Gunung Sindoro

Gunung Sindoro atau disebut juga Sendoro mempunyai beberapa kawah diantaranya :
Kawah puncak: Segoro Wedi, Segoro Banjaran
Kawah utara
Kawah selatan
Sumur Ledakan

Berdiri dengan ketinggian 3150m dpl, terletak di batas kabupaten Temanggung sebelah barat dan Wonosobo sebelah timur. Posisi geografinya 7°18' LS dan 109°59,5' BT. Gunung Sindoro ini berhadapan langsung dengan gunung Sumbing, sama halnya dengan gunung Sumbing di gunung ini juga susah ditemukan sumber air, maka dari itu dianjurkan untuk membawa perbekalan air yang cukup sesuai dengan lamanya perjalanan yang akan ditempuh.

Setiap tanggal 1 Suro, banyak penduduk yang naik menuju puncak G. Sindoro ini untuk melakukan upacara selamatan memperingati Tahun Baru dalam kalender Jawa dan Islam. Sundoro dapat dicapai dari beberapa jurusan, dari sebelah timur dari Magelang dari sebelah barat dari Banjarnegara, dari arah utara dari Candiroto atau Melayu, sedangkan dari arah selatan dari Purworejo.

Rute Pendakian
Seperti yang disebutkan sebelumnya, Sindoro dapat dicapai dari beberapa tempat. Sedangkan jalur yang paling sering ditempuh adalah dari arah Magelang dan dari arah Wonosobo. Dari Magelang kita naik bis ke arah Wonosobo dan turun di jalan raya tertinggi di desa Kledung (begitu juga sebaliknya). Setelah tiba di desa Kledung kita harus ke Kepala Desa untuk memperoleh informasi dan kita dapat bermalam di rumah kepala desa ini. Air harus dipersiapkan di sini, karena sepanjang perjalanan ke puncak yang dimulai dari jalan di belakang rumah Kepala Desa, melalui kebun sayur dan hutan pinus, tidak tersedia sumber mata air. Dari desa Kledung menuju puncak memakan waktu 8 jam dan turunnya membutuhkan waktu 4 jam.

Untuk menuju puncak G. Sindoro, kita turun dari bus di depan gapura desa Garung, dimana jalan mulai menurun ke kota Wonosobo. Dari gapura desa ke pusat desa Garung perjalanan ditempuh dalam waktu 1 jam. Di desa Garung/Butuh ini tidak ada losmen untuk bermalam, jadi para pendaki bila ingin bermalam dapat ke rumah kepala desa, sekaligus mendapatkan informasi mengenai G. Sundoro.

Dari belakang desa, perjalanan dilanjutkan dengan mengikuti jalur yang langsung menanjak, terus melalui kebun sayur dan jalan menanjak seperti dalam saluran air. Kita kemudian melewati kebun akasia dan tiba di padang rumput, dari sini kita dapat melihat puncak G. Sundoro. Perjalanan sampai ke punggung gunung, makin lama makin curam dan di sini terdapat sebuah batu besar tempat berlindung dari hembusan angin yang keras. Dari tempat ini menuju puncak masih diperlukan waktu 1 jam lagi. Puncak G. Sundoro berbentuk caldera kecil yang bergaris tengah 800 meter, dengan kedalaman 50-100 m dan beberapa puncak yang runcing. Untuk menuju puncak tertinggi harus turun lagi ke arah kanan dan kemudian naik lagi. Di kaldera banyak kawah kecil yang berasap belerang, yang merupakan pemandangan yang menarik. Dari desa Garung/Butuh ini menuju puncak memakan waktu 8 jam dan untuk turun memakan waktu kurang lebih 5 jam.

JALUR KLEDUNG
Salah satu jalur yang paling sering digunakan oleh pendaki dan cukup popular adalah jalur dari desa Kledung, desa ini bisa dicapai dari arah Wonosobo atau dari arah Magelang karena letaknya yang berada diantara jalan raya Wonosobo – Magelang.

Akses Transportasi
Jika datang dari arah barat Indonesia sebaiknya akses yang paling cepat adalah dengan menumpang bus jurusan Wonosobo, kemudian naik bus kecil jurusan Magelang dan turun di Desa Kledung, desa ini berada disebelah kiri jalan saat menuju arah Magelang, dengan waktu tempuh kurang lebih 30 – 40 menit. Jika datang dari arah timur Indonesia sebaiknya mencapainya dari Magelang, dan kemudian menumpang bus kecil jurusan Wonosobo dan turun di Desa Kledung. Didesa Kledung terdapat basecamp pendaki yang saat in dikenal dengan nama Basecamp Sindoro, dewasa ini pengelolaannya dipegang oleh seorang pemuda yang akrap di panggil dengan “Ragil”.

Perijinan
Perijinan bisa di urus ini basecamp Sindoro setiap pendaki dikenakan retribusi sebesar Rp.3.000,- /orang. Dan mendaftarkan seluruh anggota timnya di Basecamp ini, tidak terlalu berbelit-belit perijinannya. Di basecamp ini pendaki bisa menginap, gratis kecuali makanan.

JALUR PENDAKIAN
Basecamp Kledung – Pos I
Dari basecamp Kledung menuju pos I menempuh jarak kurang lebih 2,5 jam perjalanan, dengan melewati jalan aspal berbatu-batu selama kurang lebih 2 jam, dan kemudian kita akan menjumpai sebuah pos bayangan yang biasa nya merupakan pangkalan ojek yang menawarkan jasanya pada setiap pendaki. Etape dari basecamp hingga pangkalan ojek ini juga bisa ditempuh dengan ojek untuk mempersingkat waktu pendakian, tarifnya Rp.10.000,- Dari pakalan ojek hingga Pos I sudah tidak begitu jauh sekitar 30 hingga 40 menit kita akan sampai di Pos I


Pos I – Pos II
Pos I merupakan sebuah bangunan yang juga berfungsi sebagai warung penduduk. Dari pos ini jalan setapak terus menanjak dan kemudian berbelok kekiri dan kemudian ada rutenya menuruni piggiran punggungan dan kemudian mendaki punggungan berkutnya. Jalan setapaknya jelas sekali sepanjang jalur pendakian banyak ditumbuhi oleh pohon-pohon penghijauan seperti lamtorogung. Jarak tempuh dari Pos I ke Pos II kurang lebih dua jam.

Pos II – Pos III
Pos II berupa bangunan tanpa dinding, dan atapnya pun tinggal separo, berada persis dipinggir jalan setapak, pos ini hanya berupa tempat peristirahatan sementara, kecil sekali dan tidak ada sumber mata air. Dari Pos II menuju pos II jalur pendakian mulai terbuka dan semakin menanjak. Jalan setapaknya mulai berbatu-batu, dari etape ini padangan kita sudah bisa jelas melihat gunung Sumbing yang tegak berdiri dibelakang kita. Waktu tempuh dari Pos II hingga Pos III kurang lebih 2 – 3 jam.
Pos III – Pos IV
Pos III merupakan sebuah dataran yang cukup luas persis diatas punggungan, lokasi ini sering dijadikan sebagai tempat bermalam oleh pendaki, hanya disini tidak ada sumber mata air, Gunung Sindoro memang dikenal sebagai gunung yang tidak mempunyai sumber mata air, jadi pendaki harus membekali dirinya dengan persediaan air yang cukup jika hendak bermalam di Pos ini. Selain itu pos III sering juga dijadikan sebagai lokasi warung bagi penduduk pada musim-musim ramai pendakian. Jalur pendakian dari Pos III menuju pos IV semakin curam dan terkadang tanjakannya sedikit susah untuk dilewati, selepas pos III jalur pendakian sedikit memasuki kawasan yang cukup rimbun oleh pohon namun ini tidak berlangsung lama, tak lama kemudian kembali jalur terbuka dan ditumbuhi oleh ilalang. Jalan setapak dipenuhi oleh batu-batu, tapi pemandangan dibelakang kita sangat bagus Dari Pos III ke Pos IV jarak tempuhnya kurang lebih 2 jam

Pos IV – Kawasan Puncak
Pos IV sendiri tidak begitu jelas karena tidak ada bangunan dan cirri-ciri khusus. Pos ini hanya berupa sebuah tempat datar yang hanya cocok untuk satu tenda, di sekitarnya ada beberapa tempat datar lagi akan tetapi cukup jauh berjauhan letaknya. Umumnya para pendaki yang berjumlah sedikit anggota timnya lebih memilih Pos IV sebagai lokasi untuk menginap. Banyak juga yang memilih melewati pos ini dan langsung ke puncak. Jarak dari Pos IV ke kawasan puncak sekitar 2 jam.

Kawasan Puncak
Dikawasan puncak Gunung Sindoro terdapat sebuah kawah dan ada banyak tempat datar yang bisa dijadikan sebagai lokasi camping. Jika musim hujan pada dasar salah satu kawahnya terdapat air genangan hujan yang bisa dijadikan sumber air untuk memasak, memang rasanya sedikit kecut tapi lumayan untuk dipakai memasak.

Lokasi menarik
Di areal gunung ini tidak begitu banyak lokasi menarik, hanya pemandangan lepas ke arah gunung Sumbing, Merbabu dan Merapi yang indah untuk dinikmati.

Baca lebih lanjut »

Gunung Salak

Gunung Salak merupakan sebuah gunung berapi yang terdapat di pulau Jawa, Indonesia. Gunung ini mempunyai beberapa puncak, di antaranya Puncak Salak I dan Salak II. Letak astronomis puncak gunung ini ialah pada 6°43' LS dan 106°44' BT. Tinggi puncak Salak I 2.211 m dan Salak II 2.180 m dpl. Ada satu puncak lagi bernama Puncak Sumbul dengan ketinggian 1.926 m dpl.

Secara administratif, Gunung Salak termasuk dalam wilayah Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pengelolaan kawasan hutannya semula berada di bawah Perum Perhutani KPH Bogor, namun sejak 2003 menjadi wilayah perluasan Taman Nasional Gunung Halimun, kini bernama Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.

Vulkanologi dan geologi
Gunung Salak merupakan gunung api strato tipe A. Semenjak tahun 1600-an tercatat terjadi beberapa kali letusan, di antaranya rangkaian letusan antara 1668-1699, 1780, 1902-1903, dan 1935. Letusan terakhir terjadi pada tahun 1938, berupa erupsi freatik yang terjadi di Kawah Cikuluwung Putri.

Menurut Hartman (1938) Gunung Salak I merupakan bagian gunung yang paling tua. Disusul oleh Gunung Salak II dan kemudian muncul Gunung Sumbul. Sedangkan Kawah Ratu diperkirakan merupakan produk akhir dari Gunung Salak. Kawah Cikuluwung Putri dan Kawah Hirup masih merupakan bagian dari Kawah Ratu.

