Gunung Tambora

Gunung yang bertipe Strato vulkanik ini dan berlokasi di wilayah administratif Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima di Nusatenggara Barat ini mempunyai ketinggian 2.851m dpl dan berada pada posisi geografis 08° 15` LS dan 118° 00' BT. Gunung yang mempunyai kawah kaldera 6 x 7 km dengan kelilingnya sekitar 16km dan kedalaman kawah hingga 800m ini merupakan gunung yang termasyur di dunia. Termasyur karena pada tanggal 5 April 1815 meletus dengan dahsyat dan letusan tersebut termasuk letusan yang terbesar didunia. Dahulunya gunung ini menurut perkiraan para ahli mempunyai ketinggian lebih dari 4.000m dpl, dan letusan dahsyat tersebut telah memotong puncaknya hingga mempunyai ketinggian 2851m dpl, letusan yang menyemburkan 36 mil kubik ini juga telah memusnahkan hingga punah sebuah kerajaan yang bernama kerajaan Tambora. Abu letusan tersebut menutupi sinar matahari hingga ke Eropah dan menyebabkan musim dingin yang berkepanjangan didaratan Eropah, dan musim dingin panjang ini jugalah yang telah menyebabkan kalahnya Napoleon di Waterloo. Hal-hal tersebut diataslah yang menjadikan Tambora sangat terkenal didunia. Kaldera besar yang dimiliki gunung sangat menakjubkan dan indah. Kawasan Gunung Tambora ini terbagi menjadi dua bahagian lokasi konservasi yaitu: Tambora Utara Wildlife Reserve seluas 80.000 hektar dan Tambora Selatan HUnting Park seluas 30.000 hektar. Dikawasan hutan Gunung Tambora bisa ditemukan binatang-binatang seperti: Rusa Timor (Cervus timoresis), babi hutan (Sus scrofa), Kera berekor panjang (Macaca fascicularis), dan lainnya.

AKSES TRANSPORTASI dan AKOMODASI
Pintu masuk untuk pendakian awal ke puncak Tambora adalah dari desa Pancasila, untuk mencapai desa ini bisa dilakukan lewat kota Mataram atau kota Bima. Jika dari Mataram, dengan menggunakan bus Sari Rejeki dari terminal Bertais Mataran, dengan trayek Mataram – Calabai. Bus ini sehari hanya ada satu, berangkat setiap jam 9 pagi dan sampai di Calabai jam 6 pagi keesokan harinya. Dari Pasar Minggu (Calabai) anda bisa meneruskannya dengan naik ojek dengan tariff Rp.25.000,- per orang. Jika jumlah rombongan anda cukup banyak, biasanya supir bus Sari Rejeki ini tidak akan keberatan mengantarkan anda hingga ke Desa Pancasila. Jika anda ke Pancasila melewati Kota Bima, maka terlebih dahulu anda harus ke kota Dompu baru dari Dompu anda berganti bus yang ke Calabai, bus trayek Dompu – Calabai ini hanya ada dua kali sehari berangkat setiap jam 6 pagi dan jam 2 siang. Anda harus mempersiapkan diri anda untuk naik bus ini karena merupakan hal yang wajar pada bus Dompu – Calabai ini menaikan penumpang melebihi kapasitas bangkunya seperti bangku kapasitas dua orang diisi hingga empat orang. Jika anda mau nyaman anda juga bisa mencarter mobil dari Bima.

RUTE PENDAKIAN
Untuk mencapai puncak Tambora, pada jalur pendakiannya terdapat 5 pos yang harus kita lewati.

Desa Pancasila - Pintu hutan
Dari desa Pancasila kita akan melewati jalan tanah yang cukup lebar dan bisa dimuati oleh kendaraan roda empat dikiri kanan jalan terdapat perkebunan kopi dan juga ada sebuah Pura Hindu bali yang tidak jauh dari jalan tersebut, jalan ini cukup panjang jika ditempuh dengan jalan kaki akan memakan waktu sekitar 3 jam. Untuk mempersingkat waktu ada baiknya juga jika anda menggunakan ojek motor hingga ke Pintu hutan.

