebagai tempat pemasukan tali pencing yang berasal dari joran. Dengan adanya palang ini, kita dapat menggunakan beberapa unit pancing tonda dalam satu kapal tanpa khawatir terjadinya tali kusut atau penyangkutan satu sama lain.

Dengan menggunakan pancing tinda, ikan yang tertangkap umumnya berukuran besar seperti ikan tuna, tenggiri, lemadang, layaran atau marlin. Karena besar dan kuatnya ikan yang tertangkap, ada kemungkinan pemancing terbawa oleh gerakan ikan dan bisa terjebur ke laut. Oleh karena itu, demi keselamatan pemancing, ada tipe kapal untuk pancing tonda yang dilengkapi dengan tempat duduk pengaman. Tempat duduk ini bisa dipasang secara permanen di ats kapal dan di lengkapi dengan sabuk pengaman.

c. Pancing dan umpan
Memacing dekat permukaan sering dilskukan dengan pancing tonda (trolling). Pancing yang digunaka untuk menonda dapat dilengkapi dengan joran atau tanpa joran. Namun, demi keamanan dan kenyamanan si pemancing lebih baik menggunakan joran. Pancing tanpa joran biasanya talinya sulit ditarik saat mata pancing dimakan ikan. Apalagi bila ikan yang didapat berukuran cukup besar.

Ikan yang baru terkait mata pancing biasanya mempunyai tenaga melawan yang luar biasa. Jika pemancing tidak mampu menarik atau bertarung dengan tenaga ikan, tidak jarang tali langsung dilepas bersama dengan ikan yang sedang kesakitan. Jika pemancing tetap mempertahankan tali, bisa jadi tangan pemancing kesakitan karena tergores oleh tali yang ditarik ikan. Akhirnya, bukan ikan yang didapat melainkan jari tangan yang terluka.
Dengan joran yang dilengkapi dengan gulungan, pemancing dapat memancing lebih aman dan nyaman. Memang, tidak sembarangan joran dapat digunakan untuk menonda. Pilihlah joran yang mempunyai kelenturan dan kekuatan yang bagus. Bahan joran yang bagus terbuat dari fiberglass. Untuk pancing tonda, kurang nyaman kalau memakai joran yang terlalu panjang. Ukuran yang ideal antara 1-1,5 m.

Gulungan tali yang bagus biasanya mampu memuat ratusan meter tali dan bisa berbunyi saat tali ditarik ikan. Tali yang dipergunakan terbuat dari nylon monofilamen (senar) dengan ukuran yang disesuaikan dengan berat ikan yang menjadi sasaran. Karena pancing tonada umumnya ditujukan pada jenis ikan pelagis yang berukuran beasr, maka diperlukan mata pancing yang berukuran agak besar, nomor 5-7.

Pabcing tonda biasanya menggunakan umpan sungguhan atau tiruan. Meskipun demikian kebanyakan pemancing menggunakan umpan tiruan yang berbentuk cumi-cumio atau ikan. Bahkan, ada yang ada yang menggunakan tali rafia atau plastik yang dirumbai-rumbai. Untuk umpan sungguhan, biasanya menggunakan ikan kembung atau ikan layang berukuran kecil yang telah mati.

d. Cara memancing
Memancing dengan tonda sebaiknya dilakukan siang hari karena kita menggunakan umpan tiruan untuk mengelabuhi penglihatan ikan. Kegiatan ini dimulai dengan mempersiapkan pancingyang terdiri dari joran, gulungan, tali pancing, mata pancing dan umpan. Keadaan mata pancing perlu diperhatikan atakah masih tajam atau tidak. Apabila sudah tumpul, mata pancing perlu ditajamkan dengan alat pengasah, seperti pengasah pisau atau gerinda batu.
Bagi pemancing tonda yang sudah berpengalaman, kegiatan ini dimulai dari pengaturan tali pada gulungan. Gulungan dilengkapi dengan alat pengatur ketegangan yang memiliki tuas dengan skala yang dapat diatur sesuai kehendak pemancing. Dalam skala tersebut tertera angka yang dapat digunakan sebagai pedoman untuk menentukan ketegangan tali pancing.

