Uji Nyali di Tebing Citatah

Bagi anda penikmat wisata olahraga yang memacu adrenalin, tak lengkap rasanya jika anda belum mencoba olah raga panjat tebing di Citatah, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Tebing yang memiliki karakteristik batuan kapur ini bisa menjadi alternatif wisata untuk mengisi liburan panjang.

Tebing Citatah yang berlokasi 5 kilometer dari gerbang tol Padalarang ini memiliki karakteristik batuan kapur yang aman untuk dipanjat. Ada tiga tebing utama yang biasa digunakan untuk pemanjatan, yaitu Citatah 48, CItatah 90, Citatah 125. Tebing tersebut diberi nama sesuai dengan ukuran ketinggiannya.

Tebing Citatah 48, yang biasa disebut warga sekitar sebagai Gunung Tebing Manik, memiliki 25 jalur pemanjatan. Tebing ini juga kerap disebut Tebing Komando karena berada di bawah pengawasan Kopassus. Di puncak tebing ini terdapat tugu pisau yang menjadi ciri khas dari tebing ini. Jika ingin memanjat tebing ini, anda harus mengurus izin pemanjatan ke Pusat Pendidikan Latihan Khusus (Pusdipassus) yang berlokasi di Batujajar, Bandung.

Kemudian, untuk Tebing Citatah 90 letaknya berdekatan dengan Tebing Citatah 48. Untuk Tebing Citatah 90 kurang direkomendasikan untuk melakukan pemanjatan karena medan tebing yang lebat oleh pepohonan dan hanya terdapat dua hanger (gantungan pengaman) di tebing tersebut. Di tebing ini juga terdapat aktivitas penambangan kapur dan batuan marmer yang membuat kegiatan pemanjatan menjadi kurang kondusif.

Terakhir adalah Tebing Citatah 125 yang lokasinya 500 meter dari Tebing Citatah 90. Tebing ini merupakan tebing yang paling populer di kalangan pemanjat karena tebing ini memiliki ketinggian ideal untuk pemanjatan dan jalur pemanjatan yang cukup variatif. Di ketinggian 30 meter dari tebing terdapat goa alami yang biasa digunakan untuk melakukan kepentingan pemanjatan dan tempat beristirahat bagi para pemanjat.

Untuk bisa menggunakan Tebing Citatah 125 ini, anda hanya perlu meminta izin kepada ketua RT atau pengurus Karang Taruna Pabeasan. Tebing ini berada dalam pengawasan warga Pabeasan yang mengurus fasilitas umum seperti toilet dan saung-saung di sana.

Bagi anda yang berminat melakukan pemanjatan, anda hanya perlu mempersiapkan peralatan panjat sesuai dengan prosedur dan mengajak rekan anda yang sudah cukup berpengalaman di bidangnya. Beberapa peralatan yang dibutuhkan seperti carabiner, harness, tali kernmantel, sepatu panjat, figure eight, dan lain sebagainya.

Ada baiknya, bagi pemula anda melakukan kegiatan free climbing dan harus dijaga oleh seorang belayer ketika memanjat. Hal yang perlu diingat dalam melakukan pemanjatan adalah tetap menjaga etika sopan santun antar pemanjat di sana dan menjaga kebersihan lokasi pemanjatan. Selamat mencoba!


Baca lebih lanjut »

Teknik Rock Climbing

Permukaan tebing dimanapun pasti mempunyai perbedaan yang sangat mencolok dalam setiap jalur pemanjatan. Dari perbedaan ini yang paling besar adalah bentuk dan ukuran dari pegangan tangan dan pijakan kaki. Hal ini memerlukan tingkatan kemampuan dalam menyeimbangkan posisi tubuh dalam memanjat disamping kekuatan, yang dimaksud disisni adalah teknik.

Teknik memanjat yang paling mendasar adalah bagaimana kita sebisa mungkin mengontrol dan menstabilkan titik pusat tubuh sesuai garis gravitasi pada setiap gerak memanjat. Kaki dan tangan dalam hal ini berfungsi sebagai penyeimbang. Tindakan dari pergerakan untuk memperoleh keseimbangan dibutuhkan energi untuk mendapatkannya.

Kita tahu bahwa energi manusia mempunyai keterbatasan, sedangkan hubungan antara energi dan teknik jika dipadukan akan memperoleh teknik memanjat yang baik. Dengan kata lain pemanjat yang baik adalah pemanjat yang dapat membagi pengeluaran energi secara lengkap melalui titik pada tubuh, al pada kedua tangan sebagai pegangan dan kedua kaki sebagai pijakan.

Kerja tangan.

Secara umum terdapat 4 dasar yang membedakan dalam kerja tangan, al :

Palm grip, teknik memegang dengan cara menekan, biasa dilakukan pada permukaan tebing yang vertical.
Open grip, teknik memegang dengan cara menarik dengan posisi jari yang diluruskan, biasanya dipakai jika pegangan yang ada ditebing berbentuk mendatar dan melebar.
Cling grip dengan kuncian, teknik memegang dengan menarik dengan posisi jari yang ditekuk pada persendian dan dengan menggunakan ibu jari untuk mengunci. Biasa dipakai pada pegangan yang kecil.
Cling grip tanpa penguncian, Teknik memegang yang sama namun ibu jari tidak mengunci.

Karena tebing mempunyai bermacam-macam bentuk, maka muncullah jenis-jenis pegangan, yaitu:

Pocket Grip, jenis pegangan yang memanfaatkan tebing yang berlubang.
Pinch grip, jenis pegangan yang memanfaatkan bentuk rekahan dan tonjolan tebing yang vertical pada kedua sisi. Gerakannya seperti mencubit.
Under cut, jenis pegangan dengan posisi yang terbalik dan tangan menghadap keatas. Gerakan tangan menarik keatas disertai dengan dorongan kaki yang keras. Tenaga yang dikeluarkan antara tangan dan kaki berlawanan arah. Gerakan ini sama dengan gerakan pada teknik memanjat laybacking.
Lay back, jenis pegangan dengan posisi pegangan yang menyamping dan kaki mendorong kesamping yang arahnya berlawanan.
Finger crack, jenis pegangan dengan memanfaatkan rekahan tebing yang memanjang secara vertical, dengan cara memasukkan jari. Jenis pegangan ini sangat rawan cidera lecet karena mengandalkan gesekan dengan tebing.
Hand crack, jenin pegangan ini hampir sama dengan finger crack, akan tetapi yang membedakan adalah yang dimaksukkan ke rekahan adalah telapak tangan keseluruhan dan rekahan sedikit lebih lebar sesuai dengan ketebalan telapak tangan. Jenis ini juga rawan cidera lecet.
Fist jamming, hampir sama dengan finger dan hand crack namun posisi tangan mengepal menyamping dan lebar rekahan sebesar kepalan tangan.