Pintu Hutan - Pos I
Pendakian diawali dari sini dan akan melalui jalan setapak yang cukup lebar yang merupakan bekas lalu lintas truk pengangkut hasil loging kayu di hutan Tambora. Agak semakin jauh jalannya mulai tertutup oleh semak belukar berduri dan ilalang, disepanjang jalan banyak dijumpai tumbuhan pakis sayur yang baisa dibuat sayur, pakis ini berbeda dengan pakis hutan yang berbulu dan berasa pahit. Pos I hanya berupa sebuah tanah terbuka yang dikitari oleh semak belukar. Tidak ada sumber air disini.

Pos I - Pos II
Dari Pos I menuju Pos II jalan setapaknya seperti halnya pada etape pertama tadi masih landai dan sesekali menanjak, masih melewati semak belukar cukup lembab. Pada etape ini anda akan disambut oleh populasi pacet yang cukup banyak. Mendekati Pos II mulai memasuki hutan dengan pohon-pohon yang cukup besar-besar. Hati-hati di beebrapa tempat ada seperti jalan bercabang. Di Pos II ini terdapat sebuah pondok dan sumber air berupa sebuah kali kecil yang terletak tidak jauh dari pos II. Waktu tempuh dari Pos I ke Pos II kurang lebih 2,5 jam.

Pos II - Pos III
Jalur pendakian dari Pos II turun ke arah sungai dan setelah menyeberangi sungai kecil itu ada tanjakan yang cukup terjal dan setelah itu kembali jalan setapaknya landai. Pada etape ini pacet masih ada, karena hutannya masih cukup lembab. Pos III merupakan sebuah ataran yang cukup luas bisa menampung sekita 10 tenda. Disini ada sebuah pondok kayu seperti rumah panggung. Sumber air bisa ditemukan di pos ini berjarak sekitar 300 meter. Biasanya Pos II ini dijadikan sebagai camp untuk menginap, karena pada Pos IV tidak ada air, dan pada Pos V hanya ada air genangan pada sungai kering, yang terkadang juga kering tanpa genangan. Summit attack biasanya dilakukan dari Pos III pada dini hari sekitar jam 2 atau jam 3 dini hari agar sampai dipuncak sewaktu sunrise. Waktu tempuh dari pos II ke Pos III

Pos III - Pos IV
Dari Pos III menuju Pos IV jalur jalan masih dipenuhi oleh tumbuhan daun jelatang (daun pulus) dan daun ini memenuhi kiri kanan jalur hingga Pos IV. Jalur pendakiannya landai. Tapi harus waspada dengan sengatan daun jelatang. Pada jalur ini ada sebuah punggunngan yang dipenuhi oleh tumbuhan jelatang dan untuk melewati daerah ini hanya ada sebuah pohon tumbang sebagai jalan kita. Waktu tempuh dari Pos III ke Pos IV sekitar kurang lebih 2 jam perjalanan. Pos IV berupa sebuah tanah datar yang cukup untuk menampung 5 - 7 tenda dan dikitari oleh daun jelatang serta pohon-pohon besar yang melindungi dari sengatan matahari. Di pos ini tidak ada sumber air.

Pos IV - Pos V
Menuju Pos V, tumbuhan jelatang dan pohon-pohon besarnya mulai berkurang dan digatikan oleh ilalang dan pohon-pohon kecil. Jalur pendakiannya landai dan pada beberapa tempat yang terbuka dan cuaca cerah kita akan bisa melihat dengan jelas puncak Rinjani disebelah barat, pulau Satonda dan Pulau Mojo. Pos V ini Terdapat sebuah pondok sederhana, lokasi pos ini cukup terlindung dari angin karena rimbunnya pohon-pohon disekelilingnya. Di lokasi ini ada sumber air yang lokasinya bisa ditemukan disebuah sungai kering yang berjarak 50 meter menuruni lembah, akan tetapi hanya berupa genangan dan sebaiknya tidak mengkonsumsinya karena warnanya yang sedikit gelap. Pos V ini bisa juga dijadikan lokasi alternatif untuk basecamp sebelum summit attach, akan tetapi konsekuensinya harus membawa persediaan air yang cukup dari pos III. Jarak tempuh dari Pos IV ke Pos V kurang lebih 2 jam.Pos V - Bibir Kawah