Kekuatan tali (breaking streang) bisa diukur dengan menggunakan timbangan pegas. Cara pengukurannya dapat dilakukan oleh dua orang. Satu orang memegang joran, sedang yang lain menarik tali yang telah digantungi timbangan pegas. Pengukuran ini sangat penting, apabila kita salah menyetel gulungan akibatnya tali mudah putus jika ditarik ikan.

Setelah tali dipasang pada joran, mata pancing yang telah dilengkapi dengan umpan bisa disambungkan pada tali senar. Antara tali senar dan mata pancing umumnya menggunakan tali wire dari monel atau bisa juga tali senar yang berukuran besar. Hal ini untuk menghindari tali putus akibat gigitan ikan yang bergigi tajam. Panjang tali monel ini antara 1-1,5 m yang dipasang langsung pada mata pancing. Pancing tonda dapat menggunakan umpan tiruan atau sungguhan, namun yang sering dipakai adalah umpan tiruan, baik yang menyerupai ikan atau cumi-cumi. Dengan umpan tiruan ini, setiap umpan dapat digantungi lebih dari satu mata pancing.

Pancing yang telah dirangkai dalam satu unit siap untuk dioperasikan di laut. Dengan kecepatan kapal yang tidak terlalu tinggi, antara 3-4 knot, pancing diturunkan berlahan-lahan. Panjang tali pancing yang tepat untuk menonda tergantung pada kecepatan kapal. Dengan kecepatan normal, antara 10-12 knot, panjang tali yang sesuai adalah 20-25 m. Meskipun demikian, ini bukan ketentuan yang baku. Sebagai patokannya adalah bila umpan kelihatan melayang di permukaan laut saat tali ditarik oleh kapal. Dalam hal ini dituntut kejelian pemancing atau nakhoda kapal dalam memperhatikan gerakan umpan tersebut. Ikan-ikan pelagis yang menjadi sasaran lebih tertarik pada benda yang bergerak atau berenang menyerupai ikan atau cumi-cumi hidup.

Apabila tali pancing telah diulur (di area) dan umpan sudah bisa melayang-layang di permukaan, maka tuas yang ada pada gulungan tali bisa dikunci dengan cara menyetel tuas pada posisi ½ nya. Dengan cara seperti ini apabila mata pancing disambar ikan, tali pada gulungan akan mengulur dengan cepat sehingga menimbulkan bunyi “wee..k” menyerupai bunyi bel. Ini menandakan bahwa ada ikan yang terkait pada mata pancing sehingga perlu segera dilakukan penarikan.
Setelah penurunan pancing beserta talinya dianggap beres dan tepat, joran dapat diletakan pada tempat joran, bagi kapal yang dilengkapi tempat joran (road holder). Bagi kapal yang tidak mempunyai tempat joran, maka pemancing harus memegang joran tersebut. Khususnya pancing tonda yang tidak menggunakan joran, tali pancing bisa diikatkan pada bagian belakang (buritan) kapal.

Dalam satu kapal kadang-kadang menggunakan lebih dari satu joran untuk menonda, bahkan ada yang menggunakan enam joran sekaligus. Ini tentunya membutuhkan out rigger agar tali pancing bisa memencar, tidak saling bersangkutan. Cara pemasangan tali dan mata pancing pada joran sama dengan pancing yang pertama. Hanya saja, disini kebutuhan tali pancingnya berbeda antara joran yang dipasang di luar dengan yang di dalam. Joran yang dipasang di luar membutuhkan tali yang lebih panjang.