Kerja kaki

3 cara mendasar dari cara kerja kaki :

Pijakan dengan ankle kaki yang meninggi (jinjit), kerja angkle berat.
Pijakan dengan angkle kaki yang sedang, kerja angkle sedang
Pijakan dengan angkle kaki yang menurun, kerja angkle sedikit.

Jenis pijakan :

Smearing, teknik memijak dimana tekanan terbesar pada sol sepatu dengan mengandalkan friksi/gesekan sol. Biasa digunakan pada pijakan slabs, flat. Teknik ini menitik beratkan seluruh beban pada kaki, sedangkan tangan sebisa mungkin hanya untuk keseimbangan.
Edging, Teknik memijak dimana menggunakan tepi dan ujung dari sepatu panjat pada celah pijakan yang kecil. Hal ini membuat kerja angkle yang berat.
Heel hooking, teknik memijak kaki dengan menggunakan ujung dan tumit kaki yang biasa dilakukan pada permukaan tebing overhangs/miring dan roofs/horizontal. Cara kerjanya dengan menarik dan mengkait melalui ujung kaki dan tumit kaki. Cara kerja ini bisa menghemat tenaga, terlebih pada posisi di roof dan terkadang pijakan dengan tumit lebih tinggi dari pada posisi pegangan.
Jamming, teknik pijakan dengan memanfaatkan celah/rekahan batuan vertical (crack) yang memanjang. Posisi kaki yang miring membuat kerja kaki yang ekstrem pada angkle, hal ini bisa mengakibatkan cidera pada angkle bila tidak dipersiapkan dengan baik.

Teknik pemanjatan.

Dilihat dari bentuk tebing :

Chimney, suatu teknik pemanjatan dengan menggunakan bentuk tebing batu yang mempunyai celah vertical yang besar dan luas yang mana dalam menggunakan teknik ini si pemanjat harus menyelipkan badan kedalam celah, lalu dengan tekanan/dorongan kaki pada bagian dinding depan. Pada saat bersamaan tubuh bersandar dan menempel didinding. Gabungan tekanan kesamping dan keatas maka gerakan naik dapat dilakukan oleh pemanjat. Sesuai dengan besar kecil dari celah pada tebing, cimney dapat dibedakan menjadi 3 yaitu stemming dengan celah yang sedang dan sempit dan bridging dengan celah yang sangat lebar, cara kerja teknik ini dengan menggunakan kedua kaki yang melebar dan saling menekan.
Corner crack (dihedral), teknik dan pergerakan teknik ini hampir sama dengan chimney bridging namun yang membedakan adalah bentuk dari tebing yang menyudut. Cara kerjanya sama yaitu pada kaki menekan, mendorong keatas dan melebar. Pada keadaan tertentu disamping tangan berfungsi sebagai tarikan, keseimbangan juga sebagai dorongan kebawah.
Mantling/mantleshelfing, merupakan teknik memanjat yang khusus. Menggunakan tangan untuk menekan pinggiran tebing atau pegangan yang luas agar badan terangkat keatas. Gerakan diawali dengan tarikan tangan yang kuat dan dengan gerakan yang cepat siku digerakan keatas sehingga sejajar dengan bahu dan mendorong keatas sampai badan terangkat keatas.
Laybacking, teknik pemanjatan dengan posisi tangan menarik menyamping dan gerakan/tenaganya berlawanan dengan kaki yang mendorong. Teknik ini banyak dipakai pada situasi tertentu, misalnya pada pemanjatan menyamping (traverse), rekahan vertical (crack).
Scrambling, pemanjatan dengan medan tebing yang mempunyai kemiringan agak landai.

Etika pemanjatan

Pemanjat harus menghormati adat istiadat dari warga sekitar tebing.
Berdoa dan melakukan ritual agama sebelum melaksanakan pemanjatan.
Mempersiapkan mental dan fisik.
Melaksanakan prosedur pemanjatan yang baik.
Memelihara lokasi tebing, baik dalam hal kebersihan keindahan dan kealamian tebing.

Jenis pemanjatan

Bouldering, adalah pemanjatan tanpa menggunakan tali, pengaman karena medan yang dipanjat yang relative rendah. Tujuan utama dari pemanjatan ini untuk menyelesaikan jalur/route yang sulit. Pemanjat hanya menggunakan sepatu panjat dan chalk. Bentuk pengamanannya yaitu melompat seaman mungkin kebawah dan dijaga oleh partner.
Buildering, adalah pemanjatan pada media gedung, towers, monument dsb.
Freeclimbing, adalah pemanjatan tebing dengan memanfaatkan cacat batuan pada tebing dalam memasang dan menggunakan pengamanan alami serta tali. Pengaman yang dipakai adalah pengaman berjalan dan pengaman ini tidak digunakan untuk membantu pemanjatan dan menambah ketinggian.
Free solo, adalah pemanjatan bebas (free climbing) yang dilakukan tanpa menggunakan tali pengaman, apabila jatuh akan berakibat fatal yaitu kematian.
Sport climbing, adalah suatu pemanjatan yang lebih menekankan pada faktor olahraganya.
Baca lebih lanjut »