Selain itu Gunung Salak lebih populer sebagai ajang tempat pendidikan bagi klub-klub pecinta alam, terutama sekali daerah punggungan Salak II. Ini dikarenakan medan hutannya yang rapat dan juga jarang pendaki yang mengunjungi gunung ini. Juga memiliki jalur yang cukup sulit bagi para pendaki pemula dikarenakan jalur yang dilewati jarang kita temukan cadangan air kecuali di Pos I jalur pendakian Kawah Ratu, beruntung di puncak Gunung ( 2211 Mdpl ) ditemukan kubangan mata air.Gunung Salak meskipun tergolong sebagai gunung yang rendah, akan tetapi memiliki keunikan tersendiri baik karakteristik hutannya maupun medannya.

Hutan-hutan di Gunung Salak terdiri dari hutan pegunungan bawah (submontane forest) dan hutan pegunungan atas (montane forest). Bagian bawah kawasan hutan, semula merupakan hutan produksi yang ditanami Perum Perhutani. Beberapa jenis pohon yang ditanam di sini adalah tusam (Pinus merkusii) dan rasamala (Altingia excelsa). Kemudian, sebagaimana umumnya hutan pegunungan bawah di Jawa, terdapat pula jenis-jenis pohon puspa (Schima wallichii), saninten (Castanopsis sp.), pasang (Lithocarpus sp.) dan aneka jenis huru (suku Lauraceae).

Di hutan ini, pada beberapa lokasi, terutama di arah Cidahu, Sukabumi, ditemukan pula jenis tumbuhan langka yang bernama Rafflesia rochussenii yang menyebar terbatas sampai Gunung Gede dan Gunung Pangrango di dekatnya. Pada daerah-daerah perbatasan dengan hutan, atau di dekat-dekat sungai, orang menanam jenis-jenis kaliandra merah (Calliandra calothyrsus), dadap cangkring (Erythrina variegata), kayu afrika (Maesopsis eminii), jeunjing (Paraserianthes falcataria) dan berbagai macam bambu.

Margasatwa
Aneka margasatwa ditemukan di lereng Gunung Salak, mulai dari kodok dan katak, reptil, burung hingga mamalia. Hasil penelitian D.M. Nasir (2003) dari Jurusan KSH Fakultas Kehutanan IPB, mendapatkan 11 jenis kodok dan katak di lingkungan S. Ciapus Leutik, Desa Tamansari, Kab. Bogor. Jenis-jenis itu ialah Bufo asper, B. melanostictus, Leptobrachium hasseltii, Fejervarya limnocharis, Huia masonii, Limnonectes kuhlii, L. macrodon, L. microdiscus, Rana chalconota, R. erythraea dan R. hosii. Hasil ini belum mencakup jenis-jenis katak pohon, dan jenis-jenis katak pegunungan lainnya yang masih mungkin dijumpai. Di Cidahu juga tercatat adanya jenis bangkong bertanduk (Megophrys montana) dan katak terbang (Rhacophorus reinwardtii).

Berbagai jenis reptil, terutama kadal dan ular, terdapat di gunung ini. Beberapa contohnya adalah bunglon Bronchocela jubata dan B. cristatella, kadal kebun Mabuya multifasciata dan biawak sungai Varanus salvator. Jenis-jenis ular di Gunung Salak belum banyak diketahui, namun beberapa di antaranya tercatat mulai dari ular tangkai (Calamaria sp.) yang kecil pemalu, ular siput (Pareas carinatus) hingga ular sanca kembang (Python reticulatus) sepanjang beberapa meter.

Gunung Salak telah dikenal lama sebelumnya sebagai daerah yang kaya burung, sebagaimana dicatat oleh Vorderman (1885). Hoogerwerf (1948) mendapatkan tidak kurang dari 232 jenis burung di gunung ini (total Jawa: 494 jenis, 368 jenis penetap). Beberapa jenis yang cukup penting dari gunung ini ialah elang jawa (Spizaetus bartelsi) dan beberapa jenis elang lain, ayam-hutan merah (Gallus gallus), Cuculus micropterus, Phaenicophaeus javanicus dan P. curvirostris, Sasia abnormis, Dicrurus remifer, Cissa thalassina, Crypsirina temia, burung kuda Garrulax rufifrons, Hypothymis azurea, Aethopyga eximia dan A. mystacalis, serta Lophozosterops javanica. Sebagaimana halnya reptil dan kodok, catatan mengenai mamalia Gunung Salak pun tidak terlalu banyak. Akan tetapi di gunung ini jelas ditemukan beberapa jenis penting seperti macan tutul (Panthera pardus), owa jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis comata) dan trenggiling (Manis javanica).


Sunrise di gunung salak


Bagi masyarakat yang hobi dan suka alam bebas, Gunung salak merupakan salah satu tujuan mereka guna memenuhi kepuasan untuk bagaimana caranya menghargai dan mencintai alam. Gunung Salak mempunyai pemandangan dan pesona alam yang masih asri. Bila Anda ingin mencoba wisata petualangan dengan mendaki Gunung Salak, Anda dapat menggunakan beberapa jalur pendakian, salah satunya melalui Jalur Girijaya dan Jalur Kutajaya (Cimelati).

Gunung Salak sejak jaman dahulu sudah sering dikunjungi oleh para pejiarah, karena terdapat patung pemujaan di puncak gunung Salak. Selain itu terdapat juga makam Embah Gunung Salak yang sering dikunjungi para pejiarah. Sedangkan di kaki Gunung Salak banyak terdapat tempat-tempat keramat, salah satunya adalah makam keramat dan ada juga pura dengan sebutan Kuil Prabu Siliwangi.

Pendakian sebaiknya dilakukan pada musim kemarau, karena pada musim penghujan jalur menjadi becek seperti rawa dan licin sekali. Selain itu angin seringkali bertiup kencang. Sebenarnya gunung ini dapat didaki dari beberapa jalur, di antaranya jalur yang umum sering dipakai adalah jalur dari Wana Wisata Cangkuang Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi. Dari Cangkuang ini ada dua jalur yakni jalur lama yang menuju puncak Gunung Salak 1 dan jalur baru yang menuju Kawah Ratu. Jalur yang penuh dengan nuansa mistik untuk berziarah adalah jalur dari Wana Wisata Curug Pilung, Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Desa Kutajaya / Cimelati.

Rute Pendakian
Di sekitar pintu masuk Wana Wisata ini terdapat tempat-tempat yang nyaman untuk berkemah, juga banyak terdapat warung-warung makanan. Untuk menuju ke Kawah Ratu diperlukan waktu sekitar 3-5 jam perjalanan, sedangkan untuk menuju ke puncak Gunung Salak I diperlukan waktu sekitar 8 jam.

Dari bumi perkemahan menuju shelter I, jalur awalnya cukup curam, berupa batu-batuan yang ditata rapi. Kemudian akan memasuki kawasan hutan tropis yang lebat dengan pohon-pohon yang besar, sekitar 1/2 jam kemudian Anda akan melewati jalur yang bervariasi, datar, naik dan turun.

Menuju shelter II, jalur mulai lembab dan basah. Beberapa sungai kecil akan Anda lewati, namun bila musim kemarau sungai ini akan kering. Anda akan menyusuri jalur yang banyak ditumbuhi pohon-pohon pisang, namun jangan berharap menemukan buah pisang yang matang karena daerah ini banyak di huni monyet. Bila hari menjelang sore kita akan menyaksikan monyet-monyet bergelantungan di sarang mereka di sekitar jalur ini.

Di shelter II ini terdapat tempat yang cukup luas untuk mendirikan tenda, dengan pemandangan hutan tropis yang masih lebat, dan di dekat shelter II ini juga terdapat sungai. Menuju shelter III, Anda akan melewati jalan-jalan yang becek dan berlumpur. Bahkan di beberapa tempat, jalur berupa tanah licin yang curam, namun Anda masih agak tertolong adanya akar-akar pohon.

Untuk menuju shelter IV jalur semakin curam terutama di musim hujan licin sekali karena berupa tanah merah. Di beberapa tempat Anda akan melewati tempat-tempat becek yang kadang kedalamannya mencapai dengkul kaki. Anda akan melewati dua buah sungai yang jernih airnya, sebaiknya Anda mengambil air bersih disungai tersebut karena di sanalah sumber air bersih terakhir yang bisa dijumpai.

Shelter IV merupakan persimpangan jalan. Untuk menuju ke Kawah Ratu ambil jalan ke kiri, sedangkan untuk menuju ke puncak Gunung Salak ambil jalur ke kanan. Di shelter IV yang cukup luas ini Anda juga dapat mendirikan tenda.


Baca lebih lanjut »

Gunung Rinjani

Gunung Rinjani berlokasi di pulau Lombok NTB ini merupakan gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3726m dpl serta pada lintang 8º25' LS dan 116º28' BT,merupakan gunung favorit bagi pendaki Indonesia karena keindahan pemandangannya. Gunung ini merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Rinjani. yang memiliki luas sekitar 41.330 ha dan ini akan diusulkan penambahannya sehingga menjadi 76.000 ha ke arah barat dan timur. Secara administratif gunung ini berada dibawah tiga kabupaten yaitu: Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Barat.Di sebelah barat kerucut Rinjani terdapat kaldera dengan luas sekitar 3.500m x 4.800m, memanjang kearah timur anda barat. Di kaldera ini terdapat danau Segara Anakan seluas 11.000.000m persegi dengan kedalaman 230m. Segara Anakan sering dijadikan tempat pemancingan oleh para pendaki ataupun penduduk setempat. Bagian selatan danau ini disebut dengan Segara Endut, dan disebelah timurnya terdapat gunung Baru yang oleh bahasa setempat disebut dengan Gunung Baru Jari. yang memiliki kawah seluas 170 x 200m dengan ketinggian 2.296 - 2376m dpl. Pada tahun 1994 gunung Baru Jari ini meletus dan memuntahkan isi perutnya di sekitar danau Segara Anakan.

Rute Pendakian
Akses pendakian kepuncak Rinjani bisa dicapai dari banyak tempat dan memiliki pemandangan spesifik yang berbeda-beda.

Rute dari Bayan - Torean (Utara timur laut)
Dari Bayan berjalan kaki atau menumpang angkutan setempat dari Bayan ke Torean, setelah itu menyusur sungai Kokok Putih langsung ke dalam dasar kaldera. Perjalanan memakan waktu satu hari penuh dan agak sulit.

Rute dariBayan - Senaru (Utara)
Senaru dapat dicapai dari ibukota Lombok Mataram dengan kendaraan bermotor (sehari perjalanan). Kemudian berjalan kaki dari Senaru ke Babanan (tepi kaldera sebelah utara), dilanjutkan ke Kokok Putih. Rute ini juga memakan waktu satu hari penuh.Dari kokok putih pendakian akan lebih sulit karena pendaki akan mulai mendaki gunung sebenarnya yaitu menuju puncak rinjani dengan menggunakan jalur gunung plawangan. meskipun demikian pendakian menggunakan jalur ini adalah yang termudah dari jalur - jalur yang lain.