Jika joran semua telah terpasang pada tempatnya, kapal dapat bergerak dengan kecepatan antara 10-12 knot. Laju kapal diusahakan stabil sehingga umpan akan bergerak sesuai dengan yang diharapkan. Apabila kecepatan kapal dinaikan, ada kemungkinan umpan akan terbang. Sebaliknya jika kapal dilambatkan, umpan akan tenggelam ke dalam air. Dalam hal ini kemahiran Nakhoda megendalikan kapal sangat diperlukan.
Untuk membuat umpan lebih aktif, bisa melayang dipermukaan air, kapal dapat dijalankan dengan gerakan zig-zag (berjalan tidak lurus). Dengan cara seperti ini gerakan permukaan air akan lebih banyak sehingga umpan kelihatan lebih aktif dan akhirnya mampu menarik perhatian ikan pelagis. Perlu juga diketahui bahwa kebanyakan ikan pelagis mudah tertarik pada permukaan air laut yang bergerak seperti bekas permukaan yang telah dilewati oleh kapal. Oleh karena itu sering kita jumpai ikan lumba-lumba, cakalang, tuna dan marlin mengikuti kapal yang sedang berlayar di laut.

e. Teknik menghajar ikan
Untuk pancing yang menggunakan gulungan, termakannya umpan oleh ikan ditandai oleh bunyi uluran tali yang menyerupai bel, sedangkan untuk pancing yang dipegang terasa ada sentakan dari dalam air. Kejadian ini adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh setiap pemancing. Dengan adanya tarikan ini, pemancing secara spontan berteriak pada Nakhoda untuk menaikan kecepatan kapal. Hal ini dilakukan agar ikan yang memakan umpan cepat tersangkut pada mata pancing. Jika kecepatan kapal tidak dinaikan, ada kemungkinan ikan melepaskan kembali umpan yang telah masuk ke mulutnya. Bila Nakhoda yakin bahwa ikan telah tersangkut pada mata pancing, kecepatan kapal segera diturunkan sampai lebih pelan dari kecepatan normal menonda. Dalam keadaan seperti ini tetap diperlukan keahlian Nakhoda, jika Nakhoda tidak pintar dalam mengendalikan kapal, ada kemungkinan ikan terlepas kembali.
Setelah kapal berjalan pelan atau berhenti, penarikan tali pancing bisa dimulai, ini dinamakan fighting time. Pemancing profesional biasanya menggunakan sabuk yang telah dilengkapi dengan tempat joran untuk menarik tali pancing. Joran diambil dari rod holder, kemudian dipegang oleh pemancing dengan cara meletakan bagian bawah joran pada sabuk yang telah dilengkapi dengan lubang tempat joran. Tali pancing kemudian digulung perlahan-lahan dengan memutar alat putar yang terdapat pada gulungan.

Irama menggulung tali harus disesuaikan dengan gerakan ikan. Apabila ikan kelihatan melawan,tali harus di hentikan. Sebaliknya bila ikan kelihatan kelelahan, tali harus segera digulung. Demikian seterusnya hingga ikan mendekati kapal. Teknik menggulung tali ditentukan oleh keahlian si pemancing dan dibutuhkan kesabaran yang luar biasa. Apabila si pemancing ceroboh dan tidak sabar ada kemungkinan ikan lepas atau tali putus.
Bagi pemancing yang benar-benar lihai dalam hal tarik ulur dengan ikan, mungkin dalam waktu yang singkat ikan sudah dapat dinaikan ke kapal. Bahkan, mereka juga bisa menangkap ikan yang berukuran besar dengan menggunakan tali yang berukuran relatif lebih kecil. Kelihaian ini pada lomba memancing bisa memperoleh nilai tambah pada kriteria penilaian.

Yang perlu diperhatikan pada saat melakukan penarikan ikan, baik dengan joran atau tanpa joran, adalah kapal harus dalam posisi tidak berjalan. Bila kapal bergerak maju, maka akan terjadi tarik menarik antara si pemancing dengan ikan. Akibatnya tarikan menjadi berat yang kadang-kadang bisa membuat tali putus. Bagi pemancing yang tidak menggunakan joran, penarikan harus di lakukan dengan hati-hati. Apabila ikan yang terkait cukup besar jangan di paksakan untuk menariknya saat ikan masih melawan. Tunggu dulu sampai ikanbenar-benar lemas. Jika dipaksakan menarik tali,jari tangan bisa terluka akibat gesekan senar. Oleh karena itu, jika tidak menggunakan joran, pemancingan disarankan memakai sarung tangan.