Kamus Luwak Rock Climbing

  • Karabiner : Cincin kait
  • Screw gate : Cincin kait berulir / kunci
  • Snap gate : Cincin kait tak berulir
  • Descendeur : Alat untuk turun tebing berbentuk angka 8
  • Ascendeur/Jumar : Alat naik meniti tali
  • Friends : Pengaman sisip pegas
  • Hexentric (hexa, 6) : Alat pengaman sisip bersudut 6
  • Stoppers : Alat pengaman sisip
  • Natural ancor : Pengaman alam
  • Knot : Simpul
  • Hitch : Jerat
  • Sling : Pita nilon berlingkar besar
  • Herollop : Pita nilon lingkar kecil
  • Kernmantel : Tali dengan kontruksi beberapa jalur lurus dengan dibungkus (bernmantel)
  • Stitch plate : Bilah jepit ubtuk pemanjatan
  • King pin : Pasak tebing berbentuk pasak
  • Piton angle : Pasak tebing berbentuk lipat
  • Stirup/ etrier : Tali / pita tangga
  • Flexibel soles : Sepatu penjat dengan sol lentur
  • Hearness : Sepatu panjat dengan sol keras
  • Seat hearness : Sabuk pengaman
  • Full body hearness : Sabuk pengaman yang mengikat di pinggang, paha, dada dan pundak
  • Leader : Orang pertama / pembuka jalur dalam pemanjatan
  • Belayer : Penambat
  • Hanging belay : Penambatan gantung
  • Overhang : Lintasan gantung
  • Roof : Lintasan atap
  • Chalk bag : Kantong kapur yang berisi magnesium carbonat
  • Crack line : Jalur celah
  • Chimney : Celah lebar ( seperti cerobong)
  • Hold : Pegangan
  • Hand hold : Pegangan besar
  • Finger hold : Pegangan jari
  • Hand jamming : Menjepitkan tangan dari siku sampai dengan jari
  • Foot jamming : Menjepitkan kaki
  • Travesing : Lintasan pemanjatan menyamping
  • Bouldering : Latihan memanjat dengan ketinggian tidak melebihi 5 meter
  • Three point contrak : Teknik memanjat dengan bertumpu pada tiga titik gerakan
  • Pendulum : Gerakan membandul
  • Cleaning up : Penyapuan pengaman yang terpasang pada lintasan
  • Rappelling : Turun tebing mealui tali
  • Brake bar : Rem palang untuk turun tebing
  • Multi rappel : Turun tebing melalui beberapa tali
  • Big wall climbing : Pemanjatan tebing besar
  • UIAA : Union Internasional des Asscocitions d’Alpinism (badan internasional yang mengurus panjat tebing)
  • Double fisherman knot : Simpul nelayan ganda
  • Bowline : Simpul kambing
  • Double figure eight knot : Simpul delapan ganda
  • Italian hitch : Jerat penambat
  • Clove hitch : Jerat tambat
  • Prusik : Jerat geser
  • Tape knot : Simpul sambung pita
  • Artificial climbing : Pemanjatan dengan menggunakan pengaman untuk menambah ketinggian
  • Free climbing : Pemanjatan yang menggunakan pengaman sebagai pengaman saja
  • Solo climbing : Pemanjatan tanpa pengaman / sendiri
  • Clean climbing : Pemanjatan yang menggunakan pengaman yang tidak merusak tebing
  • Alpine style : Pemanjatan tanpa tehubung dengan base camp
  • Siegea / Himalayan taktik : Pemanjatan yang selalu terhubung dengan base camp/dasar
  • Pitch : Pemanjatan sepanjang satu tali/satu etape
  • Crux : Bagian kesulitan pada satu jalur
  • On Sight : Pemanjatan satu kali berhasil pada satu jalur
  • Grade : Tingkat kesulitan dalam suatu pemanjatan


Baca lebih lanjut »

Simpul untuk Rapelling

Jika anda telah memanjat dan perlu untuk rappeling, salah satu dari puncak jalur yang baru saja anda panjat atau berhenti karena cuaca mulai memburuk misalnya akan ada badai disertai petir, kemudian perlu menyambung tali untuk turun ke bawah. Double-rope rappeling bisa membuat anda lebih cepat untuk meluncur ke bawah, khususnya jika anda menggunakan dua tali yang panjangnya 200-feet (60 meter), anda akan terlepas dari bahaya petir.

Rappelling adalah salah satu teknik panjat paling berbahaya. Banyak kecelakaan terjadi saat rappelling. Bila anda melakukan rappelling dari tebing, anda wajib mempercayakan peralatan pada tali, descender, harness, dan semua terhubung dengan tali anda. Disamping punya anchor yang sempurna, anda perlu menyambung tali dengan sebuah simpul kuat yang akan mendukung berat anda saat rappelling.

Empat Simpul Terbaik Untuk Tali Rappeling

1. Double Figure-8 Fisherman’s Knot.

merupakan cara umum untuk mengikat tali rappel bersama, rangkain paling kuat, dan jika diikat semestinya, tidak akan terlepas. Juga mudah dilihat untuk memeriksa dan menyakinkan ini diikat semestinya. Dan juga mudah diuraikan setelah terbebani. Ini adalah simpul terbaik untuk menyambung tali dengan diameter yang tak sama. Setelah anda menyambung tali dengan double figure-8, maka setiap ujung tali diikat dengan fisherman knot sebagai back-up.


2. Square Fisherman’s Knot.


Banyak pemanjat menyukai ini simpul karena diikat dan paling mudah diuraikan dari empat simpul ini. pada dasarnya sekedar sebuah square knot (simpul mati) yang di back-up dengan simpul double fisherman pada sisi lainnya. jika anda menggunakan simpul ini, selalu gunakan simpul backup atau jangan sampai ini terlepas. simpul mati sendirian bukan sebuah simpul yang baik untuk rappelling atau tujuan pemanjatan lainnnya. Setelah anda membuat simpul mati kunci dengan fisherman knot



3. Double Overhand Knot.


Simpul ini, kadang-kadang disebut "simpul mati eropa," telah tenar dan sering digunakan untuk menyambung tali. Paling cepat dan paling mudah dibuat dari empat simpul lainnya dan punya lekukan yang sedikit, yang membuat ini jarang tersangkut atau membuat tali kaku. Jangan gunakan simpul ini dengan tali temali bermacam-macam diameter, sedikitnya satu kecelakaan fatal telah terjadi karena simpul ini terlepas. Sebagai alternatif, anda dapat gunakan simpul figure-8 ganda daripada simpul overhand, meskipun uji laboratorium milik Black Diamond di Salt lake City (AS) menunjukkan bahwa double overhand lebih kuat dari double figure-8 .