Rute Sembalun Lawang (Tenggara)
Dari mataram naik kendaraan bermotor ke Pesugulan (kira-kira 4 jam). Kemudian lanjutkan ke Sembalun Bumbung dan Sembalun Lawang, ini memakan waktu lebih kurang 3 jam perjalanan. dari sembalun lawang pendaki dapat mencapai gunung plawangan dan menuju ke segara anakan dengan waktu kira-kira satu hari perjalanan. dan dari gunung plawangan dapat didaki Gunung Rinjani. Jalan ini cukup berat tapi paling banyak digunakan oleh para pendaki. Untuk detail informasi rute ini lihat ulasan rute Sembalun.




Rute dari Sajang
Sajang terletak diantara Sembalun Lawang dan Bayan. pendakian ke Gunung Plawangan tidak jauh berbeda dengan yang dari Sembalun Lawang karena jalan setapaknya tidak jauh dari barat menjadi satu.

Rute dari Kumbi (Sesaut)
Sesaut yang terletak di sebelah baratdaya pegunungan Rinjani hanyalah sejauh 1/2 jam perjalanan dengan kendaraan bermotor dari Mataram ke arah timur. Perjalanan hingga di Babanan memakan waktu lebih kurang 1 1/2 hari, setelah 2 hari sampai di Kokok Putih. Perjalan trekking yang panjang ini menyuguhkan pemandangan alam terbuka yang indah, tetapi menarik bagi seorang pendaki gunung yang menyukai hutan belantara.

Puncak Rinjani hanya dapat dicapai dari dua arah yaitu dari Gunung Plawangan dan langsung dari Aikmel. Perjalanan dari Aikmel ini sangat berat karena tidak akan ditemukan mata air mengalir dan memakan waktu dua hari perjalanan. jadi disarankan hanya yang memiliki kemampuan navigasi dan survival yang memadai yang disarankan mencoba jalur ini.

Gunung Kondo atau lebih dikenal dengan dengan Gunung Sangkareang Daya oleh rakyat setempat juga Gunung Punduk pertama didaki oleh Basleman pada tahun 1966 dengan menggunakan jalur dari timbanuh. pendakian kurang lebih satu hari. Dari puncak ini Danau Segara Anakan dapat dituruni dan di Timbanuh dapat dicapai dengan kendaraan umum dan sewaan.

selanjutnya menurut penduduk jalan menuju ke Danau Segara Anakan dapat pula dicapai dari :

Luk (kemungkinan lewat babanan) (Utara)
Masbagik (hanya sampai G. Punduk) (Selatan)
Mantang (juga hanya sampai G. Punduk) Barat Daya
Kembangkereng (sampai G.punduk)
Sumber mata air dapat di temui di:

Jalur Sembalun Lawang : Pos II dan di Plawangan Sembalun
Didekat danau segara anakan.
Air danau Segara anakan terasa kecut dan mengandung belerang, tidak enak untuk di minum.

RUTE DARI SEMBALUN
SEMBALUN LAWANG - POS I
Pendakian dimulai dari desa Sembalun lawang yang yang berada pada ketinggian ± 1156m dpl. Sebelum mendaki kita harus melapor di pos taman nasional. Disini juga terdapat losmen untuk beristirahat dengan nama Pondok Sembalun. Dari jalan raya gerbang pendakian segera terlihat dan disamping gerbang ada patung bawang yang besar. Ini mungkin dikarenakan daerah ini adalah penghasil bawang di Lombok. Sepajang jalur ini kita hanya melewati padang rumput yang mendaki dan menurun sesekali menyeberangi kali yang kering serta beberapa cemara gunung (casuarina junghuhniana). Normal jarak tempuh jalur ini adalah ± 2 jam

POS I - POS II
Pos I (08°19' 44,7" LS 116° 24' 07,6" BT) atau Pos Pemantauan merupakan sebuah pondok tanpa lantai yang teletak ditengah jalur di daerah padang rumput serta berada pada ketinggian 1300m dpl. Pos ini tidak ada sumber air. Jalur dari pos ini ke Pos II masih sedikit menanjak dan padang rumput yang terbuka serta masih melewati beberapa aliran lahar dan kali kering. Jalan setapaknya sendiri kadang menurun cukup curam. Normal jarak tempuh jalur ini adalah ±1 jam.

POS II - POS III
Pos II (08°20' 56,2" LS 116° 23' 43,4" BT) atau Pos Tengengean terletak di sebelah kiri jalan agak menjorok kedalam dengan ketinggian 1500m dpl, dan didepan pos ini terdapat sungai kering serta jembatan diatasnya yang merupakan jalur pada rute ini. Di pos ini kita bisa jumpai sumber mata air dan sebuah toilet yang merupakan hasil sumbangan dari sebuah LSM asal New Zealand. Pos nya sendiri letaknya disebuah lembah yang diapit bukit. Jarak tempuh normal ± 1 jam

POS III - PLAWANGAN SEMBALUN (Plawangan II)
Pos III atau Pos Pada Balong (08°22' 10,5" LS 116° 23' 57,1" BT) terletak persis dipinggir aliran lahar/sungai kering, pada ketinggian 1800m dpl. Sebelum mencapai pos ini kita akan bertemu sebuah persimpangan jalan yang memisahkan jalur ke bukit penyesalan (kanan) dan ke jalur penderitaan (kiri). Saat ini jalur yang sering dipakai adalah jalur penderitaan, sedangkan jalur bukit penyesalan sendiri jembatannya sudah runtuh dan jalan setapaknya sudah tidak begitu jelas. Kondisi Pos III ini masih sangat bagus dibanding dua pos sebelumnya. Dari pos ini menuju Plawangan kita akan dihadapkan dengan tanjakan bukit sembilan. Karena kita memang melewati sembilan bukit sebelum sampai di gigiran punggungan yang kemudian belok kiri menuju ke Plawangan. Jarak tempuh normal ± 3,5 jam.

PLAWANGAN SEMBALUN - PUNCAK RINJANI
Plawangan (08°23' 36,1" LS 116° 26' 26,4" BT) sendiri merupakan sebuah dataran yang cukup luas untuk beberapa tenda yang terletak diatas gigiran punggungan yang menyatukan dengan pungungan menuju puncak serta berada pada ketinggian 2639m dpl. Dari sini terlihat jelas Segara anakan dan gunung baru. Disini terdapat sebuah toilet, dan juga sebuah sumber air yang berupa pancuran. Puncak Rinjani terlihat kelas dari sini. Hati-hati terhadap monyet didaerah ini mereka sangat agresif untuk merebut makanan setiap pendaki yang lengah. Jarak tempuh normal kepuncak ±3 jam.

PUNCAK 3726M dpl.
Perjalanan dari Plawangan kepuncak mulai dihadapkan pada tanjakan-tanjankan yang curam dan berdebu sampai pada batas gigiran puncak kemudian berbelok kekiri mengikuti gigiran puncak yang berpasir lembut membuat sulit untuk melangkah. Mendekati puncak tanjakan cukup terjal dan berpasir halus. Pemandangan di sekitar puncak kita dapat melihat sayup-sayup dari arah timur ada gunung Tambora serta kepulaan Sumbawa, sebelah barat terlihat Gunung Agung di bali serta pelabuhan Lembar dan juga kearah bawahnya ada segara anakan beserta Gunung Baru Jari, sebelah utara kearah bawah kita bisa melihat kawah gunung Rinjani yang sudah tidak aktif lagi.

RUTE DARI SENARU
SENARU - POS II
Di Senaru (601m dpl) kita juga harus melapor di pos taman nasional. kemudian jalan setapak dimulai dengan jalan lurus melewati perkebunan penduduk kemudian memasuki mulut hutan ada papan pengumuman dari taman nasional. dari sini jalan setapak belum begitu menajak, kita akan melewati Pos I yang berupa sebuah pondok kecil yang terletak didekat pohon beringin berkaki tiga. Keadaan hutan tidak begitu rapat dan gelap tapi lebih sejuk dibanding rute Sembalun. Jalan setapak yang dilewati untuk mencapai pos ini relatif menanjak dan kadang-kandang agak datar akan tetapi terasa agak panjang. Jarak tempuh normal ±3 jam.

POS II - POS III
Pos II atau pos Montong Satas berada pada ketinggian 1500m dpl, disini ada sumber mata air. Dari sini menuju Pos III jalan setapaknya mulai menanjak serta banyak akar pohon di sepanjang jalan setapak akan tetapi pepohonan masih rapat dan terhindar dari terik panas matahari. JArak tempuh normal ±2 jam.

POS III - PLAWANGAN SENARU
Pos III atau Pos Mondokon Lolak ini berada pada ketinggian 2000m dpl. Disini terdapat dua pondok akan tetapi kondisi yang satunya sudah hampir roboh. Disini juga ada sumber mata air. Setelah keluar dari hutan kita akan langsung dihadapkan dengan jalan setapak yang terbuka dan akan samapai pada daerah cemara tiga, disini cukup luas untuk mendirikan tenda akan tetapi tidak ada air. Dari cemara tiga ini jalan menanjak terus serta jalan setapaknya berbatu-batu melewati beberapa punggungan bukit yang ditumbuhi rumput dan terbuka. Jarak tempuh normal ±2 jam.

PLAWANGAN SENARU - CAMP SEGARA ANAK
Dari Plawangan (2641m dpl) ini kita bisa melihat dengan jelas danau segara anakan, puncak rinjani. Disini tidak ada sumber air akan tetapi ada toiletnya. Dari plawangan ini jalur kemudian menuruni sebuah tebing batu yang curam kemudian terus melipir turun punggungan bukit, sesekali terdapat tanjakan akan tetapi tidak begitu curam. Sampai didanau jalan setapak terus menyususri dananu hingga sampai pada lokasi basecamp danau segara anakan. Jarak tempuh normal ±2 jam.

CAMP SEGARA ANAKAN
Pada lokasi basecamp ini terdapat dua toilet untuk pria dan wanita. Di segara anakan ini terdapat banyak sekali ikan yang bisa dipancing . Suhu pada siang hari berkisar antara 10°C - 15°C dan pada malam hari suhu bisa turun drastis terutama sekali pada musim kemarau. Kadang-kadang angin juga bertiup cukup kencang. Dari sini rute menuju puncak akan melewati plawangan sembalun dengan telebih dahulu melewati tanjakan yang cukup memeras tenaga melewati jalan setapak berbatu melipiri gigiran tebing yang berakhir pada petigaan rute Sembalun Lawang.