Etape ini yang cukup panjang dan keadaan medan yang terbuka, didaerahinipada pagi hari banyaksekali dijumpai ayam hutan. Jika anda sampai di etape ini hari sudah pagi akan membuat anda cukup bosan karena jalur pendakiannya cukup menanjak dan melingkar. Tapi pemandangan cukup indah dari sini. Jalan setapak sudah berbatu dan berpasir. Setelah melewati sekumpulan cemara terakhir anda akan sampai pada medan berpasir yang menandakan bibir kawah Tambora sudah dekat. Jarak tempuh dari Pos V ke bbir kawah sekitar 2,5 jam.Bibir Kawah - Puncak

Dari bibir kawah puncak ada terlihat di sebelah kiri kita, untuk menuju kesana jalan setapak ada di pinggiran kawah, jangan terlalu ke pinggir kawah karena kemungkinan bbir kawah longsor bisa terjadi. Pada saat berada di bibir kawah Tambora ini hendaknya berhati-hati terhadap lautan pasir yang cukup dalam dan angin yang bertiup cukup kencang. Jangan berdiri terlalu dekat dengan bibir kawah yang rawan longsor karena di beberapa tempat pijakannya hanya berupa tumpukan pasir yang rawan longsor. Puncak Tambora sendiri yang dikenal dengan sebutan "Doro Meleme" yang artinya Gunung yang runcing ini masih berjarak letaknya. Diperlukan waktu sekitar 30 menit untuk mencapainya dari tempat awal bibir kawah. Di puncak gunung ini bisa ditemukan tiang trianggulasi yang berupa sebuah prasasti yang dibuat oleh pemerintah setempat. Dari bibir kawah ke puncak memakan waktu kurang lebih 30 – 40 menit.Keindahan kawah Tambora memang cukup membuat terpana. Kawah yang menganga lebar dengan luas berkilo-kilo meter, ditambah dengan eksotiknya sebuah anak gunung api yang muncul di dalam kawah. Gunung api kecil ini dalam bahasa Bima disebut sebagai Doro Afi To’i. Yang berarti Gunung Api Kecil. Belum lagi rumpun-rumpun edelweis yang tumbuh di sela-sela lapisan dataran bibir kawah yang luas dan berlapis-lapis dapat dinikmati di bawah cerahnya langit di bulan Juni – Agustus yang merupakan waktu terbaik melakukan pendakian di Tambora. Keadaan Tambora umumnya memiliki karakteristik pegunungan yang berada di wilayah timur Indonesia dengan angin yang kering dan vegetasi semak perdu. Jalur didominasi oleh jalur penebangan hutan liar dan pohon-pohon besar yang tumbang serta tumbuhan jelatang serta semak khas Tambora bernama “Tare’dek” yang berbau khas dan tumbuh di sepanjang jalur setelah pos III. Mata air yang cukup berlimpah, waspadai kemunculan babi hutan maupun rusa yang masih banyak populasinya di wilayah Tambora.

PERIJINAN
Untuk perijinan pendakian bisa diurus dirumah kepala desa Panacsila. Dan belakangan ini kebijakan dari kepala Desa Pancasila yaitu mengharuskan pendaki untuk menyewa guide lokal yang biasanya adalah anggota KAPATA. Mereka sudah cukup terlatih mengenal medan gunung Tambora.

TEMPAT MENARIK


Kawah Gunung Tambora

Tempat menarik di gunung Tambora ini tidak lain adalah kawah gunung ini yang sangat besar serta diperlengkap dengan hadirnya "Doro Afi To'i" ditengahnya. Dan jika mempunyai waktu yang banyak anda bisa mengelilingi kawah yang berjarak 16 km serta memerlukan waktu 3 - 4 hari, bisa juga menuruni kawah Tambora yang dalamnya lebih dari 800 meter dengan waktu tempuh turun sekitar 8 jam dan  melewati jalur trek yang cukup berbahaya.



Bagikan di facebook

2 komentar

visittambora

http://visittambora.wordpress.com/

Rinjani Trek

waou keren

Post a Comment