4. Double Fisherman’s Knot.


Adalah simpul tradisional untuk menyambung dua tali, tetapi kurang disenangi dibanding simpul - simpul di atas. Simpul ini mudah membuatnya  sulit dilepaskan setelah terbebani, terutama jika tali basah. Simpul ini baik saat digunakan untuk menyambung tali diameter kecil (prusik) misal spectra untuk anchor 





Mengenal simpul sebelum menggunakannya

Semua simpul ini kuat dan aman, tetapi tentu saja harus diikat dengan tepat. Pelajari mengikat simpul ini di dasar tebing atau di rumah sebelum anda menggunakannnya pada anchor rappel pada sebuah pemanjatan, hidup anda tergantung pada simpul yang diikat semestinya. Semua simpul ini , kecuali simpul overhand ganda, diback-up dengan simpul nelayan (fisherman knot) untuk pengamanan pada sisi lainnya.


Gunakan sebuah Stopper Knot

Jika anda melakukan rappelling, selalu buat stopper knot, yaitu; simpul nelayan ganda, simpul overhand, atau simpul delapan, di kedua ujung tali sehingga anda atau partner anda tak akan melewati bagian ujung tali saat rappelling.


Pilah salah satu dari keempat simpul

Sebaiknya pilih satu simpul yang anda suka dan hanya menggunakan ini setiap kali anda menyambung tali. Jika anda menggunakan satu simpul untuk rappelling, anda akan menjadi terbiasa dengannya dan anda tahu bagaimana membuatnya; tahu bagaimana cara melepaskannya; anda tahu berapa banyak sisa yang ditinggalkan masing-masing ujung untuk membuat fisherman knot sebagai back-up. Saya selalu gunakan Double Fisherman Knot, karena ini terasa seperti simpul teraman bagi saya. Saya senang merasakan aman secara total bila saya melakukan rappelling, terutama jika itu adalah suatu rappelling dari bagunan atau tebing sangat tinggi yang menakutkan. Cobalah pada tebing kecil dan putuskan simpul rappelling yang cocok untuk anda.

Baca lebih lanjut »

Rope System

Teknik pendakian (Climbing Techniques) termasuk hal utama dalam mengetahui sistem tali-temali yang umumnya digunakan dalam Rock Climbing, Mountaineering, dan Ice Climbing. Ada 3 sistem tali-temali yang akan dibahas di sini.

A. SINGLE ROPE SYSTEM

Banyak yang mengatakan Single Rope System merupakan sistem yang paling sering digunakan di dunia, bukan karena sistem ini yang terbaik, tetapi karena lebih cocok untuk rute straight climbing.

Single Rope System banyak digunakan pada rute tunggal dan multipitch di mana perlindungan dalam satu garis lurus. Karena itu, sistem tali ini sangat sering digunakan pada jalur olahraga, dimana baut ditempatkan dalam garis lurus atau rute di mana perlindungan dapat ditempatkan dalam garis lurus. Jika perlindungan itu tidak dalam garis lurus, tetapi misalnya memiliki beberapa pola yang berliku-liku, maka akan terjadi "rope drag" ketika berjalan melalui Quickdraws / Runners / extenders yang akan menimbulkan gesekan pada tali . Gesekan ini dapat menimbulkan jatuh pada saat perlindungan sedang dicabut, sehingga sistem ini tidak aman lagi. Rope drag dalam Single Rope System dapat diminimalkan dengan menggunakan extenders lagi karena akan membuat baris "straighter".

Bila menggunakan Single Rope System, perlu diketahui bahwa hanya dapat mencapai maksimum abseil dari setengah panjang tali. Jadi jika Anda menggunakan tali 60 meter dengan sistem tali tunggal, maka anda hanya mendapatkan abseil 30 meter.

Semua produsen tali diwajibkan oleh UIAA (Union Internationale des Associations d'Alpinisme) untuk menunjukkan jika tali dapat digunakan untuk Single Rope System, Double Rope System, atau Sistem Twin Rope. Sebagai aturan praktis, tali dengan ketebalan 10/11 mm adalah tali tunggal. Menggunakan Single Rope System lebih ekonomis dibandingkan dengan Double atau Twin Rope System.

B. DOUBLE ROPE SYSTEM

Double Rope System ini juga sering digunakan, mungkin karena sistem ini lebih fleksibel daripada Single Rope System. Dengan Double Rope System, kita dapat mengurangi atau memotong sekaligus rope drag. Ini merupakan keuntungan besar karena kontribusi terhadap keamanan dari sistem ini.

Double Rope System sering digunakan dalam Tradisional Rock Climbing, Mountaineering, dan Ice Climbing, praktis dan beban dapat dibagi sama antara dua orang. Setelah dua tali ganda yang diikat bersama-sama, maka kita dapat abseil penuh panjang tali yang bertentangan dengan setengah panjang tali dalam Single Rope System dengan ukuran nominal antara 8 - 9 mm lebih aman dan lebih tahan lama.

C. TWIN ROPE SYSTEM

Sistem ini jarang digunakan, tetapi untuk multi-pitch rute sangat membantu. Dengan Twin Rope System, satu-dua tali kembar dalam Single Rope System. Hal ini berarti dua tali kembar akan lebih baik melalui setiap titik perlindungan, mungkin ada satu tali sebagai tali penarik dalam Single Rope System.

Seperti di Double Rope System, panjang penuh tali abseil dapat dimungkinkan oleh dua Tying kembar tali bersama. Tali kembar biasanya antara 7-8 mm, dibandingkan dengan Single Rope System, Double Rope System lebih aman dan lebih tahan lama.
Baca lebih lanjut »

Mengenal Goa

Secara umum teknik penelusuran Goa tidak lain halnya dengan teknik Rock Climbing, hanya ruang dan medan serta penambahan beberapa personal equipment yang dibutuhkan. Goa dapat dibagi menjadi dua macam karakteristik yaitu ; horizontal cave dan vertical cave

Dikatakan horizontal cave apabila membentuk lorong memanjang secara horizontal, dapat berupa lorong sungai bawah tanah maupun lorong yang kering. Goa horizontal memiliki medan yang bervariasi, kadang ada medan yang berair yang biasanya berfungsi juga sebagai sungai bawah tanah yang berlumpur. Secara keseluruhan teknik penelusuran goa horizontal relatif lebih mudah dan tidak memerlukan banyak peralatan seperti pada penelusuran goa vertikal.