RUTE DARI TOREAN (updated by Ge'an)
Beberapa kalangan bahkan mungkin sebagian besar pendaki gunung dan wisatawan mengenal pendakian gunung Rinjani melalui rute Timur yaitu Sembalun dan Rute Barat Laut melalui Senaru. Ternyata Rinjani masih menyimpan beberapa jalur tradisional yang sering dilalui para penduduk dan nelayan setempat untuk menuju Segara Anak. Karena tujuan utama pendakian gunung biasanya adalah mencapai puncak Rinjani dahulu baru menuju Segara Anak, maka jalur-jalur ini sangat jarang dipakai oleh para pendaki.

Salah satu jalur yang sangat menarik untuk dilalui namun jarang diminati pendaki pada umumnya adalah jalur di sisi utara Rinjani yang berupa lembah dalam dan bermuara di Segara Anak. Jalur Torean sering dilalui penduduk lokal untuk menuju goa Susu, goa Manik, dan lainnya yang berada beberapa ratus meter sebelum Segara Anak, serta merupakan jalur rutin yang dilalui prosesi PAKELEM bagi umat Hindu setiap tahunnya.

Akses transportasi menuju Torean dan lainnya
Dari terminal Cakranegara – Lombok, menuju termilnal Bayan ditempuh dengan colt umum selama +/- 3 jam dengan biaya 10.000/orang.

Kemudian sebaiknya dari terminal Bayan menggunakan jasa ojek untuk sampai di desa Torean memakan waktu hampir 1 jam perjalanan melaui pedesaan dan perkebunan kopi makin ke dalam semakin jarang dihuni penduduk. Jalur masih berupa jalan tanah yang rusak dan berdebu (bayangkan saja kalau musim penghujan tiba) dan ojek merupakan satu-satunya transportasi yang bisa mencapai Torean selain truk yang sangat jarang melintas menuju Torean.
Jasa ojek bisa kita hargai antara 12.000 – 15.000 per orang mengingat dengan susah payah sepeda motor-sepeda motor itu memuat carrier dan penumpangnya dalam medan bergelombang.

Sebaiknya gunakan jasa porter untuk sampai di Segara Anak (walau perlu dicatat, jasa porter cukup mahal di sini antara +/- 100.000 per hari karena jarangnya pendaki yang melalui jalur ini) karena sering ditemui percabangan jalur dengan jalur lainnya. Bisa hubungi penjaga gerbang setempat (bapak Mangku). Sementara itu, jangan mengira akan ada pos pendakian seperti di jalur-jalur pendakian lainnya, starting point hanya berupa portal jalan dengan tulisan kawasan Taman Nasional gunung Rinjani.

Sebaiknya bermalam di Torean, bisa di rumah pak Mangku (persis di samping portal TamNas dan musholla) dan memulai perjalanan pagi berikutnya. Ini disebabkan karena jalur Torean agak berbahaya dilalui pada malam hari dan keindahan yang disajikannya juga akan sia-sia bila kita melintasinya saat malam hari.

RUTE PENDAKIAN

Torean – Segara Anak
Ada beberapa titik break point selama menuju Segara Anak karena sebenarnya tidak ada yang bisa disebut pos, kecuali satu shelter yaitu pos I yang dapat ditempuh selama +/- 2,5 jam melaui hutan lebat Taman Nasional dan beberapa jalur naik turun menyeberangi lembah-lembah bekas aliran sungai kering yang sangat mendominasi jalur. Terdapat sungai kecil memotong jalur dari pos 1 menuju Pelawangan Torean. Tiba saatnya menikmati dan menyaksikan ciri khas jalur Torean setelah beberapa saat keluar dari areal pos 1.

Jalur benar-benar berbeda, kita berada di lembah dalam sisi utara Rinjani yang membawa aliran air dari Segara Anak melalui sungai Kokok Putih. Kokok dalam bahasa setempat berarti sungai, dan sungai ini memang mengalirkan air berwarna putih kehijauan yang mengindikasikan kandungan sulfur yang tinggi didalamnnya.

Melipir di sisi kanan dinding lembah mengikuti aliran Kokok Putih yang berada di kiri jalur jauh beberapa ratus meter di bawahnya. Berseberangan dengan jalur ini merupakan dinding terjal bagian barat dari jalur Sembalun. Setapak kecil dan jalur berbatu mengisi perjalanan naik turun beberapa bukit batu hingga sampai pada Pelawangan Torean yang mungkin tidak nampak seperti pelawangan pada umumnya karena tidak ada satupun petunjuk arah dan keterangan tempat di sepanjang jalur ini. Pelawangan berupa puncak jalur dan beberapa batu serupa triangulasi dan air terjun di sisi kiri yang akhirnya mengantarkan menuruni turunan tajam untuk sampai di anak sungai Kokok Putih.

Tempat yang unik untuk dijadikan tempat istirahat, Propok namanya. Pertemuan beberapa aliran sungai dari Segara Anak yang merembes berupa beberapa air terjun lagi di sekitar Propok. Pemandangan yang unik dan menarik, aliran sungai berwarna putih kecoklatan, bersuhu hangat bertemu dengan air jernih dan dingin menjadi satu mengalir dalam aliran Kokok Putih yang sebenarnya.

Tak berapa lama setelah satu tanjakan bukit lagi, kita akan memasuki kawasan goa dan kolam air panas alami yang banyak terdapat di sekitar Segara Anak. Mengikuti jalur air menelusuri tetumbuhan jelatang hutan untuk sampai di muara sungai-sungai kecil air hangat dan sampai di depan goa Susu dengan kolam-kolam air panas yang menggoda untuk kita segera berendam di dalamnya.

Waktu tempuh yang diperlukan adalah +/- 7 – 8 jam serta 45 menit lagi untuk sampaike Segara Anak.

Segara Anak – Pelawangan Sembalun
Jalur Torean memang menambah waktu sehari sebelum sampai di puncak bila melalui jalur normal Sembalun. Kita harus menanjaki tebing Pelawangan Sembalun selama +/- 4 jam untuk sampai di Pelawangan Sembalun sebelum camp terakhir. Dari sini, jalur kembali ke jalur normal dari arah Sembalun untuk sampai di puncak.

Kenapa jalur Torean ?!
Bagi yang sedikit jenuh dengan jalur sabana Sembalun yang tak berkesudahan selama sehari perjalanan, jalur Torean merupakan pilihan yang tepat karena jalurnya yang sejuk dan hijau serta menyimpan keindahan air tejun Kokok Putih.Sebelum melanjutkan perjalanan mendaki tebing Pelawangan Sembalun, kita bisa relaksasi terlebih dahulu di kolam-kolam air panas alami yag banyak terdapat di sekitar Segara Anak, sangan baik untuk otot yang letih dan bermalam sehari di Segara Anak menikmati pemandangan yang cantik dari istana Dewi Anjani yang diyakini menguasai kawasan Rinjani. Tentunya tewaran kedua ini bagi mereka yang memiliki waktu cukup panjang dalam perjalanan dan bersedia menikmati keindahan dan kedamaian bermalam di Segara Anak hingga dua kali saat akan turun kembali dan melalui jalur Senaru.Selamat menemukan keidahan yang mistis dari jalur Torean yang akan dipenuhi cerita dan perasaan yang berbeda dari jalur lainnya saat menapaki Rinjani.

Perijinan
Baik dari rute Sembalun Lawang maupun Senaru terdapat Pos Taman Nasional untuk mengurus perijinan pendakian. Biaya per orang Rp.3000,- dan sudah termasuk asuransi. Bagi yang membutuhkan porter atau guide bisa juga diurus oleh petugas disini. Honor untuk satu orang porter Rp.40.000,- per harinya dan porter-porter ini sudah sangat berpengalaman, jika dibutuhkan mereka juga bisa memasak, selain mengambil air dan menjaga tenda dan bahan makanan dari serangan monyet-monyet gunung yang banyak sekali terdapat di Plawangan Sembalun

Tempat Menarik
Danau Segara Anak
Danau indah ini terbentuk dari bekas kawah, seluas 11.000.000m persegi dengan kedalaman 230m. Danau ini sangat kaya dengan ikan. Bukan hanya pendaki saja yang memancing disini, akan tetapi para penduduk setempat banyak yang datang untuk memancing. Mendaki gunung Rinjani kalau tidak bermalam dipinggir danau ini rasanya ada sesuatu yang kurang. Danau ini terlihat cantik sekali dari puncak gunung Rinjani.

Goa Susu
Goa ini dinamakan goa susu oleh karena air berwarna putih yang mengandung belerang yang keluar dari celah bebatuan didalam gua ini. Celah untuk masuk goa ini sangat sempit dan sangat susah untuk dilewati. Penduduk setempat percaya barang siapa yang bisa masuk sampai kedalam goa ini berarti orang tersebut mempunyai hati yang bersih.

Air Kalak
Air Kalak dalam bahasa setempat yang artinya air panas, mengalir dari atas kebawah dan membentuk kolam-kolam kecil yang mempunyai suhu yang berbeda-beda. Jika anda ingin berendam, tinggal pilih anda menyukai suhu panas, hangat atau suam-suam kuku.

Gunung Baru Jari
Gunung Baru Jari (bahasa Suku Sasak) yang artinya gunung baru jadi. Gunung ini membuat pemandangan gunung Rinjani menjadi khas dan tidak ada duanya.

Desa Tradisional Sasak
Desa ini berada tepat disamping Pos Taman Dasional di Senaru. desa ini sangat unik karena ciri bangunan rumah yang da didalam komplek desa sasak ini masih mempertahankan keaslian budaya suku sasak. Seperti halnya dengan suku Baduy di Banten, rumah suku Sasak ini tanpa memakai paku dan terlihat sangat tertata rapi. selain desa tradisional ini di Senaru juga ada air terjun yang dinamakan SINDANG GILE, yang terletak tidak begitu jauh dari Senaru.

Air Terjun Sindeng Gile
Air terjun ini berada tidak jauh dari penginapan di Senaru dan bisa dicapai dengan jalan kaki. Sindang gile ini merupakan salah satu objek andalan dari Senaru. Up-date Data
Archiaston Musama (Moderator milis highcamp)

Rinjani 3,726 mdpl memiliki panaroma yg paling bagus diantara gunung-gunung di Indonesia. Salah satu tempat tujuan wisata adventure favorite dari seluruh dunia. Keunikan lain dari Rinjani adalah Porter-nya; mereka bukan hanya tahan membawa logistik berat tetapi sekaligus koki yg handal dan guide yg menarik.

Setiap tahunnya (Juni-Agustus) banyak dikunjungi pencinta alam mulai dari Penduduk lokal, mahasiswa, pencinta alam. Temperature udara rata-rata sekitar 20°C; terendah 12°C. Angin kencang di puncak biasa terjadi dibulan Agustus. Beruntung akhir Juli ini, angin masih cukup lemah dan cuaca cukup cerah, sehingga summit attack bisa dilakukan kapan saja. Selain puncak, tempat yg sering dikunjungi adalah Segara Anakan, sebuah danau kawah di ketinggian 2,000 mdpl. Untuk mencapai lokasi ini kita bisa mendaki dari desa Senaru atau desa Sembalun Lawang (dua point entry terdekat di ketinggian 500 mdpl dan 1,200 mdpl). Kebanyakan pendaki menyukai start entry dari arah Sembalun, krn bisa menghemat 700m ketinggian. Rute Sembalun agak panjang tetapi datar, dan cuaca lebih panas krn melalui padang savana yg terik (suhu dingin tetapi radiasi matahari langsung membakar kulit). Sunblok krem sangat dianjurkan.