Ikan yang sudah kelihatan lemas akibat tarik ulur dengan pemancing, perlahan-lahan akan mendekat ke kapal mengikuti tarikan tali pancing. Meskipun demikian, kadang-kadang ada ikan yang masih memiliki tenaga kuat walaupun sudah mendekati kapal. Ikan marlin dan layaran, misalnya, biasanya masih melawan meskipun sudah berada beberapa meter di belakang kapal. Oleh karena itu, sering kita jumpai pemandangan yang mengasyikan di mana seekor ikan marlin atau layaran melompat keatas permukaan laut (jumping) pada saat di tarik mendekati kapal.

Ikan yang sudah dekat dengan kapal harus ditarik dan di arahkan pada posisi sebelah kiri atau kanan kapal. Maksudnya untuk memudahkan menaikan ikan ke atas dek kapal. Dengan bantuan ganco yang cukup tajam, ikan di kaitkan pada mata ganco, bisa pada tubuhnya atau punggung nya . untuk ikan yang berukuran besar, lebih baik menggunakan dua ganco.

Bila posisi ganco sudah benar-benar kuat, secara perlahan-lahan ikan dapat di naikan ke atas kapal. Ganco ini tidak di perlukan bila yang tertangkap ikan kecil. Serok yang terbuat dari jaring dan bertangkaisudah bisa di gunakan untuk mengangkat ikan kecil.
Berbagai jenis ikan pelagis yang sering tertangkap pada saat pemancingan di laut dapat dilihat pada lampiran 3.

f. Penanganan hasil pancingan
Jenis ikan tertentu yang mempunyai kebiasaan berenang cepat seperti tuna, cakalang, marlin atau layaran meskipun sudah berada di atas dek kapal seringkali masih bergerak cukup kuat. Bahkan, kadang-kadang bisa melompat tinggi. Kalau tidak hati-hati, ikan tangkapan ini bisa melompat lagi ke laut. Untuk hal seperti ini, ikan yang masih hidup ini perlu di matikan terlebih dahulu sebelum mata pancing yangmasih terkait tercopot. Sesudah mati, ikan tersebut langsung disimpan di tempat penyimpanan ikan (palka), bagi kapal yang mempunyai palka, atau ke dalam kotak dingin yang berisi es.
Bagi pemancing yang perjalananya lebih dari satu hari, penyimpanan seperti ini dapat memperlambat proses pembusukan. Setelah pekerjaan menangani ikan selesai, mulailah persiapan untuk memancing berikutnya. Biasanya pemancing menurunkan pancing tidak jauh dari lokasi sebelumnya.

2. Memancing di lapisan tengah
a. Penentuan lokasi
Jenis ikan yang menjadi sasaran pada pemancingan di lapisan tengah tidak berbeda dengan pemancingan di dekat permukaan. Dengan demikian, lokasi pemancingannya pun tidak berbeda sehingga penentuan lokasinya hampir sama. Memancing di lapisan tengah sering dilakukan di perairan yang telah diketahui ada ikannya seperti di perairan yang memiliki karang atau disekitar rumpon. Oleh karena itu, jenis ikan yang tertangkap adalah jenis ikan yang senang hidup di perairan tersebut seperti ikan tuna, sunglir, dan lemadang. Tidak jarang memancing di lapisan tengah dilakukan di sekitar bagan milik nelayan. Kapal di ikatkan pada bagan sementara si pemancing dapat melakukan aktivitasnya.