Sedangkan vertical cave yaitu goa yang mempunyai bentukan lorong relatif vertikal (tegak lurus terhadap bidang horizontal). Masing-masing bentukan lorong goa tersebut memiliki karakteristik tersendiri sehingga teknik dan manajemen serta kelengkapan personal equipment penelusurannya pun berbeda.

Standard Personal Equipment yang diperlukan antara lain :

Head set
Helm ini termasuk helm, head lamp / senter, lampu boom yang digunakan dalam penelusuran goa sebaiknya memiliki lapisan luar yang kokoh, dan memiliki shock resistance yang baik di bagian dalamnya, yang dapat dibuat dari webbing yang dianyam atau jaring-jaring. Perhatikan telinga sebaiknya tetap terbuka (jangan tertutup).

Overall / Wearpack
Disarankan berlengan panjang, tahan air dan cepat kering, untuk caving dikenal 2 jenis yaitu : oversuit dan undersuit. Oversuit berfungsi memberikan perlindungan pada kulit terhadap gesekan, gigitan binatang yang hidup dalam goa saat penelusuran goa ex : oversuit adalah Sud dan Styx, sedangkan undersuit lebih berfungsi untuk menjaga panas tubuh selain perlindungan terhadap bakteri ex : undersuit adalah Clima dan Burystretch.

Caving pack sack
Merupakan personal bag yang digunakan untuk mengepak perlengkapan dan peralatan, bahan makanan dan equipment lainnya..

Safety boot / gumboots
Perhatikan sepatu yang digunakan untuk faktor keamanan dan kenyamanan, ini sangat mempengaruhi karena kaki dapat mempengaruhi gerak aktifitas kita dalam penelusuran. Perioritas bahan yang diutamakan terbuat dari karet.

Peralatan tersebut merupakan peralatan minimal pribadi yang harus dimiliki oleh tiap penelusur goa horizontal. Untuk medan-medan tertentu saja harus dilengkapi dengan beberapa peralatan yang menunjang kegiatan penelusuran, yang paling utama adalah safety dan comfortable

Baca lebih lanjut »

Teknik Penelusuran Goa

Secara umum teknik penelusuran Goa tidak lain halnya dengan penggabungan teknik Rock Climbing, Mountaineering, hanya ruang dan medan serta penambahan beberapa personal equipment yang dibutuhkan lebih dikhususkan. Goa dapat dibagi menjadi dua macam karakteristik yaitu ; horizontal cave dan vertical cave.

Goa merupakan lubang dalam perut bumi, tebing serta celah lorong dalam permukaan air dengan berbagai macam karakteristik rupa dan isinya. Ada goa yang relatif kering, berlumpur, juga ada yang berair.

Kondisi goa berlumpur seringkali kita jumpai. Goa dengan lorong yang berlumpur sebenarnya tidak akan menjadi masalah bagi seorang penelusur, namun bila ketebalan lumpur mencapai ketinggian tertentu misalnya sampai lutut maka dibutuhkan teknik khusus agar kita dapat mencapai titik tertentu. Bila kita memaksa menelusurinya dengan cara berjalan seperti biasa akan kesulitan dan banyak menguras tenaga. Dalam kondisi seperti itu sebaiknya kita bergerak dengan posisi seperti berenang di kolam renang. Dengan cara seperti ini akan lebih mudah bergerak dan menghemat tenaga.

Kondisi goa berair akan sangat beresiko terutama bila goa tersebut belum pernah ditelusuri sehingga kita tidak mengetahui kedalaman air dan kondisi di bawah permukaan air, untuk itu kita memerlukan fasilitas pendukung dan mengetahui prosedurnya. Penelusur goa berair dianjurkan memiliki kemampuan individu yang tinggi. Teknik yang sangat dibutuhkan dalam penelusuran lorong berair adalah kemampuan berenang dan menyelam. Namun berenang dalam goa tidak seperti berenang dalam kolam renang, karena kondisi lorong yang terbatas, gelap dan tetap mengenakan pakaian lengkap.

Dalam kondisi yang lebih khusus, seperti : Goa berair dengan lorong panjang, diperlukan peralatan tambahan seperti pelampung atau perahu karet. Goa berair dengan sungai bawah tanah yang deras, diperlukan kesiapan mental penelusur dan lebih berhati-hati. Selain itu untuk menelusuri sungai bawah tanah sebaiknya kita berjalan berlawanan arah dengan arah arus (up-stream) jangan searah dengan arus (down-stream), karena apabila kita terpeleset atau tenggelam diharapkan akan kembali ke titik semula sehingga tidak menjauh atau bahkan hilang. Bila kita terpaksa berjalan down-stream, maka nasehat terbaik adalah tingkatkanlah kewaspadaan, dan berhati-hatilah dalam berjalan.


Sump dan Siphon, adalah lorong dalam goa atau zona depresi dalam goa yang seluruhnya terendam air. Kondisi ini sangat berbahaya, biasanya para penelusur goa akan berhenti setelah bertemu dengan sump atau siphon. Untuk menelusurinya diperlukan cave diving yang beresiko tinggi. Cave diving memiliki prosentase kematian 75% tewas sehingga sebaiknya kita lebih hati-hati dan tidak perlu meneruskan bila tidak didukung dengan peralatan yang memadai dan standart safety procedure. “ So please don’t try this at Cave, VERY DANGEROUS ”.

Goa dengan lorong hampir seluruhnya terendam air dan hanya ada sedikit yang tersisa, untuk melewatinya kita harus melakukan ducking (dengan kepala menengadah). Kadang-kadang kita harus melepas helm untuk menambah ruang gerak kepala. Dalam kondisi tertentu, kita harus melakukan ducking dengan jonggok, bahkan dengan berbaring atau merangkak apabila badan tidak dapat masuk seluruhnya. Satu yang harus ditekankan disini adalah penelusur harus tetap memiliki visual area.