Sedangkan dari arah Senaru tanjakan tanpa jeda, tetapi cuaca lembut krn melalui hutan. Dari kedua lokasi ini membutuhkan waktu jalan kaki sekitar 9 jam menuju bibir punggungan di ketinggian 2,700 mdpl (tiba di Plawangan Senaru ataupun Plawangan Sembalun). Di tempat ini pemandangan ke arah danau, maupun kearah luar sangat bagus. Dari Plawangan Senaru (jika naik dari arah Senaru) turun ke danau melalui dinding curam ke ketinggian 2,000 mdpl) yg bisa ditempuh dlm 2 jam. Di danau kita bisa berkemah, mancing (Carper, Mujair) yg banyak sekali. Penduduk Lombok mempunyai tradisi berkunjung ke segara anakan utk berendam di kolam air panas dan mancing.

Utk mencapai puncak (dari arah Danau) harus berjalan kaki mendaki dinding sebelah barat setinggi 700m dan menaiki punggungan setinggi 1,000m yg ditempuh dlm 2 tahap 3 jam dan 4 jam. Tahap pertama menuju Plawangan Sembalun, camp terakhir utk menunggu pagi hari. Summit attack biasa dilakukan pada jam 3 dinihari utk mencari momen indah - matahari terbit di puncak Rinjani. Perjalanan menuju Puncak tergolong lumayan; krn meniti di bibir kawah dgn margin safety yg pas2an (no point for error please). Medan pasir, batu, tanah. 200 meter ketinggian terakhir harus ditempuh dgn susah payah, krn satu langkah maju diikuti setengah langkah turun (terperosok batuan kerikil).

Buat highlander - ini tempat yg paling menantang dan disukai krn beratnya medan terbayar dgn pemandangan alamnya yg indah. Gunung Agung di Bali, Gunung Ijen-Merapi di Banyuwangi dan Gunung Tambora di Sumbawa terlihat jelas saat cuaca bagus di pagi hari. Utk mendaki Rinjani tidak diperlukan alat bantu, cukup stamina,"patience" dan "passion".

Keseluruhan perjalanan dpt dicapai dlm program 3 hari dua malam, atau kalau mau lihat dua objek lain: gua susu dan gunung baru jaro (kawah baru ditengah danau) perlu tambahan waktu 2 hari perjalanan. Persiapan logistik sangat diperlukan. tetapi untungnya segala sesuatu bisa diperoleh di desa terdekat. tenda, sleeping bag, peralatan makan, bahan makanan dan apa saja yg diperlukan (termasuk radio komunikasi) bisa disewa dari homestay2 yg menjamur di desa Senaru. Yg unik lainnya dari Rinjani, disana ada cukup banyak toilet. Bentuknya kotak besi warna hijau. Diatasnya ada penampung air hujan. Juga ada yg pake tangki fibre glass. Tapi sayang nggak ada airnya. Tapi don't worry, alam akan mengajarkan kita how to back to nature.

Cerita ttg pemandangan, rasanya kita nggak akan kehabisan momen pengambilan gambar. Pagi dan sore saat yg paling indah utk difoto, Rinjani dgn kontour tiga dimensinya yg ektrim menyediakan begitu banyak sudut indah. Awan, kabut, pohon2 tunggal ditengah savana, monyet2 yg expresif, porter2 in action, wajah gembira mahasiswa ketika mendptkan karper besar, perjuangan menggapai puncak rinjani - menyediakan banyak momen bagus utk difoto. Jika waktu kita pendek sekali, Lombok masih dpt dicapai dlm liburan sabtu-minggu. Sekarang ini banyak penerbangan JKT Lombok (via SBY), dgn tarip sekitar 350rb-an sekali jalan; mungkin bisa lebih rendah tergantung sisa seat (booking lebih awal).

Kalau menggunakan Lion penerbangan sore, kita bisa berangkat sesudah pulang kerja di Juma't petang, tiba di Mataram sekitar jam 22:00. Langsung ambil taksi airport menuju Sembalun Lawang (200rb) yg ditempuh dlm 2.5 jam perjalanan atau ke Senaru (175rb). Di Senaru banyak homestay bersih dan bagus dgn tarip 30~50 rb-an. Atau di Sembalun Lawang spt. Homestay Lembah Rinjani dan Nauli (dua2nya bagus), dgn pemandangan spektakular menghadap Rinjani. Tarif 100rb-an.

Sabtu pagi bisa langsung naik lewat Senaru ke Plawangan Senaru dan turun ke danau. Tiba sore hari. Bisa bermalam di Plawangan saja (pemandangan sangat bagus) turun ke danau pagi hari atau turun ke Danau langsung bermalam disini). Minggu paginya ada cukup waktu utk menikmati air panas, mancing atau berleha-leha. Jam 11:00 kembali dgn rute yg sama (Senaru). Tiba hampir magrib, langsung transfer ke Airport Selaparang dgn penerbangan terakhir (Citylink atau Lion). Senin pagi sudah masuk kerja, tentu dgn sedikit kaki pegel2. Jika sambung ke puncak, butuh satu hari lagi day off, yg ini barangkali bisa dipertimbangkan saat harpitnas atau cuti liburan.
Baca lebih lanjut »

Gunung Raung

Gunung Raung adalah sebuah gunung yang besar dan unik, yang berbeda dari ciri gunung pada umumnva di pulau Jawa ini. Keunikan dari Puncak Gunung Raung adalah kalderanya yang sekitar 500 meter dalamnya, selalu berasap dan sering menyemburkan api. Gunung Raung termasuk gunung tua dengan kaldera di puncaknya dan dikitari oleh banyak puncak kecil, menjadikan pemandangan yang menakjubkan. Selain itu gunung ini juga terletak di paling ujung pulau jawa bahkan keindahan gunung ini dapat kita lihat dari pulau dewata bali, tepatnya ketika kita berada di pantai Lovina Singaraja Bali Utara pada akhir siang atau ketika sunset di Lovina Beach. Keindahan gunung raung ini akan terlihat indah. Jajaran pegunungan di timur pulau jawa ini memiliki keindahan yang sangat unik. Gunung ini terletak di Kab. Banyuwangi Jawa Timur. Gunungapi raksasa ini muncul di sebelah timur dari suatu deretan puing gunungapi yang berarah barat laut - tenggara. Di Puncaknya terdapat sebuah kaldera yang berbentuk elips dan terdapat kerucut setinggi kurang lebih 100 m.

Rute Pendakian
Untuk mendaki Gunung Raung, paling mudah adalah dari arah Bondowoso. Dari Bondowoso terus menuju desa Sumber Wringin dengan menggunakan Colt melalui Sukosani. Perjalanan diawali dari desa Sumber Wringin melalui kebun pinus dan perkebunan kopi menuju Pondok Motor atau Pos pendaki dimana kita dapat menjumpai seorang juru kunci yang bernama Pak Serani. Ada seorang lagi penduduk desa ini yang rumahnya juga sering ditumpangi para pendaki yaitu Pak Sahati.

Pos-pos perhentian yang akan kita lewati adalah sbb:

Pondok Motor
Pondok Sumur
Pondok demit
Pondok Mayit
Pondok Angin
Di Pondok Motor kita dapat menginap dan beristirahat, kemudian kita dapat melanjutkan perjalanan ke puncak yang membutuhkan waktu sekitar 9 jam. Dari Pondok Motor, kita akan melewati perkebunan kopi, hutan pinus, hutan cemara, terus sampai di dataran tempat dimana kita dapat berkemah. Perjalanan dilanjutkan melalui padang alang-alang (sekitar 1 jam perjalanan), Hutan gunung ini terdiri dari pohon glentongan, arcisak, takir dan lain-lain. Setelah pendakian selama 2 jam atau sekitar 1300 – 1400 m pendaki akan menemukan jalan berkelok dan naik turun sampai ketinggian sekitar 1500 - 1600 m. Di daerah ini mulai terlihat pohon cemara lalu pendakian diteruskan menuju pondok sumur (1750 M).

setelah itu pendakain akan mulai sulit dan sudut pendakian mulai membesar dan jalur pendakian kurang jelas karena hanya semak-semak dan kemudian terus mendaki selama 3 jam hingga dicapai Pondok Demit. Kemudian pendaki harus mendaki lagi selama sekitar 8 jam hingga dicapai batas hutan, yang dikenal dengan nama Pondok Mantri atau Parasan pada ketinggian sekitar 2900 - 3000 m. di tempat inilah pendakian beristirahat untuk berkemah. Selanjutnya menuju puncak Gunung Raung yang sedikit berpasir dan berbatu-batu. Dari tempat berkemah menuju puncak Gunung Raung, hanya diperlukan waktu sekitar 2 (dua) jam saja. Sedangkan perjalanan turun, memakan waktu sekitar 7 jam.



Puncak Gunung Raung Dengan kaldera yang luas


Puncak Gunung Raung ini berada pada ketinggian 3.332 m dari permukaan laut dan sering bertiup angin kencang. Sesungguhnya masih ada puncak yang lebih tinggi lagi, namun kita tidak dapat mendaki ke sana, sebab selain tidak ada jalan juga hutannya masih terlalu lebat. Dalam perjalanan ke Puncak G. Raung, tidak ada mata air. Sebaiknya untuk air dipersiapkan di Sumber Wringin atau di Sumber Lekan. Untuk mendaki Gunung Raung tidak diperlukan ijin khusus, hanya saja kita perlu melaporkan diri ke aparat desa di Sumber Wringin.


Baca lebih lanjut »

Gunung Papandayan

Gunung Papandayan berada di kabupaten Garut tepatnya pada posisi geografi 7.32º Lintang Selatan dan 107.73º Bujur Timur. Gunung bertipe Stratovolcano ini saat sebelum meletus pada tahun 2002 mempunyai empat buah kompleks kawah besar tapi saetelah meletus kawah ini menjadi sebuah areal kawah yang cukup besar, dan kawah ini terlihat jelas dari kejauhan. Kompleks kawah gunung Papandayan ini bisa didatangi oleh masyarakat umum yang bukan pendaki gunung sekalipun, ini dimungkinkan karena adanya jalan aspal mulus yang membentang dari bawah hingga kedekat kawah gunung ini. Pengunjung bisa memarkir kendaraannya di pelataran parkir yang cukup luas dan berjalan kaki sekitar 5 menit dari parkiran dan setelah itu akan memasuki kawasan kawah gunung ini yang dikenal dengan sebutan Kawah Mas. Di kawasan parkir banyak terdapat warung-warung yang menjual makanan dan selain di kawasan ini didekat alun-alun Pondok Salada juga ada sebuah warung.