b. Kapal
Kapal untuk memancing di lapisan tengah tiadak perlu di desain khusus, kecuali untuk pemancing ngocer. Karena pemancingan ngocer menggunakan umpan hidup, maka kapal harus dilengkapi dengan tempat penyimpanan umpan. Tempat ini sebaiknya berada di dalam kapal dan memungkinkan air laut bisa diatur sirkulasinya. Dengan sirkulasi air yang baik, umpan akan bertahan hidup dalam waktu yang agak lama.
Jenis kapal apa saja dapat digunakan. Disini kapal hanya berfungsi sebagai sarana transportasi dan tempat berteduh saat memancing. Apalagi pemancingan yang dilakukan di sekitar rumpon, kapal sering kali diikatkan pada rumpon. Bahkan, untuk rumpon yang mempunyaipelampung cukup kuat, sering kali si pemancing melakukan kegiatannya ditas pelampung/rakit rumpon.

c. Pancing dan umpan
Jenis pancing ulur gulung sangat cocok digunakan untuk memancing dilapisan tengah. Pancing ulur ini tidak dilengkapi dengan joran, hanya terdiri dari gulungan, tali pancing, dan mata pancing. Besarnya pancing yang digunakan tergantung pada jenis ikan yang akan dipancing. Dalam satu tali pancing bisa digunakan lebih dari satu mata pancing. Pemancingan akan berhasil bila menggunakan umpan sungguhan, baik berupa potongan ikan, ikan kecil, cumi-cumi, atau udang. Namun, kadang-kadang ada juga yang menggunakan umpan tiruan dari bulu ayam atau tali rafia.

Ngocer juga sering dilakukan pada pemancingan dilapisan tengah. Pancing yang digunakan untuk ngocer dapat dilengkapi dengan joran atau tanpa joran. Yang menjadi ciri khusus pemancingan ngocer adalah digunakannya umpan hidup. Umpan bisa berupa ikan kembung, layang, cumi-cumi, atau udang. Umpan hidup ini dapat dibeli pada nelayan yang mengoperasikan bagan atau sero di laut.

d. Cara memancing
Memancing di lapisan tengah, sekitar rumpon, sangat mudah. Kapal bisa ditambatkan pada rakit rumpon, kemudian pemancing dapat melakukan kegiatannya. Pemancingan bisa dilakukan dari atas kapal atau rakit rumpon. Pemancingan pancing ulur atau golong dimulai dengan memasang umpan pada mata pancing. Setelah umpan terpasang baru diturunkan ke laut sambil diulur talinya. Panjang tali pancing yang digunakan tergantung pada kedalaman ikan yang menjadi sasaran.
Tidak semua jenis ikan pelagis senang hidup di dekat permukaan. Kadang-kadang ikan ini berada di perairan yang lebih dalam. Oleh karena itu, penentuan panjang tali pancing sangat menentukan jenis ikan yang tertangkap. Untuk ikan kembung,tongkol, cakalang, dan lemadang tali pancing tidak perlu diulur terlalu panjang. Akan tetapi, untuk ikan tuna dan marlin diperlukan tali pancing yang lebih panjang karena ikan jenis ini kadang-kadang berenang di lapisan pertengahan.

Pada teknik pemancingan ngocer kegiatan dimulai dengan pemasangan umpan hidup. Umpan hidup dikaitkan pada mata pancing, lalu dimasukan ke laut. Bersamaan dengan itu tali pancingnya diulur. Karena masih hidup, maka umpan akan berenang ke sana ke mari sehingga dapat menarik perhatian ikan pemangsa yang berada di sekitar kapal. Ngocer sebaiknya dilakukan pada perairan yang telah diketahui ada ikannya seperti di perairan karang atau di dekat rumpon. Pemancingan seperti ini juga sering dilakukan setelah menonda, apabila banyak ikan yang mengikuti jalannya kapal.

Penarikan tali pancing pada pemancingan di lapisan tengah hampir sama dengan penarikan tali pancing tonda karena jenis ikan yang tertangkap hampir sama. Demikian juga dengan penanganan ikan setelah dinaikan di atas kapal. Memancing ikan di lapisan tengah bisa dilakukan pada siang ataupun malam hari.
Baca lebih lanjut »