Pada kondisi medan goa tertentu seperti adanya air terjun ataupun lorong yang terletak diatas kita harus menggunakan teknik-teknik climbing dengan peralatan tambahan seperti pengaman sisip dan bor tebing untuk membuat lintasan. Untuk teknik-teknik free climbing dilakukan pada kondisi medan seperti :

1. Goa yang berbentuk celah dan menyempit pada bagian dasarnya.
2. Aliran air yang deras dan kita tidak mengetahui kedalamannya.
3. Sungai besar atau danau yang dalam.
4. Pemasangan rigging pada air terjun.
5. Melewati calcite floor atau oolith floor





Untuk melewati celah (turun atau naik) kita dapat menggunakan teknik chimneying atau bridging. Chimneying menggunakan kekuatan dorongan kedua kaki dan tulang belakang, untuk bergerak naik atau turun dilakukan dengan cara menggerakkan sambil mendorong kaki keluar dinding keatas dan ke bawah. Tulang belakang berfungsi sebagai tumpuan di dinding yang lain sedangkan tangan berfungsi untuk menjaga keseimbangan (lihat gambar).
Bridging menggunakan kekuatan tangan dan kaki, kaki untuk berpijak (menjadi tumpuan berat badan), mengangkat dan mencari pijakan sedangkan tangan berfungsi untuk menjaga keseimbangan (lihat gambar)
Traversing adalah teknik untuk merambat di dinding dengan arah relatif mendatar dan ke arah samping. Untuk menelusuri goa dengan dasar yang miring dengan sudut slope yang besar dapat digunakan teknik scrambling.
Baca lebih lanjut »

Tehnik Tangan dan Jari


Beberapa tehnik tangan yang sangat efektif buat memanjat. Diambil dari berbagai sumber, hanya yang paling favorit adalah langsung dari sesama pemanjat karena selain lebih jelas dan bisa langsung dipraktekan biasanya tehnik yang didapat dari rekan pemanjat tak terdapat di buku manapun.


Kendi atau Ember (Jug/ bucket):


Ada yang menyebutnya Thank-God hold (Pegangan yang diberkahi Tuhan) yaitu bagian batuan yang menonjol dan pas buat menggantungkan telapak tangan yang dibengkokan seperti pengait. Pegangan bentuk ini adalah idaman para pemanjat khususnya para pemula karena tidak membuat cape.. Yap, betul sekali! jika sudah dapet pegangan ini anda bisa istirahat sambil minum kopi dan ngerokok. hehehehe....



Tepi (Edge):


Hampir sama dengan krimper cuma permukaannya lebih luas jadinya lebih gampang untuk dipakai menggantung



Kantong (Pocket):


Digunakan pada lubang-lubang di permukaan tebing. Kalau permukaan tebing banyak lubang-lubangnya dari berbagai macam ukuran pasti seru untuk dipanjat.



Sloper (Sloper):


Satu jenis pegangan yang ditakuti dan sangat menantang yaitu permukaan pegangan tangan yang menonjol halus seperti kurva atau bukit tanpa ada fitur lainnya. Fitur (feature) yaitu lekukan atau benjolan kecil yang ada dipermukaan tebing.



Jepitan (Pinch):


Tonjolan, bisa besar atau kecil, dalam posisi vertikal. Kamu harus menjepitnya dengan jempol dan jari lainnya. Pegangan jepit ini perlu kekuatan jari/ tangan yang bagus



Latihah tehnik-tehnik di bawah ini sesering mungkin untuk menambah jurus-jurus gerak reflek kamu.
  • genggaman terbuka (open grip)
  • gaston/ doube gaston
  • pelukan tangan (hand wrap)
  • krimp (crimping)
  • kantong jari (pocket grip)
  • gantungan satu jari pada kantong (monodoigt)
  • jepitan jempol (thumb pinch)
  • tumpukan jempol untuk krimper (thumb stack)
  • gapaian lurus (straight on > reach up)
  • tangan kembar (matching)
  • gapaian menyilang (cross through)
  • gantungan dari bawah (undercling/undercuts)
  • tarikan samping (side pull)
  • cubit dan jepit (pinching: thumb/ finger)
  • kampus/ manjat tanpa kaki (campus)
  • kuncian siku (lock off)
  • tempelan/ dorongan telapak tangan (palming/ push down)
  • jari ditumpuk (stacked finger)
  • cengkraman cincin (ring grip)
  • genggaman vertikal (vertical grip)
  • pegangan dengan kuku (fingernail cling )
  • pelukan lengan (forearm wrap)
  • pelukan jempol (thumb wrap)
  • pelukan pergelangan tangan (wrist wrap)
  • pelukan jari kelingking (pinky wrap)
  • pertukaran/ gantian tangan (switching hands)
  • jari merayap (finger switch)
  • kuncian pasak (jamming) dan (camming)
  • kuncian tangan (hand jams)
  • kuncian kepalan tangan (fist jams)
  • palang tangan (arm bar)
  • sayap ayam (chicken wing)
  • tumpukan jari (finger stack)
  • tumpukan tangan (hand stack)
  • kuncian kupu-kupu (butterfly jams)

Mountaineering points

Baca lebih lanjut »

Trik pengaman multi pitch climbing

Salah satu dari pepatah pemanjat Alpin terbaik yaitu "Kecepatan adalah aman" nasihat berguna yang mengingatkan kita, semakin sedikit waktu kita habis pada jalur, semakin sedikit mungkin kita berlari dalam hujan badai, dalam kegelapan. Seperti halnya, bersenang-senang dan anda mempunyai kelebihan dalam hal yang tak diduga: tali yang terburai, jalur yang samar, atau lebih dari waktu yang diperkirakan. Tetapi suatu hal tentang memanjat dengan cepat itu adalah sesuatu yang tak perlu dalam hal memanjat ini lebih banyak tentang lakukan segalanya dengan efisien. Bila proses memanjat pada jalur multi-pitch, peralihan pengamanan sering menyita waktu lebih. Keberhasilannya adalah jka tim anda berada dalam sinkronisasi, dimana kedua pemanjat bekerja bersama untuk terus bergerak ke atas. Inilah trik untuk jalur ramping, ringan dan cepat, untuk pemanjatan multi-pitch climbing anda berikutnya:


Bawa sebuah Sling.