Mekipun untuk mencapai kawasan kawah gunung ini bisa didatangin dengan kendaraan, bagi para pendaki gunung tantangan di gunung ini masih ada, yaitu jalur trekking dari alun-alun Pondok Salada hingga kepuncak gunung ini dan kemudian turun melipiri punggungan puncak gunung ini dan jalan setapak dari jalur ini berakhir di belakang daerah parkiran kendaraan. Jalur trekking ini memakan waktu kurang lebih 6 jam.

AKSES TRANSPORTASI
Gunung Papandayan berada tidak jauh dari kota garut, berdiri berhadapan dengan gunung Cikurai. Jika dari memakai kendaraan umum dari Jakarta bisa menggunakan bus tujuan kota Garut dan kemudian dari kota garut disambung dengan kendaraan angkot trayek Garut – Cijulang dengan ongkos Rp.3.000,- dan turun di pertigaan Cisurupan, dari pertigaan Cisurupan ini dilanjutkan naik Ojek hingga sampai di pelataran parkir gunung Papandayan dengan ongkos sewa Rp.10.000,- Jika lebih dari 3 orang sebaiknya anda mencarter angkot dari Garut atau dari pertinggaan Cisurupan ini karena jauh lebih murah.

Bagi yang membawa kendaraan pribadi, dari Kota garut belokan kendaraan anda menuju arah Cijulang dan dipertigaan Cisurupan ambil jalan yang lurus jangan berbelok ke kiri, sebagai patokan di pertigaan Cisurupan ini ada Plang selamat datang di Gunung Papandayan.

JALUR TREKKING KE PUNCAK

Parkiran - Alun-alun Pondok Salada
Dari parkiran jalur setapak dimulai mendekati kawah dan kemudian membelah kawah, hati-hati saat melangkah karena dibebeberapa tempat terdapat bagian yang gembur dengan suhu yang cukup panas dan kaki bisa terperosok. Kemudian jalur setapak membelok kekanan dan saat keluar dari komplek kawah ini jalan setapak terus mendatar hingga sampai di sebuah warung and disini terdapat sebuah lapangan yang cukup menampung lebih dari 30 tenda. Jalur setapak menuju Pondok Salada bisa ditemukan didepan warung ini dan sekitar lima menit berjalan dari warung ini kita akan sampai di Pondok Salada. Di Pondok Salada ini ada sungia kecil berair jernih hanya mengandung belerang.

Pondok Salada - Alun-alun Tegal Alur
Dari Pondok Salada jalur setapak mendaki sebuah punggungan yang ada didepan pondok salada, keadaan jalur setapaknya sedikit hancuran banyak batu-batu besar seperti aliran sungai kering. Setelah menyelesaikan etape tanjakan yang cukup curam ini jalan setapak menjadi datar dan kemudian berbelok ke kiri dan kemudian menyusuri punggungan. Hati-hati saat menyusuri pungungan ini karena di sebelah kiri jurang dalam yang berjarak hanya seengah meter dari jalan setapak. Tak lama setelah keluar dari kawasan hutan yang tidak begitu lebat, kita akan sampai disebuah alun-alun yang cukup besar. Yang dikenal dengan nama Alu-alun Tegal Alur, di bagian ujung dari alun-alun ini (di hitung dari tempat kita muncul) ada sebuah sungai kecil yang mengalir jernih. Sebelum mencapai alun-alun ini terlebih dahulu kita akan melewati sebuah lapangan mirip sebuh kawah mati.

Tegal Alur - Puncak
Dari tegal Alur jalan setapak menuju arah puncak berada di seberang sungai kecil, jalan setapak yang tiak begitu jelas ini kemudian membelok kearah kanan memasukui hutan, Hati-hati saat berada di kawasan ini mungkin karena jalur ini jarang di tempuh sehingga terkadang jalur jalansetapaknya tiba-tiba menghilang tapi jika jeli kita akan banyak menemukan string line atau ikatan tali raffia berwarna merah dan bitu yang di ikatkan pada ranting pohon sebagai penanda jalan. Dikawasan puncak Gunung Papandayan tidak banyak yang bisa dinikmati selain pemandangan kawah. Dipuncak ini tidak ada tiang trianggulasi nya atau tiang penunjuk ketinggian. Tidak ada tanda selain saat sampai di puncak gunung ini jalan setapak seterusnya akan menurun. Jika anda membawa altimeter atau GPS makan akan mudah menentukan puncaknya. Puncak gunung ini hanya pelataran kecil saja dan tersamar dengan jalan setapak yang membelahnya.

Puncak - Parkiran
Dari puncak jalan setapak kemudian menurun, lama-kelamaan jalan setapaknya turun curam mengikuti gigiran punggungan puncak hati-hati dengan langkah anda karena disebelah kiri jurang menganga kea rah kawasan kawah. Jalan setapak di kawasan ini banyak ditumbuhi oleh rimbunnya tumbuhan dan pohon yang banyak ranting-ranting an dahan yang menjorok hinga ketanah sehingga saat melewati etape ini kita harus membungkuk dan terkadang merangkak. Dari puncak ke parkiran butuh waktu sekitar tiga jam dan kita akan muncul di bagian belakang parkiran ada sebuah sungai yang mengalir dan airnya jernih.PERIJINAN
Tidak susah hanya saat memasuki kawasan anda dikenakan retribusi Rp.3.000,- per orangnya. Untuk kendaraan jika anda membawa kendaraan dan menginap anda bisa memberikan uang jasa menjaga kendaraan pada tukang pakirnya.

TEMPAT-TEMPAT MENARIK
Dikawasan gunung Papandayan ini ada beberapa tempat menarik yang bisa dikunjungi yaitu:

Kawasan Kawah
Kawasan kawah ini cukup menarik di telusuri namun anda harus hati-hati, dibeberapa tempat ada Lumpur belerang yang sangat baik untuk penyakit kulit.



Alun-alun Pondok Salada
Di alun-alun ini dulunya sebelum letusan tahun 2002 banyak terdapat bunga abadi edelweiss tapi setelah letusan bunga tersebut hingga saat ini belum tumbuh lagi, namun Susana dikawasan ini dan bentangan alamnya sangat menarik untuk dinikmati.

Alun-alun Tegal Alur
Tegal Alur sebuh alun-alun yang cukup besar dari sini kita bisa mengedarkan pandangan kearah kawah dan puncak terlihat jelas juga dari sini.




Baca lebih lanjut »

Gunung Pangrango

Gunung Pangrango merupakan gunung yang kedua tertinggi di Jawa Barat (3019 m dpl) setelah Gunung Cereme dan berada dalam pengawasan Taman Nasional Gede Pangrango. Gunung Pangrango  berdampingan dengan Gunung Gede, akan tetapi tidak seperti Gunung Gede yang selalu dipenuhi oleh pedaki, jumlah pendaki yang mendaki Gunung Pangrango tidak terlalu banyak ini membuat gunung ini sedikit lebih bersih dibandingkan dengan Gunung Gede. Ini terlihat dari keadaan jalan setapak yang menuju puncak Pangrango lebih bersih dibandingkan dengan jalan setapak yang menuju puncak Gede. Akses untuk sampai ke gunung ini sama dengan Gunung Gede yaitu dari Cibodas. Bisa juga dari Gunung Putri, hanya saja harus melewati puncak Gunung Gede terlebih dahulu. Jika hanya mau mendaki Pangrango, maka sebaiknya masuk lewat Cibodas. Jalur kepuncak Pangrango dan Gede akan terpisah di Kandang badak. Kekiri merupakan jakur menuju puncak Gede dan kekanan menuju puncak Pangrango.


Rute Pendakian
Keadaan jalan setapak di punggungan Pangrango sangat menantang, sepanjang jalan kita akan disuguhkan oleh tanjakan-tanjakan yang cukup memeras keringat ditambah lagi dengan banyaknya batang kayu yang memalangi jalan setapak membuat para pendaki harus membungkuk dan tak jarang merangkak. Selain itu kadang-kadang kita menemukan jalan setapak yang lama yang melingkar-lingkar naik sudah dipenuhi oleh semak-semak dan tumbuhan perdu karena jarang dilewati, sebagai gantinya muncul jalan setapak yang tegak lurus membelah jalan setapak yang lama dan tetntu saja kondisinya lebih curam dari jalan setapak yang aslinya.

Sampai di ketinggian sekitar 2600 m dpl, jika cuaca cerah tanpa kabut maka akan terlihat jelas puncak Gunung Gede dengan kawahnya. Mendekati daerah puncak jalan setapaknya mulai melingkar dan sedikit landai. Dipuncak sendiri terdapat sebuah tiang dari semen beton yang menujukan daerah puncak. tapi sudah penuh dengan coretan tangan vandalis. didepat tiang tersebut terdapat sebuah pondok yang hanya tinggal tiang dan separuh atap. seperti halnya tiang ketinggian, pondok ini juga tak luput dari tangan-tangan vandalis. Keadaan puncak sedikit kotor dan pemandangan terhalang oleh tumbuhan sub alpine yang tumbuh tinggi. Diareal puncak ini ditemukan beberapa area yang datar yang cocok dijadikan untuk mendirikana tenda. Hanya saja disini tidak terdapat air.

Disebelah kiri belakang pondok terdapat beberapa jalan setapak yang mengarah ke alun-alun Mandala Wangi. Setelah menuruni jalan setapak tersebut kita akan sampai di keheningan lembah Mandala Wangi. Disini banyak sekali dijumpai tumbuhan edelweiss yang tumbuh subur hingga pohonnya tinggi dan rimbun. Luas Mandala Wangi tidak begitu luas seperti Suryakencana di Gunung Gede. Tempat ini sangat cocok untuk mendirikan tenda. Air bisa didapatkan diarah kiri dari alun-alun.

Suhu pada malam hari di Mandala Wangi cukup dingin terlebih lagi di musim kemarau. Saking dinginnya pernah ditemukan bongkahan-bongkahan es disekeliling mata air diwaktu pagi hari serta embun salju yang menempel di flying sheet tenda.



Sunrise di gunung Gede Pangrango



Baca lebih lanjut »

Tempat Wisata di Malang

Kabupaten Malang adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia, dengan Pusat Pemerintahannya di Kecamatan Kepanjen. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Jombang, Kabupaten Mojokerto, Kota Batu, dan Kabupaten Pasuruan di utara, Kabupaten Lumajang di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Blitar dan Kabupaten Kediri di barat. Sebagian besar wilayahnya merupakan pegunungan yang berhawa sejuk, Malang dikenal sebagai salah satu daerah tujuan wisata utama di Jawa Timur.