Sepatutnya setiap pemanjat membawa peralatan sendiri pada sling. bila anda merupakan pemanjat berikut, dengan hati-hati menempatkan kembali pengaman saat anda meng-clean jalur. kemudian pada saat di anchor, anda hanya perlu berhadapan dengan mendapatkan peralatan sisa dari leader sebelum mengatur pemberhentian. Tambahkan bonus: anda tidak harus berkompromi pada sling peralatan yang panjang dan gaya, penting jika anda berbeda perawakan. Tentu saja, seperti semua aturan baik, yang ini maksudnya menjadi patah. Jika anda menghitung maksimal anda, ini sering lebih efisien mencatolakan pengaman ke clip harness daripada ke menyusunnya dengan sebuah sistem.



Membuat sistematika.

Menyetujui sebuah sistem untuk pertukaran peralatan. sebagian orang meletakkan semua peralatan pada sebuah sling panjang, sementara lain lebih suka sedikit demi sedikit. Pilih sistem yang bekerja dan cocok dengannya. sementara anda menggunkan system ini, juga perbicangkan tentang bagaimana berhadapan dengan topo/peta pemanjatan - apakah anda mau mengganti ini kembali dan seterusnya? Bagaimanan seseorang menjaganya di keseluruhan waktu? - sebaik makanan dan air (katakan, ada di kantung kecil)







Berbagi dan berbagi sama.

Menukar alat dengan patner anda menghemat waktu dengan menghindari mengaitkan pemanjat kedua ke anchor. Trik ini bekerja baik jika anda mem-belay pemanjat kedua kamu dengan self-locking device (Reverso, ATC Guide, madlock, dan lainnya. ). bila pemanjat kedua mencapai titik berhenti, ikat tali rem dengan sebuah simpul overhand on a bight (cantolkan ini ke anchor point atau back up dengan carabiner jika anda mau) sementara ia menyusun kembali peralatan ke sling, raih alat belay-nya dan letakkan dia pada tali pemanjat yang ada pada loop pengaman pada harness anda. sekarang anda dapat memasang ulang alat belay asli pada anchor - tetapi berikan ini ke partner anda sebelum dia berhenti!







Diam adalah Emas.

Ini adalah mencoba bercakap-cakap pada titik henti, tetapi anda membakar waktu berharga memberikan serangan demi serangan hitungan crux yang anda tinggal buka kuncinya. Dapatkan gerakan: "simpan obrolan untuk turun" - atau nanti di palang.










Tumpukan semuanya.

Dengan hati-hati tumpukkan tali saat anda dibelay. ini terdengar jelas, tetapi kadang-kadang bila anda bergerak dengan cepat, anda berakhir sepeerti sesuatu kesibukan yang perlu perhatian lebih. jika anda harus menggantung harness anda, sebuah sling, atau kaki, buat mereka selama mungkin leluasa dan diangin-anginkan - lebih sedikit gulungan membuat ini lebih mudah menghindari kusut. Juga, pendekkan setiap urutan gulungan menghindari penamban loop saat anda memberikan keluluasan pergerakan pada pitch selanjutnya. Tergantung dari ukuran penumpukan, saya suka memendekkan setiap gulungan dengan 6 sampai 8 inchi - itu cukup panjang hingga setiap loop secara mudah dikenali.











Bubuhi.

Diperlukan dua tali untuk turun? satu solusinya adalah memanjat dengan twins atau double rope, tetapi jika anda tidak menggunakannya, mereka dapat diperlukan dengan sedikit usaha. Sebuah alternatifnya adalah punya jejak leader sebuah tali tagline tipis (7.5 sampai sekitar 8mm). sekali dia berhenti, dia menarik yang tagline yang tersisa sebelum dia menggulung pada jalur leading. Dengan cara ini, jika tagline terurai, yang kedua dapat digunakan. Ditambah, jika leader memerlukan beberapa peralatan atau ransel peralatan, tali kedua dapat dikaitkan ke tagline untuk mempermudah proses hauling.








Aturan Lima Menit.

Trik ini adalah trik dari Big Wall Climbing. Pada pitch aid climbing yang panjang, leader akan berteriak "lima menit! " bila dia kurang dari 10 menit menuju titik belaying. Ini membiarkan belayer beralih ke cara kedua – memakai sepatu kembali, mengkemas beberapa makanan atau air, dan lain-lain. Meskipun biasanya tak perlu berteriak "lima menit! " pada pitch yang bebas dan lebih pendek bila leader sudah kelihatan, belayer harus mengarahkan segalanya sebelum leader mencapai perhentian berikut (sementara terus waspada, tentu saja).




Mountaineering points
Baca lebih lanjut »

Memanjat Celah

Memanjat celah merupakan sebagian pertanyaan besar dari keahlian panjat. pemula sering kali punya masalah dengan ini, karena masing-masing lebarnya celah memerlukan teknik sendiri dan oleh karenanya ini menjadi kompleks dan menantang.  Adalah penting tidak hanya pada apa yang anda perbuat dengan tangan dan bagaimana cara menyusupkan/menyisipkan tubuh (jam), tetapi khususnya pada celah lebih lebar, penting sekali apa yang akan dilakukan dengan kaki. Juga penting memanjat sebuah celah dengan cara tenang dan menghemat tenaga dan menggunakan semua posisi istirahat, yang ditawarkan celah.  Satu ketentuan dasar untuk jamming bahwa kontak permukaan tebing pada kulit seharusnya akan sebesar kemungkinan menjaga tekanan dan sakit dan resiko luka sekecil apapun. ketentuan dasar lainnya bahwa bagian tubuh yang disisipkan itu jangan pernah dipindahkan di bawah tekanan (resiko terluka) jika ; misal posisi tangan dalam celah perlu digantikan, lalu beban pertama harus dibebaskan dengan sepenuhnya. Lalu tangan bisa diletakkan kembali, setelah itu bisa menggantungkan beban tubuh pada tangan lagi.

Perbedaan Celah Berasosiasi dengan Tehnik Memanjat.
Finger crak: celah yang hanya dapat disisipkan dengan jari tangan. Bahkan celah-celah yang dangkal dapat dipanjat bebas dengan agak susah dan mungkin hanya berguna bagi meletakkan lutut padanya. Finger crak sangat sulit dipanjat saat mereka hampir menawarkan tidak ada tempat berpijak.

Dibawah ini beberapa tehnik fingerjam dan tehnik pengunciannnya.



bomber finger --- ratly finger






ratchet --- cross thumb-up







Tehnik Penguncian

Narrow hand crack: diantara finger crack dan hand crack, sangat tak enak dipanjat. Penyisipan anggota tubuh hanya akan mungkin jika anda berusaha memperoleh daya pengungkit diantara jari dan jempol, yang punya tenaga komstif yang besar.


Hand crack: Celah, yang hanya bisa disisipi dengan tangan. Menyisip dengan tangan (hand jamming) dilakukan pada area relatif besar dari kontak antara kulit dan tebing dan oleh karena itu celah ini sungguh mudah dipanjat.

Ukuran celah terbaik adalah dimana tangan bisa kita sesuaikan padanya; ini juga ukuran celah terbaik dalam hal kontak celah dengan kulit dan sedikit membutuhkan tenaga untuk memanjatnya. Ukuran ini kadang-kadang juga disebut" saugend" (arti sesungguhnya diterjemahkan "tertelan" , karena tangan tertelan oleh celah dan anda tak perlu tenaga menahannya.



Untuk gerakan ada berbagai kemungkinan:
Jika celahnya simetris dan lurus ke atas, susun satu tangan dengan yang lainnya, jempol ke arah atas. Ini juga cara paling cepat untuk terus bergerak
Jika celah dalam posisi miring, pada sebuah sudut atau penyisipan lebih buruk, ini dapat dipanjat dengan tangan kanan atau tangan kiri. Memanjat celah dengan tangan kanan berarti disini tangan kiri ada di atas, jempol di bawah, dan tangan kanan selalu mengikuti, dengan posis jempol atas.
kaki selalu berubah. Untuk berdiri aman, kaki dimasukkan dengan tegak lurus ke celah dan kemudian agak diputar.


Hand crak ini dipanjat dengan tangan-kanan,
yang berarti bahwa tangan kanan selalu
di bawah tangan kiri, jempol tangan kiri
selalu menunjuk kebawah dan jempol tangan
kanan selalu menunjuk atas.


kaki pada sebuah hand crak. kaki diputar
dengan tegak lurus,kemudian disisipkan ke
dalam celah dan kemudian dibelitkan


Broad Hand: lebarnya diantara hand crackdan fist crack.. Butuh sedikit banyak kekuatan dan kurang nyaman daripada hand crack, area yang lebih kecil untuk kontak kulit dan tebing. tetapi ukuran celah bisa saja ini dipanjat dengan cepat.

Fist crack: sebuah celah yang lebarnya dimana sesuai dengan kepalan tangan dalam posisi horisontal. Jajaran celah untuk menyisipkan kepalan ini sangat kecil. Memanjat sebuah fist crack retak butuh bayak waktu daripada memanjat hand crack, karena ini adalah selalu perlu mencari tempat menyisip yang baik pada celah.

berdiri di retak tinju. menghindari bahwa
kaki terpeleset, usahakan memberi tenaga
tertentu di kaki

Arm crack: lebar celah, sekedar sedikit luas untuk fist jam, juga disebut" klapperfaust" . Sangat tak enak, jika bukan saja lutut sesuai, dan sangat sulit jika ini celah menggantung. Ukuran celah ini memerlukan khususnya sebuah teknik terlatih yang baik, tetapi bisa saja ini dipanjat dengan sungguh luwes.

Double hand: untuk sebuah hand jam ganda tangan diposisikan bersilangan, bagian belakang tangan diletakkan bersama dan telapak tangan digunakan untuk jamming (disisipkan). Persoalan paling penting pada teknik ini adalah menyisipkannya secara tepat dengan lutut secara bersamaan; sebagaimana celah double hand ini perlu mengeluarkan kedua tangan pada waktu yang sama. jika celah agak lebih luas, juga bisa pula menggunakan hand-fist jam.


Double fist jam merupakan kemungkina terutama, tetapi area penggunaanya serupa dan oleh karena itu ini jarang digunakan

Double hand jam. Cara sisip ini juga memerlukan teknik baik untuk kaki dan lutut, karena perlu mengeluarkan kedua tangan pada waktu yang sama.



Menyisipkan lutut (knee jamming) baik menciptakan posisi istirahat dan prasyarat untuk double hand jamming



Scissors - "schere" : untuk teknik ini kedua tangan disilangkan dan digunakan sebagai pengungkit. Daya pengungkit dikendalikan oleh posisi bahu, mengganti mereka dari posisi vertikal ke horisontal. Untuk teknik gunting ini tidak perlu jamming dengan lutut, tetapi kaki harus berdiri sungguh dengan sempurna sebagaimana efek jamming karena buruk injakan atau akan mengakibatkan jatuh.
Dengan pengalaman pada teknik ini, mungkin prosenya berjalan lebih cepat; pemula cenderung terlalu banyak membuang tenaga karena takut dan menyelesaikannya dengan sia-sia.


Half-narrow crack: celah half-narrow dicirikan oleh fakta bahwa hand-fist jamming tidak lagi bekerja dan juga lutut sedikit punya ruangan gerak pada celah. Celah half-narrow baiknya dipanjat dengan teknik klasik schulterris "offwidth". Disini satu lengan menekan celah, tangan lain menarik di tepi celah. Pada waktu yang sama, satu usaha memperoleh satu lutut setinggi mungkin dalam celah. Kaki lainnya (yang ada di luar) yang diam selalu ditegangkan, berdiri dengan tumit depan jalan merupakan gambaran setelahnya.  


teknik kaki offwidth. baik berdiri dengan tumit depan
adalah penting sekali. Untuk berhasil adalah selalu
meletakkan tenaga pada kaki dengan baik


Ciri pemula yang salah: lutut kiri terlalu
rendah, tidak ada tekanan di kaki, dan
kaki kanan tak berguna mencari-cari
pijakan kosong pada dinding rata


Dibawah ini beberapa tehnik penempatan kaki pada celah.





Baca lebih lanjut »