Beberapa Objek Wisata yang ada di Kabupaten Malang:

Pantai Balekambang

Memiliki tiga pulau dengan jarak sekitar seratus meter masing-masing, dua di antaranya telah terhubung dengan satu meter lebar jembatan ke pantai,






------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Air terjun Coban Pelangi

Merupakan sebuah air terjun yang indah, yang terletak sekitar 32 km ke Timur Malang.







------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Air terjun Coban Rondo

Adalah air terjun yang cantik di lereng Gunung Panderman yang sekitar 32 km ke arah barat dari Malang,







------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Candi Jago

Dibangun pada 1275 - 1300 AD. Hal ini diyakini sebagai tempat pemakaman abu Raja Wisnuwardhana, raja keempat dari kerajaan Singosari.







------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bendungan Karang kates

Ini tidak banyak berbeda dari taman rekreasi lainnya di Kabupaten Malang.







------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Candi Kidal

Terletak di desa Rejo Kidal, Tumpang kabupaten Malang, sekitar 24 km ke Timur dari kota Malang.







------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Gunung Kawi

Sebagai sebuah wisata ziarah, Gunung Kawi mempunyai banyak tempat yang indah, istimewa dan mengesankan panorama pegunungan,







------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pantai Ngliyep

Merupakan pantai berbatu yang indah yang berada di bagian selatan Kawasan Kabupaten Malang, dimana gelombang ombak bertemu terumbu karang yang berada di pantai ngliyep.






------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pantai Sendang Biru

Adalah salah satu resor pantai di bagian selatan Kabupaten Malang,Jawa Timur.







 
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Candi Singosari

Juga dikenal sebagai Candi Kendedes, didirikan untuk menghormati Raja Kertanegara, raja terakhir dari dinasti Singosari







------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Candi Sumberawan

Terletak di kaki Gunung Arjuna di sebelah utara timur Malang,








------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Gunung Semeru

Adalah gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl).






------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pemandian Air Panas Cangar

Wisatawan benar-benar akan dibuat kerasan berlama-lama berada di wisata pemandian air panas Taman Hutan Raya Raden Soerjo






------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Gunung Bromo

Nama Gunung ini diambil dari bahasa Sansekerta/Jawa Kuna: Brahma, salah seorang Dewa Utama Hindu






Baca lebih lanjut »

Gunung Merbabu

Gunung ini berlokasi di kabupaten Magelang dan boyolali Jawa Tengah, dengan ketinggian 3142m dpl. Pendakian bisa dicapai dari desa Kopeng dan Selo. Atau anda bisa mendaki dari Kopeng dan turun di Selo atau pun sebaliknya. Titik pendakian dari Selo merupakan juga titik pendakian untuk gunung Merapi. Gunung Merbabu merupakan gunung non aktif. Gunung akan terlihat jelas dari perjalan Kalaten Menuju Boyolali. Medan gunung ini terbuka dan berbukit-bukit dan juga pada awal pendakian kita banyak menemukan ladang-landang petani. Pendakain dari Kopeng anda akan menemukan banyaknya pucak tipu, sebelum mencapai puncak Merbabu. Kondisi gunung ini dimusim kemarau sangat kering, sewaktu web master highcamp mendaki gunung ini hampir separuh dari gunung ini terbakar dan sangat gersang, air juga susah untuk ditemukan, sebaiknya anda bertanya dahulu pada penduduk setempat. Atau anda juga bisa menyewa penduduk setempat untuk jadi porter pembawa air. Selain dari arah selatan lewat Desa selo Boyolali pendakian gunung Merbabu ini juga dapat dilakukan dari daerah wisata Kopeng Salatiga. Banyak pendaki yang memulai pendakian dari Kopeng dan turun menuju ke selo ataupun sebaliknya. Jalur yang terdapat di gunung merbabu ini banyak percabangan jalan sehingga pendaki harus berhati-hati dalam menentukan jalur yang dilewatinya. Hutan gunung inipun telah banyak yang berubah fungsi menjadi ladang pertanian, hanya luasnya tidak seperti gunung Sundoro ataupun Sumbing, dan hanya beberapa punggungan saja yang merupakan ladang pertanian.
 
Dari jalur kopeng, jalur trek nya dimulai dari lokasi perkemahan wanawisata Kopeng menuju Dusun Tekelan melewati perkebunan pinus, kebun sayuran, kebun tembakau rakyat, dan jalan desa yang bisa dilalui angkutan roda empat langsung menuju rumah kepala desa. Lokasi mendirikan tenda yang baik ada di camp II (Lempong Sampan), Camp III (Watu Gubug) dan Puncak I (antena), Bila menemukan jalur cabang dua, setelah melewati saluran air kecil (yang terkadang kering), maka sebaiknya mengikuti arah yang kekanan. sebab arah kiri akan buntu di bak sumber air. Pipa saluran air yang terbentang mulai dari Dusun Tekelan sampai ke puncak (sumber mata air), dapat dijadikan pemandu jalur kearah puncak sampai pada jalur cabang dua tadi. Disisi sebelah kiri jalur kearah puncak didominasi oleh medan jurang, sedangkan sebelah kanannya hutan tropis dan tumbuhan perdu/belukar.

Dari Puncak I (Antena, 2800 m dpl), menuju puncak II (Syarif, 3142 m dpl), dan Puncak III (Kenteng Sango, 3224 m dpl), bisa ditempuh dalam waktu 1 - 2 jam. Akan tetapi, harus extra hati-hati ketika melewati punggung jurang Pundak Sapi dan Jembatan Setan pada jalur ke Puncak III. Dibawah Puncak I, tepatnya kearah jalur Puncak II, terdapat kawah yang sudah mati. Kadang-kadang disekitar kawah mati itu terdapat sumber air yang bisa diminum. Disepanjang jalur hingga puncak tidak terdapat sumber air yang permanen ada, jadi sebaiknya bawalah bekal air yang cukup.

Rute Pendakian

JALUR KOPENG TEKELAN (JALUR UTARA)

Dari Jakarta bisa naik kereta api atau bus ke Semarang, Yogya, atau Solo. Dilanjutkan dengan bus jurusan Solo-Semarang turun di kota Salatiga, dilanjutkan dengan bus kecil ke Kopeng. Dari Yogya naik bus ke Magelang, dilanjutkan dengan bus kecil ke Kopeng. Dari kopeng terdapat banyak jalur menuju ke Puncak, namun lebih baik melewati desa tekelan karena terdapat Pos yang dapat memberikan informasi maupun berbagai bantuan yang diperlukan. Pos Tekelan dapat ditempuh melalui bumi perkemahan Umbul Songo.

Di bumi perkemahan Umbul Songo Anda dapat beristirahat menunggu malam tiba, karena pendakian akan lebih baik dilakukan malam hari tiba dipuncak menjelang matahari terbit. Andapun dapat beristirahat di Pos Thekelan yang menyediakan tempat untuk tidur, terutama bila tidak membawa tenda. Dapat juga berkemah di Pos Pending karena di tiga tempat ini kita bisa memperoleh air bersih.

Masyarakat di sekitar Merbabu mayoritas beragama Budha sehingga akan kita temui beberapa Vihara di sekitar Kopeng. Penduduk sering melakukan meditasi atau bertapa dan banyak tempat-tempat menuju puncak yang dikeramatkan. Pantangan bagi pendaki untuk tidak buang air di Watu Gubug dan sekitar Kawah. Juga pendaki tidak diperkenankan mengenakan pakaian warna merah dan hijau.

Pada tahun baru jawa 1 suro penduduk melakukan upacara tradisional di kawah Gn. Merbabu. Pada bulan Sapar penduduk Selo (lereng Selatan Merbabu) mengadakan upacara tradisional. Anak-anak wanita di desa tekelan dibiarkan berambut gimbal untuk melindungi diri dan agar memperoleh keselamatan. Perjalanan dari Pos Tekelan yang berada di tengah perkampungan penduduk, dimulai dengan melewati kebun penduduk dan hutan pinus. Dari sini kita dapat menyaksikan pemandangan yang sangat indah ke arah gunung Telomoyo dan Rawa Pening.

Di Pos Pending kita dapat menemukan mata air, juga kita akan menemukan sungai kecil (Kali Sowo). Sebelum mencapai Pos I kita akan melewati Pereng Putih kita harus berhati-hati karena sangat terjal. Kemudian kita melewati sungai kering, dari sini pemandangan sangat indah ke bawah melihat kota Salatiga terutama di malam hari.

Dari Pos I kita akan melewati hutan campuran menuju Pos II, menuju Pos III jalur mulai terbuka dan jalan mulai menanjak curam. Kita mendaki gunung Pertapan, hempasan angin yang kencang sangat terasa, apalagi berada di tempat terbuka. Kita dapat berlindung di Watu Gubug, sebuah batu berlobang yang dapat dimasuki 5 orang. Konon merupakan pintu gerbang menuju kerajaan makhluk ghaib.

Bila ada badai sebaiknya tidak melanjutkan perjalanan karena sangat berbahaya. Mendekati pos empat kita mendaki Gn. Watu tulis jalur agak curam dan banyak pasir maupun kerikil kecil sehingga licin, angin kencang membawa debu dan pasir sehingga harus siap menutup mata bila ada angin kencang. Pos IV yang berada di puncak Gn. Watu Tulis dengan ketinggian mencapai 2.896 mdpl ini, disebut juga Pos Pemancar karena di puncaknya terdapat sebuah Pemancar Radio.

Menuju Pos V jalur menurun, pos ini dikelilingi bukit dan tebing yang indah. Kita dapat turun menuju kawah Condrodimuko. Dan di sini terdapat mata air, bedakan antara air minum dan air belerang.

Perjalanan dilanjutkan dengan melewati tanjakan yang sangat terjal serta jurang di sisi kiri dan kanannya. Tanjakan ini dinamakan Jembatan Setan. Kemudian kita akan sampai di persimpangan, ke kiri menuju Puncak Syarif (Gunung Pregodalem) dan ke kanan menuju puncak Kenteng Songo ( Gunung Kenteng Songo) yang memanjang.

Dari puncak Kenteng songo kita dapat memandang Gn.Merapi dengan puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat, nampak dekat sekali. Ke arah barat tampak Gn.Sumbing dan Sundoro yang kelihatan sangat jelas dan indah, seolah-olah menantang untuk di daki. Lebih dekat lagi tampak Gn.Telomoyo dan Gn.Ungaran. Dari kejauhan ke arah timur tampak Gn.Lawu dengan puncaknya yang memanjang.

Menuju Puncak Kenteng Songo ini jalurnya sangat berbahaya, selain sempit hanya berkisar 1 meter lebarnya dengan sisi kiri kanan jurang bebatuan tanpa pohon, juga angin sangat kencang siap mendorong kita setiap saat. Di puncak ini terdapat batu kenteng / lumpang / berlubang dengan jumlah 9 menurut penglihatan paranormal.

Menuruni gunung Merbabu lewat jalur menuju Selo menjadi pilihan yang menarik. Kita akan melewati padang rumput dan hutan edelweis, juga bukit-bukit berbunga yang sangat indah dan menyenangkan seperti di film India yang sangat menghibur kita sehingga lupa akan segala kelelahan, kedinginan dan rasa lapar. Disepanjang jalan kita dapat menyaksikan Gn.Merapi yang kelihatan sangat dekat dengan puncak yang selalu mengeluarkan Asap.

Kita akan menuruni dan mendaki beberapa gunung kecil yang dilapisi rumput hijau tanpa pepohonan untuk berlindung dari hempasan angin. Disepanjang jalur tidak terdapat mata air dan pos peristirahatan. Kabut dan badai sering muncul dengan tiba-tiba, sehingga sangat berbahaya untuk mendirikan tenda.

Jalur menuju Selo ini sangat banyak dan tidak ada rambu penunjuk jalan, sehingga sangat membingungkan pendaki. Banyak jalur yang sering dilalui penduduk untuk mencari rumput dipuncak gunung, sehingga pendaki akan sampai diperkampungan penduduk. Sambutan yang sangat ramah dan meriah diberikan oleh penduduk Selo bagi setiap pendaki yang baru saja turun Gn.Merbabu. Apabila Anda tidak bisa berbahasa jawa ucapkan saja terima kasih.

Dari Selo dapat dilanjutkan dengan bus kecil jurusan Boyolali-Magelang, bila ingin ke yogya ambil jurusan Magelang, dan bila hendak ke Semarang atau Solo ambil jurusan Boyolali. 

JALUR KOPENG CUNTEL

Untuk menuju ke desa Cuntel dapat ditempuh dari kota Salatiga menggunakan mini bus jurusan Salatiga Magelang turun di areal wisata Kopeng, tepatnya di Bumi perkemahan Umbul Songo. Perjalanan dimulai dengan berjalan kaki menyusuri Jalan setapak berbatu yang agak lebar sejauh 2,5 km, di sebelah kiri adalah Bumi Perkemahan Umbul Songo. Setelah melewati Umbul Songo berbelok ke arah kiri, di sebelah kiri adalah hutan pinus setelah berjalan kira-kira 500 meter di sebelah kiri ada jalan setapak ke arah hutan pinus, jalur ini menuju ke desa Thekelan.

Untuk menuju ke Desa Cuntel berjalan terus mengikuti jalan berbatu hingga ujung. Banyak tanda penunjuk arah baik di sekitar desa maupun di jalur pendakian. Di Basecamp Desa Cuntel yang berada di tengah perkampungan ini, pendaki dapat beristirahat dan mengisi persediaan air. Pendaki juga dapat membeli berbagai barang-barang kenangan berupa stiker maupun kaos.

Setelah meninggalkan perkampungan, perjalanan dilanjutkan dengan melintasi perkebunan penduduk. Jalur sudah mulai menanjak mendaki perbukitan yang banyak ditumbuhi pohon pinus. Jalan setapak berupa tanah kering yang berdebu terutama di musim kemarau, sehingga mengganggu mata dan pernapasan. Untuk itu sebaiknya pendaki menggunakan masker pelindung dan kacamata.

Setelah berjalan sekitar 30 menit dengan menyusuri bukit yang berliku-liku pendaki akan sampai di pos Bayangan I. Di tempat ini pendaki dapat berteduh dari sengatan matahari maupun air hujan. Dengan melintasi jalur yang masih serupa yakni menyusuri jalan berdebu yang diselingi dengan pohon-pohon pinus, sekitar 30 menit akan sampai di Pos Bayangan II. Di pos ini juga terdapat banguanan beratap untuk beristirahat.

Dari Pos I hingga pos Pemancar jalur mulai terbuka, di kiri kanan jalur banyak ditumbuhi alang-alang. Sementara itu beberapa pohon pinus masih tumbuh dalam jarak yang berjauhan.

Pos Pemancar atau sering juga di sebut gunung Watu Tulis berada di ketinggian 2.896 mdpl. Di puncaknya terdapat stasiun pemancar relay. Di Pos ini banyak terdapat batu-batu besar sehingga dapat digunakan untuk berlindung dari angin kencang. Namun angin kencang kadang datang dari bawah membawa debu-debu yang beterbangan. Pendakian di siang hari akan terasa sangat panas. Dari lokasi ini pemandangan ke arah bawah sangat indah, tampak di kejauhan Gn.Sumbing dan Gn.Sundoro, tampak Gn.Ungaran di belakang Gn. Telomoyo.

Jalur selanjutnya berupa turunan menuju Pos Helipad, suasana dan pemandangan di sekitar Pos Helipad ini sungguh sangat luar biasa. Di sebelah kanan terbentang Gn. Kukusan yang di puncaknya berwarna putih seperti muntahan belerang yang telah mengering. Di depan mata terbentang kawah yang berwarna keputihan. Di sebelah kanan di dekat kawah terdapat sebuah mata air, pendaki harus dapat membedakan antara air minum dan air belerang.

Perjalanan dilanjutkan dengan melewati tanjakan yang sangat terjal serta jurang di sisi kiri dan kanannya. Tanjakan ini dinamakan Jembatan Setan. Kemudian kita akan sampai di persimpangan, ke kiri menuju Puncak Syarif (Gunung Pregodalem) dan ke kanan menuju puncak Kenteng Songo ( Gunung Kenteng Songo) yang memanjang.

Dari puncak Kenteng songo kita dapat memandang Gn.Merapi dengan puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat, nampak dekat sekali. Ke arah barat tampak Gn.Sumbing dan Sundoro yang kelihatan sangat jelas dan indah, seolah-olah menantang untuk di daki. Lebih dekat lagi tampak Gn.Telomoyo dan Gn.Ungaran. Dari kejauhan ke arah timur tampak Gn.Lawu dengan puncaknya yang memanjang. 

JALUR WEKAS (SISI BARAT)

Jika dibandingkan dengan ketiga jalur yang ada yaitu jalur Tekelan, Cuntel dan Selo. Jalur pendakian dari desa Wekas ini jauh lebih pendek dan disamping itu pada Pos II jalur ini ada sumber air dari pipa yang bocor. Jalur Wekas ini nanti nya akan bertaut dengan jalur dari Tekelan/Cuntel yaitu tepatnya setelah puncak Watutulis (Pos Pemancar) jalur Wekas akan menyatu dengan kedua jalur dari arah Tekelan dan Cuntel tepatnya jalur tersebut menyatu pada sebuah patok pemisah kabupaten.

Akses untuk samapai di Wekas bisa melewati Magelang dengan menumpang minibus tujuan Kopeng dan kemudian turun di GERBANG Kaponan yang merupakan gerbang desa Wekas. Ongkosnya Rp.5.000,- Kemudian dari gerbang ini menuju Desa Wekas berjarak sekitar 3 km. Bisa juga menggunakan Ojek hingga basecamp Wekas dengan sewa Rp.10.000,- atau mencarter pick-up dengan tarif berdasarkan negosiasi. Jalan aspal berbatu menuju desa Wekas cukup curam dan menanjak.

Perijinan bisa diurus di basecamp jalur Wekas yang merupakan kediaman dari Pak Sutyoso yang merupakan kuncen (juru kunci) jalur Wekas.

Rute Pendakian
Basecamp Wekas - Pos I
Dari basecamp Wekas jalur pendakian dimulai dengan menapaki jalan kampung dan kemudian terus berlanjut dengan jalan kecil yang terbuat dari susunan batako yang di semen, lumayan menanjak. Jalan bersemen ini berakhir pada sebuah bangunan makam yang ada rumahnya. Kemudian jalur pendakian berupa jalan tanah yang jelas sekali. Sepanajng jalur menuju Pos I keadaan hutan tidak begitu rapat. Masih terdapat perladangan penduduk dan hutan cemara.

Pos I – Pos II
Pos I merupakan sebuah dataran yang cukup luas dan terbuka, tpi pada Pos I ii tidak terdapat sumber air, pos ini hanyalah sebagai persnggahan sementara bagi pendaki jarang yang menginap disini. Kondisi jalur trek menuju Pos II dari Pos I terlihat jelas sekali dan cuup menanjak, selepas pos I akan bertemu dengan pipa plastik alran air dan jalur trek hingga Pos II akan mengikuti pipa plastik ini. Keadaan hutan tidak beitu berbeda dengan aape jalur trek sebelum Pos I. Mendekati Pos II jalan setepak akan sedikit mendatar dan disebelah kiri akan terlihat punggungan pucak Antene dengan antenenya. Waktu tempuh dari Pos I ke pos II kurang lebih 2,5 jam.

Pos II – Pertigaan jalur dari arah Kopeng
Pos II merupakan areal datar yang cukup luas, dan jika musim ramai pendakian di pos ini ada warung yang dibuat oleh penduduk setempat. Pemandangan sangat indah di Pos II ini jika cuaca bagus punggungan punak antene, punak hellypad dan beberapa pungungan lainnya. Indah sekali mirip pemandangan alpen. Disebelah kiri pos terdapat punggungan dan lembah yang dalam, didasar lembah tersebut terdapat air terjun. Di pos ini ada sumber air yang berasal dari pipa air yang dibolongi. Pos II banyak dijadikan alternatif sebagai tempat bermalam oleh pendaki. Dari Pos II menuju pertigaan jalur yang dari arah Kopeng (Tekelan dan Cuntel) jalur setapak cukup menanjak tajam tidak jauh dari Pos II akan bertemu dengan pertigaan, ambil jalur trekk yang sebelah kiri jalur ini kemudian akan menanjak dan bertemu batu besar kemudian belok ke kiri hingga jalur bertaut dengan jalur dari arah Kopeng. Waktu tempuh dari Pos II hingga ke pertigaan jalur dari Kopeng ini kurang lebih 2 jam.

Pertigaan jalur arah Kopeng – Hellypad.
Pertigaan tempat jalur Wekas dan jalur dari Kopeng bertaut dan menjadi satu menuju puncak ini ditandai dengan sebuah patok perbatasan kabupaten. Dari sini Pos II dan jalur menuju puncak jelas terlihat. Dan tidak jauh dari pertigaan ini hellypad sudah terlihat.

Hellypad
Lokasi ini berupa sebuah dataran yang terbuka mampu memuat 4 -5 tenda dan dari lokasi ini bisa menikmati pandangan  ke berbagai arah. Puncak Syarif dan puncak Keteng Songo jelas terlihat dari sini. Jika turun ke arah kawah kita akan menemukan sumber air, yang kadang sedikit berasa agak asam karena pengaruh belerang. Hellypad merupakan pilihan yang bagu untuk mendirikan tenda. Pemandangannya bagus sekali, tapijika anda memutuskan untuk mendirikan tenda di Hellypad ini tenda anda haruslah cukup kuat menahan hebusan angin karena lokasinya yang sangat terbuka.
Baca lebih lanjut »